Jemput bola 1 min read
“Jadi, ketika Uber menghabiskan jutaan demi jutaan untuk promosi dan pemotongan harga yang ditujukan kepada pengemudi maupun pelanggan, Go-Jek justru memusatkan upaya pemasarannya pada para pengemudi. Perusahaan ini mengadakan serangkaian acara rekrutmen besar-besaran bergaya festival jalanan di stadion basket, dan berhasil merekrut puluhan ribu pengemudi.
Berbanding tajam dengan preferensi Uber yang kontroversial untuk memperlakukan pengemudinya sebagai kontraktor independen, Go-Jek mendorong para pengemudi untuk merasa menjadi bagian penting dari organisasi. Pengemudi yang tidak mampu membeli smartphone diberikan pinjaman untuk membelinya; bantuan juga diberikan bagi mereka yang belum memiliki dokumen yang diperlukan untuk mendaftar secara legal sebagai pengemudi Go-Jek. Para pengemudi dengan bangga menonjolkan keterkaitan mereka dengan aplikasi tersebut melalui pakaian dan aksesori berlogo, yang dengan cepat membuat jalanan Jakarta dipenuhi dengan warna hijau khas Go-Jek.”
source: Digital Lessons from Go-Jek, Indonesia’s Answer to Uber and Grab