2 Jenis Founder: Teknis & Bisnis 6 min read
ada founder teknis, dan ada founder bisnis.
keduanya sama pentingnya, dan seseorang bisa memulai startup dengan menjadi salah satu dari keduanya.
hampir semua startup IT dimulai dari sisi produk terlebih dahulu:
ada produk yang sudah berjalan, investor tertarik, dan invest.

startup yang dimulai dari sisi bisnis
bagaimanapun jika sebuah startup dimulai dari sisi bisnis dulu, apakah ini memungkinkan?
ternyata, bukan hanya mungkin, tapi ada cukup banyak startup terkenal yang dimulai dari sisi bisnis dulu.
beberapa contoh startup dan pendanaan awalnya:
- Asana · $10,2 juta dalam 7 bulan tanpa produk
- Zillow · $32juta sebelum beta launch
- Palantir · didanai Thiel
- SpaceX · didanai Musk dan investor
- Stripe · dimulai dari ide, $2 juta
- Dropbox · tanpa real product $1,2juta
- Magic Leap · $592 juta hanya dengan visi
- Robinhood · $56,2 juta hanya dari ide
- Lore · $13,1 juta dari konsep edtech
- Jet .com · $140 juta menggunakan presentasi financial model “lowest price guarantee”
Founder startup yang memulai dari sisi bisnis
bagaimana dengan Foundernya?
beberapa Founder yang memulai dari sisi bisnis yang terkenal:
- Dustin Moskovitz · Asana
- Mark Lore · Jet.com
- Max Levchin · Affirm
- Peter Thiel · Palantir
- Drew Houston · Dropbox
- Brian Chesky · AirBnb
- Jeff Bezos · Amazon
- Jack Ma · Alibaba
- Travis Kalanick · Uber
- dan lain-lain
Founder tipe Teknis menggunakan kemampuan untuk menghasilkan produk yang hebat, dan menarik minat investor.
sebaliknya, Founder tipe Bisnis menggunakan kemampuannya untuk menghasilkan presentasi yang meyakinkan, kemampuan untuk mengartikulasikan (menyampaikan dengan lancar dan nyambung) konsep dan ide, dengan bahasa yang dapat dimengerti oleh investor.
Founder tipe Bisnis mengerti apa yang penting bagi investor, dan dapat bernegosiasi dengan baik dengan investor.
2 hal yang harus dibangun startup
hampir semua Founder tipe Bisnis tak punya skill untuk membangun produk
secara langsung, tetapi mereka adalah tipe yang punya wawasan luas, bisa
berbicara panjang lebar mengenai berbagai hal bisnis.
startup sejatinya memiliki 2 hal yang harus dibangun:
- produk
- [sistem] perusahaan itu sendiri
dan membangun perusahaan yang hebat, itu tidak lebih mudah daripada membangun Sisi produk. ada banyak keputusan bisnis yang harus diambil, dan masing-masing keputusan ada konsekuensinya.
Contoh
contoh paling gampang adalah soal WFH.
- apakah anda akan memperbolehkan sistem kerja remote?
memperbolehkan sistem remote akan bisa punya potensi akselerasi perusahaan, tetapi bonding antar individu team jadi lebih rendah, di mana hal ini bisa krusial untuk momen-momen krisis perusahaan.
diperbolehkan total, tidak boleh total, atau dengan ketentuan tertentu? ketentuan yang seperti apa? - apa hal yang jadi prioritas untuk dibangun dengan dana yang terbatas?
- apakah anda akan menerapkan budaya kerahasiaan seperti Apple, atau budaya transparansi seperti Stripe?
- bagaimana cara untuk mendorong team bisa punya budaya kerja yang bagus sehingga punya motivasi tinggi tanpa perlu harus diatur dengan perjanjian kerja yang rumit?
- bagaimana cara untuk menghasilkan loyalitas; mendorong team bekerja keras tanpa harus melanggar UU?
- apa 10 nilai terpenting yang akan jadi patokan dari setiap anggota team?
- berapa dan bagaimana sistem stock option untuk karyawan diberikan?
stock option akan diberikan ke karyawan eksekutif saja (yang mungkin menimbulkan iri hati), ataukah ke seluruh karyawan perusahaan (yang mungkin akan memberikan kompensasi lebih dari yang seharusnya, mengurangi jatah profit investor)? - bagaimana supaya founder bisa dapat kompensasi maksimal tapi investor tetap puas dan team tetap punya motivasi tinggi dan tidak merasa dirampok?
setiap masalah tersebut ada banyak cara yang berbeda untuk menjawabnya, dan disitulah seninya. saya percaya orang tidak dapat mengatakan peran Steve Jobs adalah lebih kecil daripada Steve Wozniak.
benar bahwa tanpa Woz tidak akan pernah ada Apple. tapi peran Jobs terbentang puluhan tahun lewat berbagai kebijakan dan keputusannya semasa Apple beroperasi, sedangkan peran Woz lebih tak terdengar seiring bertumbuhnya Apple menjadi raksasa.

replikasi
hal yang menarik adalah, seorang Founder Bisnis yang sudah punya pengalaman sukses di satu perusahaan, akan bisa relatif lebih mudah sukses di perusahaan berikutnya. lebih mudah bagi Jobs untuk mendirikan NeXT setelah ia diminta keluar dari Apple.
mayoritas dari keputusan-keputusan bisnis ini biasanya adalah berupa ketetapan, dan ketetapan ini akan tertuang dalam bentuk dokumen bisnis dengan berbagai klausulnya yang mendetail. untuk membangun 1 dokumen bisnis saja bisa membutuhkan waktu yang lama karena trial error berdasarkan kebutuhan lapangan, belum kebutuhan untuk compliance / kepatuhan dengan regulasi.
bagusnya, dokumen bisnis ini hanya perlu satu-dua kali dibangun, dan dapat dibawa ke perusahaan berikutnya, selama jenis perusahaannya masih sama-sama adalah startup. dokumen bisnis tak selalu sama antar perusahaan, tapi dengan mempunyai satu set dokumen bisnis ini akan bisa memudahkan untuk memulai perusahaan berikutnya.
memulai dari sisi bisnis
kembali lagi ke fase awal perusahaan. apakah mungkin membangun startup tanpa produk, alias dimulai dari Sisi bisnis dulu?
dari contoh yang sudah saya utarakan di atas, jawabannya adalah bisa.
bagi saya analogi membangun perusahaan tanpa produk itu sama seperti seseorang yang berjualan apartemen yang belum dibangun.
kalau di dunia real estate hal ini bisa dilakukan, maka di dunia startup pun hal ini juga bisa dilakukan. menjual sesuatu akan jadi lebih mudah kalau sudah ada wujudnya. tetapi ya, di situlah seninya. Founder Bisnis yang hebat akan bisa jualan apartemen yang belum bisa dibangun.
yang perlu dilakukan hanyalah mempelajari cara bagaimana mereka (penjual apartment di real estate) bisa melakukan hal tersebut. semua langkahnya tinggal di-breakdown ke hal terkecil, dan di reproduce (dibuat ulang).
kalau anda sukses melakukannya, anda akan bisa menjual banyak produk yang belum kelihatan wujudnya, dan anda mungkin akan menjadi apa yang disebut orang dengan “serial entrepreneur”.
tantangan Founder Teknis
Founder Teknis yang bisa membangun produk yang hebat, tapi kalau tidak punya kemampuan untuk meyakinkan investor, tidak tahu di mana mencari jaringan investor, tidak punya pondasi sistem perusahaan yang bagus ia juga akan sulit mendapatkan pendanaan, dan ini pada akhirnya juga akan menghambat pertumbuhan perusahaan.
karena itu penting bagi Founder Teknis untuk setidaknya ditemani oleh satu Founder Bisnis yang bagus.

Hacker Hustler Hipster
salah satu konsep umum di dunia startup beberapa tahun lalu, ada yang namanya Hacker (founder teknis) Hustler (founder bisnis) Hipster (founder lebih ke estetika/desain & budaya). menurut saya tipe Founder yang bisa memulai perusahaan adalah Hacker atau Hustler.
bagi saya pribadi, konsep Hipster itu yang paling omong kosong dan tidak penting. selain Hipster tidak dapat (atau sulit) memulai perusahaan, juga definisi Hipster bagi saya bisa dijadikan satu ke founder jenis Hustler. anda bisa mulai mendirikan perusahaan dengan modal produk, pitching/negosiasi, bahkan marketing (sales) — tapi hipster (?) yang lebih condong ke style, seni, sama sekali tidak esensial.
jadi dalam pandangan saya, hanya ada 2 jenis founder yang penting: Founder Teknis, atau Founder Bisnis.
Founder serba bisa
yang akan jadi lebih hebat adalah kalau si Founder bisa masuk sebagai kategori Founder Teknis dan sekaligus Founder Bisnis. contoh Founder yang termasuk dalam kategori ini adalah Zuck, Musk. mungkin juga Gates.
kalau anda kira-kira termasuk yang mana?