Layak Berhasil 6 min read
ada banyak calon investor dan karyawan startup ketika mereka mendapatkan tawaran peluang untuk terlibat dalam startup itu diam-diam meragukan hal ini:
apakah startup benar-benar bisa berhasil dan menjadi super sukses?
keraguan di awal inilah yang sering kali membunuh startup sebelum dapat berkembang.
Biasa
mayoritas orang sudah terlalu sering dapat peluang yang biasa-biasa saja — juga hasilnya sering kali yang juga biasa-biasa saja.
mereka bekerja keras dalam berbagai peluang, tetapi hasilnya standar. mencoba hal baru, tetapi ga berdampak / dampaknya ga signifikan kecil. pengalaman masa lalu lebih sering menghasilkan “cukup” daripada “luar biasa”, sehingga potensi luar biasa dianggap sebagai ilusi.
ketika muncul peluang yang terlihat terlalu bagus, pengalaman masa lalu sudah bikin orang jadi skeptis duluan. ini membentuk pola pikir baru: kesuksesan ekstrem terasa tidak realistis — terasa tidak layak untuk dikejar.
banyak orang dulu menganggap bisnis ride-hailing mustahil karena masyarakat sudah terbiasa dengan ojek pangkalan, dan kebiasaan itu sulit diubah. tapi Gojek membuktikan bahwa pasar yang terlihat “biasa” bisa jadi sangat besar.
Realita: pukulan kasti
keberhasilan startup itu seperti pukulan bola kasti. tidak setiap pukulan akan menghasilkan angka. bahkan beberapa meleset total.
tapi ada perbedaan besar antara pemula dan pemain berpengalaman. pemula lebih mungkin gagal.
pemain berpengalaman-pun masih bisa gagal. tapi pemain berpengalaman punya peluang lebih besar untuk menghasilkan pukulan yang baik. sesekali: menghasilkan home run.
keberuntungan tentu ikut bermain, tapi juga teknik, strategi, dan jam terbang yang terus diasah. startup bekerja dengan prinsip yang sama.
ingat Airbnb sempat ditolak oleh banyak investor awal, dan hampir kehabisan uang? dengan iterasi produk dan strategi distribusi yang tepat, mereka akhirnya menjadi perusahaan publik bernilai miliaran dolar, tersedia di lebih dari 220 negara.
Peluang bisa ditingkatkan
kesalahan mindset terbesar adalah menganggap keberhasilan startup murni soal keberuntungan; padahal tingkat keberhasilan itu bisa ditingkatkan.
dengan:
- belajar dari kegagalan
- belajar strategi GTM
- menggunakan ulang aset lama, seperti jalur distribusi, resource IT, resource dokumen legal
- membangun budaya eksekusi yang kuat.
setiap iterasi / pembelajaran bikin ayunan berikutnya lebih presisi. semakin jam terbang tinggi, semakin kecil kemungkinan mengulang kesalahan yang sama.
Tokopedia tak langsung jadi marketplace raksasa. mereka bertahun-tahun membangun trust, sistem pembayaran, logistik, dan edukasi pasar — semua secara berkelanjutan — sebelum akhirnya menjadi salah satu pemain dominan, sampai founder-nya bisa exit.
Berproses
perbedaan terbesar antara startup yang gagal dan yang terus bertumbuh bukanlah pada ide awalnya.
Paypal sempat gagal dalam ide awal mereka: pembayaran untuk Palm Pilot, tapi mereka berhasil pivot.
kualitas team dan proses itu sangatlah penting. kemampuan beradaptasi adalah aset tersembunyi.
bisa juga lihat ke Slack yang awalnya adalah perusahaan game. game-nya gagal, tetapi tools komunikasi internal mereka justru yang jadi produk utama & sukses besar.
semakin lama tim bisa bertahan dan terus belajar, semakin besar peluang mereka untuk menghasilkan pukulan demi pukulan baru — pukulannya akan semakin solid — dan suatu hari: home run.
The upper hand: daya tahan
startup memiliki satu keunggulan yang sering diabaikan oleh para penganalisa startup: akses terhadap pendanaan berkelanjutan.
beda dengan banyak kompetitor tradisional yang hanya mengandalkan arus kas internal atau pinjaman terbatas, model bisnis startup didesain untuk memperoleh suntikan modal secara bertahap melalui beberapa putaran pendanaan.
Amazon bertahun-tahun tidak menghasilkan profit karena terus setiap dana terus diinvestasikan ke untuk pertumbuhan dan infrastruktur. retailer tradisional? ga bisa melakukan hal yang sama karena tekanan profit jangka pendek.
Grab bisa bertahan dalam perang harga yang panjang karena dukungan pendanaan berkelanjutan, sementara banyak pemain kecil tidak mampu bertahan.
ini menjadi keunggulan lewat terciptanya ruang bernapas yang lebih panjang, di mana pendanaan berkesinambungan menciptakan:
- investasi yang lebih agresif ke pertumbuhan.
- penyempurnaan produk tanpa tekanan profit jangka pendek.
- punya waktu untuk menguji berbagai strategi hingga menemukan model yang tepat.
- bertahan lebih lama dalam fase eksperimen.
sebaliknya, banyak kompetitor berhenti berkembang ketika arus kas menipis.
inilah the upper hand yang tak dapat disangkal: bukan sekadar soal uang, tetapi soal waktu dan kapasitas untuk belajar lebih cepat, bergerak lebih berani, dan memperbesar peluang menghasilkan home run.
The upper hand: ROI early stage
peluang pertumbuhan startup masih sangat tinggi karena investor dan karyawan masuk ketika perusahaan berada di skala yang sangat kecil.
valuasi awal yang rendah menciptakan ruang kenaikan yang jauh lebih luas. perusahaan yang bernilai $10 juta jauh lebih “ringan” untuk bisa tumbuh 100x dibanding perusahaan yang sudah bernilai $300 miliar untuk tumbuh 3x.
investor awal Amazon & Google masuk ketika valuasi masih relatif kecil. pertumbuhan menuju ratusan miliar hingga triliunan dolar menghasilkan ROI berkali-kali lipat dengan jumlah digit yang lebih besar yang hampir mustahil terjadi jika masuk saat perusahaan sudah matang.
perusahaan yang sudah bernilai ratusan miliar dolar menghadapi hukum angka besar (law of large numbers). untuk melipatgandakan nilai, mereka membutuhkan tambahan nilai yang setara dengan membangun satu perusahaan besar baru dari nol.
di sinilah asimetri berada: semakin kecil titik masuknya, semakin besar ruang tumbuhnya — dan semakin tinggi potensi ROI yang bisa terjadi.
Layak itu mindset
startup memang punya risiko. itu sifat alami dari startup.
tapi risiko itu bisa ditekan, dan mengubah startup yang tidak layak menjadi layak.
layak adalah sebuah kata kerja, bukan sebuah status. ia harus diusahakan. ia bukanlah sesuatu yang diam saja.
layak berarti memahami bahwa:
- benar ada peluang gagal
- tapi juga ada peluang sukses
- serta ada peluang sukses luar biasa
- dan semua peluang itu bisa dipengaruhi oleh kualitas tim dan prosesnya, budayanya; kemampuan untuk terus bertahan dan menghasilkan pukulan.
SpaceX mengalami beberapa kali kegagalan roket di awal. jika mereka berhenti pada kegagalan pertama atau kedua, industri roket privat mungkin tidak akan pernah berubah seperti sekarang. Tesla? mirip juga.
masalah terbesar sering kali bukan pada peluang awalnya, tapi pada keyakinan apakah kita bersedia untuk terus bertahan dan mengejar hasil yang ekstrem.
pemukul kasti yang terus berlatih, menjadi semakin ahli, dan semakin tinggi kemungkinan menghasilkan pukulan yang menentukan.
tim yang tak pernah berhenti belajar, punya komitmen, dan bisa bertahan, akan mengubah sesuatu yang bersifat spekulasi pada awalnya, untuk jadi peluang besar.
Penutup
hampir tidak ada startup yang terlihat layak sukses ketika mereka baru dibentuk.
bahkan setelah startup berjalan beberapa saat pun, banyak yang terlihat biasa-biasa saja.
- founder Google sempat berusaha menjual Google ke Excite sebesar $1m, ditolak.
- founder Netflix berusaha menjual Netflix ke Blockbuster sebesar $50m. ditolak.
- Musk pernah menghubungi Apple untuk menjajaki penjualan Tesla dengan valuasi 1/10 valuasi Tesla, yaitu hanya $6b dari valuasi $60b, tidak berhasil.
- founder Omidyar sempat sulit mendapatkan perusahaan yang mau beli eBay, tapi akhirnya jadi marketplace global.
tapi dengan sentuhan yang tepat, proses yang benar, visi yang benar, penciptaan lingkungan yang tepat, lama kelamaan sukses itu akan dapat diraih.