In the end, you are all alone 3 min read

kemarin saya baru bertemu dengan seseorang lagi yang hendak saya rekrut ke dalam team saya.

ia sudah memiliki pengalaman menjadi direktur berkali-kali, sehingga ia berkata ia tidak tertarik dengan jabatan direktur, karena tanggung jawabnya berat.
apapun masalah yang ada di perusahaan, pada akhirnya direktur yang harus bertanggung jawab dan harus memastikan segalanya berjalan dengan lancar.

saya sendiri pada dasarnya orang yang optimistic & selalu solution oriented — selalu merasa segala sesuatu bisa dicapai, dan tidak menerima kata “tidak”.

bagi saya segala sesuatu pasti dapat dilakukan dan selalu ada cara yang bisa dicari untuk mencapainya.

your spouse will help you to see the blindspots you missed

tapi yang merasa menjadi founder itu berat, sebetulnya adalah istri. ia mengingatkan saya kalau sebetulnya, pada dasarnya saya adalah sendirian.

artinya orang-orang di sekitar saya, bahkan termasuk mereka yang ada di team inti, pada akhirnya akan bisa meninggalkanku kalau mereka menghadapi masalah yang berat, atau tidak mendapatkan benefit lagi dari saya.

dan ketika “pengikut” anda meninggalkan anda, yang harus membereskan semuanya adalah ya anda sendiri sebagai pemimpin.

ia selalu mengingatkan saya bahwa saya sebetulnya adalah sendirian — bahkan di tengah-tengah keramaian team. ini salah satu hal yang sering kali tidak disadari oleh para pemimpin karena tidak terlihat oleh mata.

bukan istri saya yang mengatakan ini — tapi saya sendiri yang menyadari satu-satunya orang yang akan tetap berada di samping saya ketika semuanya meninggalkan saya, ya hanya dia.

istri sebenarnya tidak suka saya mengerjakan startup karena ia peduli & menyayangi saya. hidup kami sudah berkecukupan, meski tidak berkelebihan. mengapa harus mencoba hal-hal yang berpotensi menyengsarakan diri.

istri sebenarnya lebih prefer kami mengerjakan apa yang ada, karena dari itupun kami juga tidak berkekurangan dan juga masih dapat berkembang. tapi ke manapun saya pergi, apapun pilihan yang saya ambil, ia akan ikut dan turut mendukung saya sepenuhnya.

masalah berat dalam startup otomatis pasti akan ada, tapi terlebih dari itu istri merasa akan ada kemungkinan di mana saya harus menghadapi semuanya sendirian karena orang lain yang berada dalam team sebenarnya tidak akan benar-benar memperjuangkan startup ini apabila ada masalah berat.

saya baru menyadari beratnya posisi founder startup ini setelah diingatkan istri;
dan semakin besar visi yang hendak dicapai, artinya tanggung jawab yang diemban juga semakin besar.

sementara startup membuat saya excited, istri sebagai orang yang peduli pada saya menjadi lebih tertekan — karena tidak ingin melihat saya harus menanggung segala sesuatunya sendirian.

but I just can not not doing it

saya menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mempersiapkan & mempelajari segala hal tentang startup. dan saya tahu saya memiliki kemampuan dan kapasitasnya, karena hal ini juga telah divalidasi oleh banyak orang. kalau saya tidak mengerjakan startup, semua hal yang sudah saya pelajari tersebut akan sia-sia, mubazir.

level yang lebih tinggi dari bisnis UMKM pada akhirnya juga adalah membangun perusahaan besar, korporasi. kalau anda tahu jalannya, tentunya anda akan berusaha mencobanya.

dan sebagai kepala keluarga saya juga ingin memberikan kehidupan yang lebih baik istri & jiejienya yang selama ini sudah banyak berkorban selama bertahun-tahun untuk saya. saya ingin orang-orang yang saya kasihi bisa hidup dengan jauh lebih baik.

maka, bahkan ketika ada marabahaya apapun di depan anda, kalau pertaruhannya adalah orang-orang yang anda kasihi — anda tetap akan berusaha menerjangnya, bukan?

i just don’t have a choice.
even when in the end, you are all alone.

saya hanya bisa berharap segalanya akan dilancarkan TUHAN,
dan IA yang akan meluputkan saya dari semua marabahaya.

saya rasa hanya itulah yang dapat saya lakukan. don’t you think?



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *