5 Pertanyaan untuk Merekrut Orang Lebih Baik 4 min read

Menurut konsultan bisnis Anthony Tjan, banyak perusahaan menjalankan proses wawancara kerja dengan pendekatan yang keliru. Untuk menemukan kandidat yang tidak hanya cerdas tetapi juga memiliki kedalaman karakter, diperlukan pertanyaan yang lebih tepat.

Secara umum, pertanyaan wawancara dapat dikelompokkan ke dalam dua jenis: pertanyaan mengenai kompetensi dan pertanyaan mengenai karakter. Pertanyaan kompetensi bertujuan menggali kemampuan teknis, keterampilan, serta kualifikasi seseorang; sedangkan pertanyaan karakter mencoba memahami nilai-nilai pribadi serta kepribadian kandidat. Meskipun keduanya penting, Tjan menilai bahwa perusahaan cenderung terlalu fokus pada aspek kompetensi. “Kita sering mengabaikan hal-hal penting seperti ketulusan, empati, dan kebijaksanaan,” ujarnya.

Pertanyaan klasik seperti “Apa kelemahan terbesar Anda?” sering dianggap sebagai pertanyaan karakter, namun sebenarnya tidak efektif. Calon karyawan biasanya memberikan jawaban yang sudah dipersiapkan, seperti “Saya terlalu teliti,” “Saya terlalu bekerja keras,” atau “Saya terlalu peduli,” yang terdengar klise dan tidak jujur. Kandidat pun sebenarnya sadar bahwa jawaban tersebut tidak membantu, tetapi mereka juga takut mengungkapkan kekurangan yang sebenarnya.

Perusahaan perlu menemukan cara menilai karakter kandidat secara lebih akurat. Tjan — penulis buku Good People: The Only Leadership Decision That Really Matters — percaya bahwa sikap seperti integritas, kerendahan hati, rasa syukur, dan kesadaran diri merupakan fondasi penting bagi kepuasan kerja dan keberhasilan jangka panjang. Ia menegaskan bahwa nilai dan kualitas manusia adalah sumber keunggulan kompetitif yang paling berkelanjutan. Karena itu, perekrut harus mengajukan pertanyaan yang tidak bisa dijawab dengan jawaban generik.

1. “Sebutkan satu atau dua sifat dari orang tua Anda yang paling ingin Anda jaga dalam diri Anda, dan juga diwariskan kepada anak-anak Anda seumur hidup?”

Tujuannya adalah membuka percakapan yang menghasilkan pemahaman mendalam, bukan jawaban yang dihafal. Pertanyaan ini mendorong kandidat berpikir dan mengungkap nilai-nilai yang mereka anggap penting. Setelah mereka menjawab, Tjan menyarankan untuk menindaklanjuti dengan pertanyaan “Bisa ceritakan lebih jauh?” Ia menambahkan bahwa pewawancara tidak perlu buru-buru mengisi jeda hening; diam sejenak sering membantu kandidat memberikan jawaban yang lebih bermakna.

2. “Berapakah hasil dari 25 kali 25?”

Pertanyaan ini bukan tentang matematika, tetapi bagaimana kandidat bereaksi ketika berada di bawah tekanan. Apakah mereka defensif, merasa malu, atau marah? Atau justru terbuka dan mau mencoba lagi? Jika kandidat memberikan jawaban salah atau menyerah, Tjan biasanya membantu dengan pendekatan berbeda, misalnya: “Bayangkan Anda punya 25 koin seperempat dolar—berapa jumlah totalnya?” Ia ingin melihat apakah kandidat bisa menghadapi rasa tidak nyaman dan tetap bekerja sama. Dunia kerja sering membawa seseorang pada situasi yang tidak ideal, dan kemampuan ini sangat penting.

3. “Ceritakan tiga orang yang hidupnya pernah Anda pengaruhi secara positif. Jika saya menghubungi mereka besok, apa yang kira-kira akan mereka sampaikan?”

Menurut Tjan, memeriksa referensi seringkali tidak berguna karena referensi sudah dipilih untuk berbicara baik tentang kandidat. Lebih penting mengetahui siapa saja yang telah dibantu kandidat secara langsung, tak harus rekan kerja — bisa keluarga, teman, tetangga, atau siapa pun. Organisasi membutuhkan orang yang mampu mengangkat orang lain. Jika kandidat tidak bisa menyebut satu pun, itu perlu dicari alasannya. Tjan sendiri merasa banyak pencapaian hidupnya berasal dari hubungan mentorship yang saling menguatkan. Orang yang punya kecenderungan membantu biasanya membawa pengaruh positif dalam organisasi.

4. “Apakah saya bisa membayangkan membawa orang ini ke rumah saat liburan?”

Setelah wawancara, tanyakan pada diri Anda atau tim pertanyaan di atas.

Sekilas terdengar personal, tetapi hal ini berkaitan dengan kemungkinan membangun hubungan. Biasanya insting memberi jawaban yang jelas. Tjan mengatakan bahwa pertanyaan ini sering memberi respons emosional yang lebih kuat dibanding daftar periksa kompetensi.

5. “Bagaimana kandidat berinteraksi dengan Anda?”

Setelah wawancara, tanyakan kepada petugas keamanan atau resepsionis pertanyaan di atas.

Cara seseorang memperlakukan orang asing mencerminkan apakah mereka menghargai sesama dan bersikap terbuka. Beberapa perusahaan bahkan sengaja menunda kandidat selama beberapa menit untuk melihat reaksinya, meski Tjan sendiri merasa itu mungkin terlalu ekstrem.

Penutup

Merekrut orang baik bukan hanya tentang mencapai kesuksesan bisnis. Mengisi organisasi dengan individu yang memiliki karakter kuat dapat menciptakan pengaruh positif yang meluas ke luar perusahaan, meskipun dampaknya tidak selalu mudah diukur. Meskipun daftar pertanyaan ini ditujukan untuk wawancara kerja, setiap orang sebenarnya bisa bertanya pada diri sendiri:

“Peran apa yang dapat saya mainkan untuk memberikan dampak positif bagi orang lain?”

source: 5 Interview Questions That Will Help You Hire Better People



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *