pemimpin yang kurang kompeten 7 min read

hal apa yang dapat menunjukkan bahwa seseorang adalah pemimpin yang kurang kompeten?

kalau saya yang ditanya, saya akan menjawab hal ini: marah.

marah — sebuah luapan emosi, yang artinya anda tak dapat menguasai keadaan, atau tak dapat mencari jalan penyelesaian yang lebih baik.

kenapa anda bisa sampai tak dapat menguasai keadaan?

karena meskipun anda pemimpin, anda sebelumnya tak mempersiapkan dengan baik.
karena anda tak berpengalaman.
dan itu kesalahan anda.

saya akan beri beberapa contoh.

contoh pertama: sistem

beberapa tahun lalu istri saya memulai bisnis toko online.
staf pertama kami direkrut tanpa ada perjanjian yang jelas.

ada hari-hari tertentu di mana pesanan menjadi ramai, dan ada banyak paket yang harus di packing.

masalahnya

ternyata setelah diamat-amati, staf kami sering kali meminta ijin tidak masuk kerja di hari di mana pesanan ramai. itu membuat kami harus mengerjakan packingnya sendiri.

rasanya jengkel, ingin marah, tapi tidak bisa. karena ijin tidak masuk kerja adalah hak pekerja juga.

selain itu, staf awal kami juga tidak disiplin, terkadang telat masuk kerja.

hal apa yang dapat dipelajari? perbaiki sistem kerjasama dengan karyawan.

solusinya

dokumen perjanjian kerja saya buat menjadi 10 halaman.
kami punya staf-staf berikutnya, tapi masih melihat ada kelemahan di sistem.

saya buat perjanjian kerja menjadi 20 halaman.
semua hal ada batasan yang jelas, beserta konsekuensinya.

staf-staf berikutnya melihat bahwa meskipun usaha kami kecil, namun kami serius dalam manajemen bisnis.

hasilnya

semua staf menjadi disiplin, tepat waktu, punya rasa turut memiliki bisnis, dan menghormati kami. semua hasil pekerjaan mereka baik, sesuai kapasitas mereka masing-masing.

setelah itu hampir tak ada staf kami yang bekerja di bawah 5 tahun, dan kalaupun mereka mengundurkan diri selalu dalam keadaan yang baik dan hanya selalu karena alasan keluarga (menikah, harus jaga orang tua, dst).

dan tahukah anda:
sejak staf baru kami mulai bekerja hingga detik ini, kami tidak pernah marah ke staf kami.

dan mereka juga bekerja dengan gembira, bebas ngobrol, ketawa ketiwi, tapi tanggung jawab dan pekerjaan beres.

contoh ke-2: persiapan yang baik

salah satu investor pertama di bisnis saya dulu, bertahun-tahun yang lalu, adalah pemimpin rohani saya. saya sendiri merasa banyak berhutang budi ke dia, sehingga saya memberikan ia sebagian kepemilikan perusahaan secara cuma-cuma.

ia adalah seorang pebisnis yang memiliki karyawan di atas 100 orang.
dan satu ciri khas dia adalah, tidak pernah marah, dan tutur katanya lembut.
tipe orangnya suka mengamat-amati, menganalisa matang, barulah melakukan tindakan yang baik & presisi.

jadi kalau dia menghadapi masalah, dia selalu bisa menyelesaikannya dengan cantik, dengan damai, tanpa harus melewati proses perselisihan.

eksperimen kasus

ia sering melemparkan contoh studi kasus kepada saya: “kalau misalnya investormu berperilaku seperti ini, maka gimana caramu menanggapinya?”

pada intinya ia melontarkan suatu situasi dimana investor berperilaku seenaknya.

saya lupa apa jawaban saya, seingat saya berupa tindakan yang memberikan penegasan tetapi kemudian ia menanggapi jawaban saya:

“wah kalau sepertinya kalau yang dilakukan seperti itu kok kurang baik ya.

mungkin sebaiknya bisa melakukan seperti ini ini ini. tapi akan lebih baik lagi, supaya tak terjadi seperti itu: gimana kalau dipersiapkan di perjanjian lebih awal, ditulis gini gini gini.

nah kalau seperti ini jadinya kan bermain lebih cantik. bagaimana menurutmu?”

the art of influencing people

gaya bicara dia memang seakan tidak pernah memberikan instruksi secara langsung, melainkan ia selalu berbicara seolah-olah ia memberikan sebuah penawaran, tapi penawaran yang disodorkan tersebut mengandung benefit-benefit yang begitu menarik, begitu masuk akal, sehingga amat sulit untuk ditolak, sehingga sering kali orang mau tidak mau pada akhimya akan mengikuti penawarannya dia.

ia bisa mengubah jalan pikiran orang tanpa orang tersebut merasa disuruh.
karena itu saya tidak heran kalau ia menjadi pebisnis yang sukses, doing business the classy way.

dari banyak hasil diskusi (mungkin lebih mirip training) dengan dia, saya jadi belajar: bahwa persiapan yang baik itu perlu, supaya kita tak perlu marah / jengkel di belakang.

perjanjian detail

dari pengalaman saya yang seperti ini, saya belajar bahwa mengambil kontrol atas situasi lewat perjanjian yang detail itu sangat perlu.

ada pepatah: “good fence makes good neighbor”
pagar yang baik, menghasilkan tetangga yang baik.
tanpa pagar yang jelas, hasilnya adalah perselisihan, sengketa.

karena itu penting membuat batasan sedetail mungkin.

ketika anda terima investasi dari VC, investasi itu akan selalu disertai dengan dokumen perjanjian yang panjangnya puluhan, kalau tidak ratusan lembar. semua klausul perjanjian tersebut membuat VC tetap memiliki kontrol dengan pagar yang begitu lengkap — tanpa perlu marah.

karena itu bagi saya kalau seorang pebisnis mudah marah, ini menunjukkan bahwa:

  • ia tidak punya kontrol yang baik atas sekelilingnya; atau
  • ia tidak mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik.

contoh ke-3: kontrol

melanjutkan contoh ke-2, bayangkan saja anda memiliki seekor puppy (anak anjing).

anak anjing ini punya kesukaan lari ke luar rumah melewati pagar anda yang punya dan tidak mau mendengarkan anda untuk kembali meskipun anda memarahinya.
sampai anda berhasil menangkapnya, barulah ia mau kembali masuk ke dalam rumah

karena kebiasaan puppy milik anda, maka anda sebagai pemiliknya punya pilihan:

  1. mengejar, memarahi, dan menangkap si puppy setiap kali ia kabur dari pagar depan rumah
  2. mengikat si puppy dengan tali yang cukup panjang sehingga ia tidak terkekang, tapi tidak cukup panjang bagi ia melewati pagar rumah
  3. memperbaiki pagar supaya tidak ada ruang kosong yang cukup untuk dilewati puppy

opsi manapun yang anda pilih, semuanya itu baik kecuali yang nomor 1.
opsi nomor 1 berarti anda bertindak reaktif, tetapi opsi nomor 2 & 3 anda bertindak preventif.

karena mengapa juga anda harus capek-capek membiarkan masalah terjadi dan baru anda membereskannya dengan menguras waktu dan tenaga anda, berkali-kali?

kalau anda membiarkan diri anda marah-marah terus ke anak anjing anda (padahal ada solusi yang membuat segalanya beres tanpa anda perlu marah) — maka anda adalah pemilik anjing yang kurang kompeten.

contoh ke-4: kontrol atas emosi

pernahkah anda melihat pebisnis-pebisnis hebat, seperti Bill Gates, Steve Jobs, bahkan Elon Musk — pernahkah anda melihat mereka marah? bahkan ketika mereka berada di situasi dengan pertaruhan yang besar dan tensi yang tinggi.

kalau saya pribadi merasa kok belum pemah.

para pebisnis-pebisnis yang hebat tersebut bisa berdebat; berargumen; bahkan membalas suatu percakapan dengan nada yang keras.

tetapi satu hal yang tidak pemah dilanggar: mereka tidak pernah kehilangan kontrol atas emosi mereka.

jadi, kalau anda sebagai pebisnis sampai kehilangan kontrol atas emosi anda, saya pribadi merasa anda tidak akan pemah akan bisa sampai ke level pebisnis yang hebat di atas seperti yang saya utarakan sebelumnya.

kalau harus marah …

tapi ya, mungkin akan masih ada tipe-tipe pebisnis yang pembawaan karakternya emosional.

jadi kalaupun seseorang merasa tidak dapat menahan emosinya, dan ia merasa harus marah, maka ia boleh marah, tetapi dengan catatan bahwa ia harus marah:

  • kepada orang yang tepat;
  • dengan alasan yang tepat;
  • dengan kadar kemarahan yang tepat, jangan lebih dari yang seharusnya
  • dengan durasi yang sepantasnya, jangan berlarut-larut.
  • dengan cara yang baik,janganlah bertindak kejam.

itupun juga dengan memberi pengertian kepada pihak tersebut apa alasan yang menyebabkan anda sampai marah, dan bagaimana mereka bisa menjadi lebih baik.

be angry, but not rage.
never, never rage.

penutup

dalam bisnis, ada banyak hal yang bisa berjalan tidak sesuai dengan keinginan kita.
hal-hal yang sifatnya disebabkan oleh faktor eksternal, tentunya tidak bisa kita kontrol.
tapi hal-hal yang berasal dari internal, itu masih dalam kontrol kita.

dan sudah seharusnya kita melakukan pekerjaan rumah kita dengan baik atas hal-hal yang masih dapat kita kontrol.

kalau ada situasi yang berjalan tidak sesuai dengan keinginan kita, kita harus berpikir.

  • mengapa hal ini bisa sampai terjadi?
  • apa yang salah dari sistem?
  • apa yang perlu kita perbaiki supaya hal ini tidak terulang kembali?

karena kalau kita hanya sekedar marah, tapi kita tidak bertanya hal-hal tersebut di atas,
maka bisa dipastikan di kejadian berikutnya kita akan marah lagi.
dan itu artinya kita tidak belajar dari kesalahan kita.

karena kita tidak mau belajar.
karena kita tidak berpengalaman.
karena kita tidak mau mempersiapkannya dengan lebih baik.

marah artinya losing control.
losing control menunjukkan incompetence.
and that, will be your own fault.

hampir selalu akan ada opsi yang lebih baik daripada marah;
a better option to take your control back;
and be the master of your situation.

anda punya perspektif yang berbeda?



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *