Karyawan yang seagama 3 min read

apakah anda memilih siapa yang bekerja dengan anda berdasarkan agamanya?

memilih karyawan berdasarkan agamanya — ini adalah hal yang tidak akan saya lakukan.

berdasarkan pengalaman saya ke belakang, somehow justru orang-orang yang seagama itu yang sering kali menimbulkan masalah.

dan karyawan-karyawan saya yang kerjanya bagus, justru mereka yang tidak seagama.

Pengalaman dengan orang yang seagama

salah satu karyawan awal saya, yang saya berikan salary 50% di atas rate standar, adalah berdasarkan referensi relasi. teman saya sangat merekomendasikannya karena ia adalah teman baik adiknya dari TK atau SD, katanya. 2 kata awal dari namanya-pun nama salah satu tokoh agama dan nama khas agama yang berarti suci. youtube-nya isinya adalah ia perform berbagai lagu-lagu agama.

setelah 1/2 tahun bekerja ia sempat ijin sakit, tapi tak disangka di hari tersebut justru dilihat oleh istri saya di sebuah acara retret beberapa hari di luar kota. selang hampir 1 tahun kerja, kinerjanya memburuk, ketahuan double-job (dia mengambil job remote full-time dari Singapore padahal kerja di saya full-time), dan bahkan sampai berani menyandera file project. akhirnya tentu saya keluarkan dia. semua bukti percakapan ada di e-mail, yang akhirnya saya tunjukkan ke teman saya yang mereferensikan dia.

seorang karyawan lain yang seagama, setelah bekerja di tempat kami justru bertindak seenaknya, merasa lebih punya skill dari karyawan lainnya, menggunakan fasilitas kantor lebih dari seharusnya, dan tidak keluar dengan baik-baik.

seseorang yang pernah bekerja sama sebagai partner, seseorang yang rajin beribadah, berkali-kali tidak menepati jadwal meeting, membuat saya menunggu berjam-jam tanpa notifikasi keterlambatan, membatalkan jadwal meeting seenaknya, hasil kerjanya buruk sehingga saya yang harus mengcover hasil pekerjaan dia, dan akhirnya memutuskan kerjasama secara sepihak untuk alasan yang menurut saya tidak profesional.

Pengalaman dengan orang yang tidak seagama

pekerja-pekerja terbaik kami semuanya tidak seagama.

mereka sopan, hasil pekerjaannya beres, selalu hadir lebih awal, etika kerja tinggi, produktif, bisa dipercaya termasuk juga dipasrahi menjaga kantor kalau ditinggal pergi cukup lama. sering kali justru mereka yang improvisasi sendiri untuk meningkatkan tanggung jawab mereka.

baik dalam team maupun bekerja secara sendirian mereka bisa mengerjakannya, tanpa perlu diawasi. jangankan diawasi, sering kali mereka sudah mulai bekerja sendiri sebelum jam 8, dan bersedia lembur sendiri bila mereka merasa perlu.

tanggung jawab apapun yang kami request/berikan selalu dijawab dengan “baik pak/bu” — dan bukan sekedar lip service saja, tapi mereka juga mengerjakannya dengan baik. mereka telah bekerja lama, dan bisa mengerti kalau ada masa-masa kondisi perusahaan sedang kurang baik, dan kami-pun berusaha tidak memecat karyawan di masa susah.

saya bangga dengan mereka dan karena itu juga berusaha entah bagaimana caranya supaya kesejahteraan mereka bisa lebih baik dari tahun ke tahun, memberikan mereka masa depan yang baik, apalagi mereka juga bukan orang yang perhitungan dengan gaji/bonus.

dan hampir semua karyawan kami tidak ada yang keluar kecuali karena urusan keluarga (seperti menikah, atau kematian anggota keluarga yang membuat ia harus menjaga keluarga yang ditinggalkan).

Kesimpulan

bukan berarti mereka yang seagama semuanya buruk. tentu ada yang bagus juga. saya mengenal beberapa orang seagama yang pekerjaannya selalu excellent, dengan merem (tutup mata) saya berani merekomendasikan mereka 100%, dan apapun yang mereka lakukan selalu berhasil.

tapi tidak sedikit juga yang merasa karena seagama, lalu bertindak kurang ajar, termasuk pada akhirnya mengkhianati di belakang, meski sudah diperlakukan dengan baik.

karena itu saya belajar bahwa yang terbaik tetaplah “meritocracy” — yang artinya, seseorang ditempatkan posisinya bukanlah karena seagama atau satu suku atau satu golongan lainnya atau karena adalah titipan relasi, tetapi karena memang ia adalah yang terbaik untuk berada pada posisi itu.

hanya dengan meritocracy sajalah sebuah perusahaan akan dapat perform secara maksimal.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *