Tes untuk menguji seseorang sebagai pemimpin yang hebat 6 min read
Harvard Business Review membuat daftar 7 pertanyaan yang akan menguji apakah seseorang akan jadi CEO yang hebat atau tidak.
ini berasal dari riset yang dilakukan pada perusahaan paling sukses mulai dari Microsoft sampai Shopify, terhadap CEO dan eksekutif kunci mereka.
kalau seseorang bisa menangani tantangan ini dengan baik, maka ia bisa dianggap melakukan pekerjaan yang baik sebagai CEO.

Daftar
ini adalah daftamya:
- bisakah ia mengembangkan rencana sederhana untuk strateginya?
- bisakah ia sungguh-sungguh mewujudkan budaya dan membuatnya berarti?
- bisakah ia membangun team yang sebenarnya?
- bisakah ia memimpin transformasi?
- bisakah ia sungguh-sungguh mendengarkan?
- bisakah ia menangani krisis?
- bisakah ia menguasai permainan dalam kepemimpinan (inner game of leadership)?
mari kita bahas satu per satu.
1. bisakah anda mengembangkan rencana sederhana untuk strateginya?
kekeliruan umum adalah penggunaan rencana yang terlalu rumit, sehingga sulit dikomunikasikan ke tim
pemimpin yang efektif mampu meringkas strategi mereka dalam istilah yang sederhana dan jelas, sehingga tim dapat memahaminya dan mengeksekusinya dengan baik.
- fokus pada hasil, bukan hanya prioritas:
tentukan “apa yang perlu kita kerjakan”, bukan sekadar “apa yang ingin kita capai.” - terus edit secara tegas dan selektif:
ciptakan visi yang dapat dipahami oleh semua orang. - tetapkan standar tinggi:
apakah anda benar-benar menargetkan sesuatu yang besar, atau justru bermain aman?
banyak pemimpin kesulitan menjawab pertanyaan “apa strategi kita?” secara karena mereka terlalu tinggi (high level) atau terlalu detail.
menyederhanakan hal yang rumit adalah kekuatan superpower dari seorang pemimpin.
2. bisakah anda sungguh-sungguh mewujudkan budaya dan membuatnya berarti?
budaya yang kuat menyelaraskan nilai-nilai dan tujuan organisasi, mendorong keterlibatan dan kinerja
apakah anda benar-benar walk the talk?
bisakah anda menciptakan budaya dengan kinerja tinggi dan kepercayaan tinggi?
- budaya adalah tanggung jawab CEO dan pimpinan senior.
tentukan, jadikan teladan, tegakkan, dan evaluasi budaya secara konsisten. - bangun budaya kerja yang positif dan produktif:
kinerja tinggi berawal dari tingkat kepercayaan yang kuat. - jaga budaya tersebut:
singkirkan individu yang tidak sesuai budaya (cultural misfits) dan “pencapai toksik” (toxic overachievers atau brilliant jerk).
membangun kultur itu berantakan (messy) dan menyebalkan;
tetapi ini adalah kewajiban penting kepemimpinan.
penting untuk bisa konsisten dalam tindakan
(apa yang dikatakan dan apa yang dilakukan)
agar budaya tak jadi sekadar kata hampa.
3. bisakah anda membangun team yang sebenarnya?
CEO harus mampu membangun dan memotivasi tim berkinerja tinggi untuk menjalankan visinya.
seperti apa bentuk kesuksesan bagi team secara utuh?
(dibandingkan dengan kesuksesan bagi setiap anggota individu yang menghasilkannya sendiri-sendiri.)
- tentukan tujuan tim secara keseluruhan:
pekerjaan yang bermakna tercipta ketika tim menciptakan sesuatu yang lebih besar daripada kontribusi individu. - pastikan orang yang tepat berada di dalam tim:
jangan mentoleransi kinerja yang di bawah standar. - jadilah pelatih (coach):
rancang ulang bagaimana tim bekerja bersama.
team harus bekerja dari timur-ke-barat dulu (bekerja sama) semaksimal mungkin, sebelum ke utara yaitu meng-escalate (mengangkatnya) ke perhatian dari pemimpin untuk membantu mencarikan solusi dan menyelesaikannya.
coba sederhanakan strategi ke dalam 4 buah pernyataan mendasar yang bisa dipahami oleh team.
4. bisakah anda memimpin transformasi?
status quo sangat kuat, dan sering kali menjadi musuh utama perubahan. dan ini harus dihadapi terus menerus, bukan hanya satu kali saja.
pemimpin harus bisa menjelaskan “kasus yang tak terbantahkan” untuk perubahan, alasan absolut mengapa perubahan tersebut diperlukan.
- tradisi harus terus dipertanyakan:
bagaimana kita menafsirkan DNA perusahaan kita hari ini? - komunikasikan secara transparan dan sering:
kurangi ketidakpastian dengan memberikan informasi yang jelas. - bangkitkan semangat para penggerak utama:
perubahan hanya terjadi ketika orang-orang kunci menyetujui dan mendukung perubahan tersebut.
transformasi itu melibatkan keseimbangan dari menjaga supaya operasional terus berjalan, sembari menyiapkan masa depan. keduanya harus sama-sama berjalan, tidak ada satupun yang boleh diabaikan.
ketahui siapa yang bisa menjadi sekutu dalam perubahan,
tegaskan hal apa saja yang tidak akan berubah,
dorong dan tantang team anda dan yang lainnya,
tetaplah transparan dan komunikasikan,
pastikan komitmen juga dilakukan Oleh CEO dan kepemimpinan teratas,
dan akuilah bahwa akan ada beberapa hal yang masih belum bisa dipastikan hasilnya (uncertainty).
5. bisakah anda sungguh-sungguh mendengarkan?
satu karakteristik kunci dari setiap perusahaan yang berkinerja rendah, adalah:
CEO-nya telah membentengi dirinya sendiri dari hal-hal yang skeptis.
sinyal bahaya sering kali sangat halus, dan kabar buruk biasanya datang terlambat.
- pahami sistem tempat anda beroperasi:
ketahui bagaimana satu perubahan dapat memengaruhi bagian lainnya. - bangun budaya feedback 360:
pastikan orang mendapat apresiasi ketika mereka berani mengkritik anda secara terbuka. - dengarkan secara aktif dan waspada:
tugas anda adalah memperoleh informasi yang relevan, bukan hanya menunggu laporan datang.
kalau anda belum menciptakan budaya dimana orang bisa bebas menantang anda sebagai seorang pemimpin, maka anda berada di tempat yang sangat berbahaya, karena anda akan punya blindspot.
gunakan WAIT dalam percakapan: “Why Am I Talking?”
6. bisakah anda menangani krisis?
ketika bencana atau masalah tak terduga terjadi, CEO yang sukses harus mampu memimpin secara efektif, membuat keputusan sulit dengan cepat dan tepat.
CEO harus lebih tampil lebih dari biasanya di saat krisis, karena ia perlu menetapkan tone/nada melalui kata-kata mereka, perbuatan, dan bahasa tubuh.
- tunjukkan diri dan jadilah manusiawi:
komunikasikan secara luas, atasi akar masalah, tetap tenang, dan tunjukkan kepercayaan diri. - manfaatkan momentum krisis: jangan menyia-nyiakan krisis yang ada — gunakan urgensi untuk melakukan tindakan yang diperlukan.
- bayangkan kembali organisasi anda:
jika anda memulai perusahaan ini dari nol hari ini, bagaimana anda akan merancangnya?
ketika ada dalam krisis, anda perlu membayangkan ulang seperti apa perusahaannya kalau anda memulainya sekarang, berdasarkan apa yang anda anggap sebagai “normal yang baru” setelah krisis berakhir.
kesalahan terburuk yang dilakukan pemimpin di saat krisis adalah, mereka pergi melakukan lebih dari apa yang mereka sungguh-sungguh ketahui.
dalam sebuah krisis, inilah hal yang perlu anda lakukan:
- ketahui faktanya
- bertindaklah cepat
- komunikasikan seluas-luasnya
- perbaiki akar masalahya
- tetap tenang dan tampilkan kepercayaan diri
7. bisakah anda menguasai permainan dalam kepemimpinan (inner game of leadership)?
CEO yang sukses mampu mengelola tantangan psikologis kepemimpinan, seperti:
keraguan diri, kesepian, dan tekanan terus-menerus untuk berprestasi.
- terima ambiguitas:
anda harus bisa menjadi percaya diri sekaligus rendah hati, penuh empati namun juga tegas, optimistis namun tetap realistis. - cari pemahaman yang lebih dalam tentang diri sendiri:
gunakan coaching untuk mengembangkan kesadaran diri yang berakar pada pemahaman diri. - isi ulang energi anda:
belajarlah membuat diri anda “dapat digantikan” dan gunakan waktu jeda untuk mendapatkan perspektif baru.
CEO yang hebat punya rasa ketenangan batin, sebuah kesadaran diri yang mengatakan: “aku memahami siapa diriku.”
seorang pemimpin akan perlu hidup di 2 dunia yang berbeda:
- percaya diri DAN rendah hati
- mendesak (urgent) DAN punya kesabaran
- punya compassion (belas kasih) DAN juga tuntutan
- optimis DAN realistis
- membaca cuacanya DAN menentukan cuacanya
- menciptakan kebebasan DAN struktur
recharge diri:
anda perlu menyediakan waktu untuk aktivitas yang memberikan suatu rasa pembaharuan diri (self renewal) dan inspirasi, entah itu datangnya dari alam, seni, film, atau praktek spiritual.
bonus kutipan
“Saya akan bicara dengan mereka tentang apa yang bisa membuat mereka dipecat: jika Anda ingin dipecat, inilah yang perlu Anda lakukan: pertama, berbohong, menipu, atau mencuri.
Namun, hal lain yang akan membuat Anda dipecat adalah jika Anda memiliki masalah dan Anda menyimpannya sendiri. Masalah pasti akan terjadi, dan tugas saya adalah membantu Anda mengatasi masalah tersebut.
Yang saya pelajari adalah orang-orang yang paling bermasalah tidak menceritakan 100% masalahnya dan menyimpan beberapa fakta untuk diri mereka sendiri.
Mereka tidak memberi Anda gambaran lengkapnya, dan itu sangat mengkhawatirkan saya. Anda perlu memberi mereka izin untuk menyampaikan kabar buruk kepada Anda.”