Demokrasi dalam Perusahaan 4 min read
sebetulnya ada sedikit kemiripan antara memimpin perusahaan dan memimpin sebuah negara. salah satu bentuk pemerintahan yang cukup banyak diadopsi oleh banyak negara di dunia adalah demokrasi.
Demokrasi murni
saya tidak sepenuhnya mendukung demokrasi murni.
karena demokrasi murni artinya setiap warga dari “organisasi” tersebut berhak menentukan jalannya organisasi.
kalau setiap buruh/pekerja pabrik diberi hak demokrasi untuk menentukan jalannya perusahaan, mungkin mereka akan meminta gaji lebih tinggi.
kalau orang kristen diberi hak demokrasi untuk menentukan jalannya kekristenan, mungkin mereka akan memilih untuk meniadakan perpuluhan.
kalau setiap warga negara diberi hak demokrasi untuk menentukan kebijakan negara, mereka mungkin akan meminta pajak lebih rendah.
kalau setiap warga negara dari negara yang mayoritas penduduknya menganut 1 agama, diberi hak demokrasi untuk menentukan kebijakan agama, mungkin para minoritas akan cenderung tersingkir.
you got the idea.

Keuntungan jangka pendek
murni demokrasi kurang baik bagi sebuah organisasi, karena hasilnya akan memberikan keuntungan jangka pendek, tapi merusak harmony & visi jangka panjang.
hal ini berlaku juga pada perusahaan, apabila setiap pemegang sahamnya memiliki hak suara untuk menentukan jalannya perusahaan. perusahaan akan cenderung didorong untuk membukukan profit jangka pendek, tanpa peduli profit jangka panjang.
ini bisa terjadi karena setiap pemegang saham bisa sewaktu-waktu jump off the ship, lompat dari perahu (meninggalkan perusahaan) — tidak seperti founder yang merupakan kapten kapal yang mau tidak mau harus stay lebih lama.
buruh yang diberi hak demokrasi juga akan menggunakan haknya untuk keuntungan jangka pendek, dan kalau hal itu menyebabkan kekacauan pada perusahaan, buruh tinggal pindah perusahaan.
jadi bisa disimpulkan: murni demokrasi? baaad!
Kalahnya otoritas
bertahun-tahun yang lalu aku pernah diberi kepercayaan untuk membuat & mengelola forum diskusi online (seperti forum kaskus gitu) untuk gerejaku.
jadi ya saya buat. dari sisi teknis tidak ada masalah.
banyak user baru bergabung. dan rata-rata memang dari jemaat gereja itu sendiri.
kemudian mereka mulai membikin postingan. mulai membahas pertanyaan-pertanyaan alkitab. user lain yang juga jemaat-jemaat berusia muda menanggapi. tetapi banyak tanggapan yang ngawur.
beberapa gembala mencoba menanggapi. tapi para gembala ini gaptek (ini terjadi di jaman yang namanya smartphone masih baru dirilis). akhirnya jawaban gembala tenggelam, dan diskusi jemaat lebih tumpang tindih, menguasai diskusi.
hasilnya yang terjadi adalah: kekacauan. banyak orang yang tidak memiliki kapasitasnya, tetapi mereka semuanya ingin didengar. orang yang berwenang bisa kalah melawan arus orang yang pemahamannya dangkal, tetapi jumlahnya lebih jauh banyak. akhirnya tidak lama forum online-nya ditutup.
tidak semua kerumunan massa itu vox populi vox dei. terkadang mereka hanyalah, lemmings — yang secara buta mengikuti kerumunan karena hal itu terasa lebih benar, dan seakan ada keamanan dalam kerumunan massa. jadi mungkin ada benarnya juga sebuah kutipan yang berkata: “do not underestimate the power of stupid in large groups.”


Authoritarian
Peter Thiel lebih menyukai gaya pemerintahan authoritarian. saya-pun demikian.
definisi authoritarian menurut google, adalah: “favoring or enforcing strict obedience to authority, especially that of the government, at the expense of personal freedom.“
saya lebih menyukai sistem demokrasi terpimpin ala Soekarno.
karena kebanyakan orang merasa tahu apa yang mereka inginkan, tetapi mayoritas cenderung menginkan apa yang ada di depan mata, kurang bisa berpikir panjang atas implikasinya. kurang bisa merencanakan jangka panjang.
efek dari pemikiran ini dalam konteks perusahaan adalah, saya kurang setuju apabila mayoritas pemegang saham diberi hak suara. lebih baik hanya ada sedikit pemegang saham yang diberi hak suara, tetapi mereka yang memang menguasai permasalahannya.
tetapi tetap aku merasa semakin sedikit shareholder yang memiliki hak suara sebetulnya akan bisa lebih baik bagi masa depan perusahaan. harus ada pembedaan antara orang yang menguasai bidangnya — yang akan memimpin perusahaan, dan orang yang hanya ingin mendapatkan kesejahteraan dari keberadaan perusahaan.
Peter Thiel mengatakan kalau perusahaan startup ingin bertumbuh jangka panjang melalui inovasi, maka kendali perusahaan akan lebih baik bila diserahkan pada Founder. banyak perusahaan yang dipimpin oleh Founder menghasilkan return yang lebih baik.
beberapa perusahaan sudah mengimplementasikan gaya pemerintahan authoritarian, seperti facebook, snapchat, dan google. banyak VC luar negri-pun berusaha menarik founder dengan mengatakan mereka founder-friendly dan mendukung gaya tata kelola perusahaan seperti ini.
sayangnya perusahaan indonesia jarang yang mengimplementasikan sistem authoritarian, pula regulasi yang ada kurang mendukung implementasinya. perusahaan indonesia lebih umum menerapkan sistem demokrasi murni, padahal dalam skenario startup, ini bukanlah pilihan yang terbaik.
