Panggung 4 min read

sebuah tulisan dari seseorang dengan inisial PST, seseorang yang amat saya hormati.

menurut saya ini tulisan yang menarik, dan semoga masih berguna dan relevan bagi mereka yang membacanya.


Panggung adalah tempat seseorang menampilkan diri untuk dilihat dan didengar orang.

Panggung selalu lebih tinggi daripada yang lain.
Ini membuat yang berdiri di panggung selalu lebih kelihatan daripada orang lain.

Tidak hanya itu. Yang di panggung juga punya pengeras suara.
Dia lebih terdengar daripada orang lain. Jaman sekarang adalah jaman panggung.

Hampir setiap orang memiliki panggung.
Pertanyaannya adalah apakah orang mau memanfaatkan panggungnya atau tidak.

medsos

Panggung yang saya maksud itu namanya medsos.

Begitu anda punya HP, panggung sudah di tangan anda (bukan di bawah kaki anda).
Tinggal bikin akun medsos, rekam dan upload, anda jadi bintang, tampil di panggung medsos.

Nah, karena setiap orang punya panggung, maka panggung kehilangan kekuatannya.
Semua orang sekarang sama tinggi dan sama lantang.

adu lantang

Sekarang tergantung siapa yang lebih keras suaranya atau menonjol penampilannya.

Yang ngaco sekarang sama terlihat dan sama terdengar dengan yang benar.
Yang ngawur sekarang muncul bareng sama yang pintar.

Daaann… yang ngaco bin ngawur biasanya lebih berani tampil beda, lebih berani tampil vulgar daripada yang benar dan pintar.

berani > hati-hati

Jangan heran. Di panggung medsos ini, siapa yang lebih berani akan lebih didengar dan ditonton daripada yang hati-hati.

Yang benar dan pintar akan berpikir dulu sebelum bicara. Mereka terasa lamban dan telat mulu.

Yang ngaco dan ngawur boleh sembarang buka mulut tanpa mikir; malah kekuatan mereka justru ada di ucapan tanpa pikiran itu. Mereka dianggap sigap, tanggap dan cakap.

kontroversi & provokasi

Akhirnya, beberapa orang memilih jalan kontroversi dan provokasi.

Karena kalau tidak demikian, mereka tidak akan menonjol di panggung medsos.

Sebagian mengambil posisi sebagai tukang lempar batu. Kerjanya mencari kesalahan orang Iain, dari kesalahan yang benar ada sampai kesalahan yang diada-adakan.

Sebagian mengambil posisi sebagai pemain petasan. Kerjanya bikin rusuh dan heboh, dar der dor dari urusan penting sampai urusan sinting.

Sebagian lagi memilih menjadi preman. Kerjanya ngajak orang berantem, dari berantem urusan yang memang perlu untuk dipermasalahkan sampai urusan yang memalukan untuk diperjuangkan.

Muncullah youtuber dan selebgram yang dengan sengaja memilih topik kontroversial yang ditampilkan denganjudul yang memancing. Dengan sengaja mereka mendobrak konvensi dan melanggar tabu, mencari gara-gara, sebab hanya dengan cara itu orang mau memberikan waktu dan perhatian mereka.

alasannya

Ada satu sebab lain kenapa orang terus menerus berebut panggung.

Ada kebutuhan-kebutuhan tertentu dalam jiwa manusia yang berbeda dengan kebutuhan jasmani manusia. Baik kebutuhan jasmani maupun kebutuhan jiwa ini harus dipenuhi.

Salah satu kebutuhan jiwa adalah ingin disukai, ingin merasa berharga, ingin dianggap.
Semuanya itu sah saja selama tidak berlebihan atau menjadi obsesi seseorang.

masalahnya

Masalahnya sekarang, orang mencari ini semua dan mendapatkan pemenuhannya di panggung medsos.
Dengan satu syarat: mesti ada audiens atau followers atau subscribers.

Maka semua orang bertempur memperbanyak followers dan subscribers.
Dengan segala cara…terutama cara provokasi.

Dulu hanya orang tertentu yang bisa bicara dan dimuat di media.
Sekarang semua orang bisa bicara dan muncul di media, termasuk orang ‘gila’, orang ‘sakit’ dan orang-orangan (robot).

Orang-orang yang dulu pendapatnya hanya dipendam sendiri (karena berbagai sebab) sekarang bisa membagikannya di medsos.

Ketika ada yang me’like’ posting itu, apalagi membagikan posting itu, orang-orang ini merasa diri ‘eksis’ dan merasa diri hebat.

Mereka tambah berani dengan posting-posting provokatif yang memancing emosi.
Jadilah tsunami berita ngawur bahkan berita palsu, setengah palsu di panggung medsos.

media konvensional

Celakanya lagi, panggung tradisional berupa media arus utama seperti koran dan TV sekarangpun atau sebentar lagi, harus ikut bertarung dengan panggung medsos.

Dan mereka terkadang terseret untuk ikut main provokasi dan cari sensasi. Maka muncullah kursi kosong itu.

jaman edan

“Amenangi jaman edan, ewuh aya ing pambudi, melu edan nora tahan, yen tan milu anglakoni, boya kaduman melik, kaliren wakasanipun, dilalah kersa Allah, begja-begjaning kang lali, luwih begja kang eling Ian waspada”

Serat Kalatidha, Ronggowarsito.

“Hidup di jaman edan, alami pergulatan batin, ikut edan tidak tahan, tetapi kalau tidak ikut, tidak mendapat apapun, akhirnya akan kelaparan, namun kehendak Allah, seberuntung-beruntungnya orang yang lupa, masih lebih beruntung orang yang senantiasa ingat dan waspada.”



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *