kepemimpinan pemikiran 3 min read

orang menggunakan media sosial untuk berbagai macam hal.
ada yang untuk berjualan, ada yang cari follower, ada yang ngejar personal branding (katanya).

kalau ada 1 ruang / kategori yang ingin saya asosiasikan dengan media sosial, itu adalah thought leadership. kepemimpinan pikiran.

I know, I know;
postingan saya juga belum mencapai level thought leadership yang baik.
I’m trying 😁

tingkatan kepemimpinan pikiran

saya rasa kepemimpinan pemikiran itu ada beberapa level, dari level tertinggi:

1. thought leader

pemikirannya original, dan keren.
contohnya adalah peter thiel dan elon musk.

berapa banyak hal baru yang anda pelajari ketika anda mendengarkan mereka berbicara?

apakah anda sudah mengerti konsep monopoli sebelum mendengarkan thiel, atau sudah mengerti tentang first principle sebelum mendengarkan musk?

2. thought leader in the making

mereka berusaha menghasilkan pemikiran-pemikiran original, tapi tidak selalu “wow” dan memukau orang.

atau mereka mungkin nge-repost hal-hal yang baru mereka baca dari thought leaders, dan mereka anggap mayoritas orang lain belum tahu, sehingga ketika orang lain membaca itu, mereka juga akan belajar hal yang dibagikan untuk pertama kalinya.

3. not a thought leader at all.

mereka bukan hanya tidak punya pemikiran original, tetapi mereka memposting sesuatu yang tidak original, sebetulnya sudah banyak diketahui oleh orang lain, biasanya untuk berjualan atau mencari follower.

untuk mencari follower itu postingan tidak perlu selalu original (tentu ada yang bagus, tapi ini tidak wajib). yang penting rajin ngeksis, ngerti konsep hook & copywriting. kadang postingan yang terbukti berhasil mendapatkan follower diulang-ulang terus.

sekedar membangun follower itu tidak sulit dan tidak harus original.

  • cukup nge-follow beberapa account yang bisa di-repost.
  • perhatikan postingan yang berhasil mendapatkan engagement tinggi.
  • simpan.
  • repost postingannya dengan kata-kata anda sendiri, 1-3 bulan setelahnya.
    orang sudah tidak akan ingat dengan postingan aslinya.
  • campur konten dari beberapa account yang anda follow.

beres.

hubungan dengan personal branding

personal branding yang baik, sejatinya berada pada level 2.

tapi realita-nya di lapangan, orang sering mengasosiasikan personal branding dengan difollow oleh banyak orang — ini sering dianggap sebagai indikator kesuksesan personal branding — sehingga akhirnya jatuh ke level 3.

saya pribadi tidak ingin jatuh ke kategori yang no 3.
i consider this is as the greatest sin in the thought-leadership space.

saya berusaha berada di nomor 2 — meskipun mungkin masih termasuk belum cukup bagus.
syukur-syukur suatu hari kelak bisa di nomor 1.

catatan untuk follower threads saya

anyway, buat follower threads saya:
anda pasti tahu bahwa mayoritas postingan saya hingga hari ini adalah repost dari postingan beberapa akun FB saya, yang sebelumnya private dan hanya untuk teman dekat saja, mayoritas dari tahun 2017-2024.

saya cuma ambil sebagan kecil yang masih relevan & bisa di-repost saja. itupun masih banyak posts yang unfiltered, dan bahasanya tidak profesional, padahal seharusnya bahasan gaya bahasa ke public & ke teman itu berbeda.

nah kini postingan lama saya sudah habis, jadi postingan saya berikutnya akan jadi postingan non-repost, yang saya ketik pada saat itu juga. ini akan menghabiskan banyak waktu (ga seperti sebelumnya yang tinggal repost), sehingga saya akan lebih jarang posting.

founder ada banyak sekali pekerjaan yang perlu diselesaikan.
media sosial, meskipun ada kegunaannya, tetapi tak sebanding dengan progress yang dihasilkan dari kemajuan startup yang dikerjakan. so I won’t be around in threads for too long in the future.

oh ya kalau mau baca postingan saya berdasarkan topik bisa klik link di bio, saya sudah berusaha golongkan postingan berdasarkan kategori (meski masih belum lengkap).



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *