let’s agree to disagree 3 min read

menurut saya ini adalah salah satu hal yang sulit dilakukan oleh netizen.
entah hanya berlaku untuk netizen indonesia atau juga netizen dunia.

begitu ada akun yang posting tentang sesuatu hal yang dirinya tidak setuju, apalagi kalau mayoritas, akan sering kali akan dihujani dengan banyak komentar.

sebagian komentar akan bisa cukup dewasa, tapi sebagian komentar akan bisa emosional, bahkan menyerang pribadi orangnya.

contoh kasus #1: Pak U

ada seseorang yang saya kenal dan berusia 60 tahunan, dan saya follow account fb-nya. sebut saja namanya U.

Pak U ini orangnya kalem, cukup bijak, sukses ya ok lah, dan sebenarnya dia bukan tipe posting hal-hal yang kontroversial. cuma dia akan memposting hal apapun yang menurut dia benar, dan hampir selalu akan didukung dengan data atau artikel.

itupun masih akan ada orang yang akan berkomentar ketika apa yang diposting Pak U tidak sesuai dengan pandangan mereka. ketika diskusi menjadi pajang, maka sering kali Pak U akan menutup diskusi dengan kata-kata “let’s agree to disagree.”

sebagian bisa menerimanya, sebagian tidak.

contoh kasus #2: SEO is dead

kita semua tahu bahwa SEO is not dead.

karena ada beberapa use cases di mana SEO bisa berguna — yaitu bisnis yang traffic utamanya didapatkan dari SEO, dan ada beberapa use cases lainnya di mana, SEO tetap berguna tapi tidaklah signifikan.

misalnya,

waktu saya masih manage hosting, saya ada client yang running hampir 20 website, jual produk laut indonesia, dengan pelanggan seluruh dunia. dari jepang, sampai argentina ada semua.

di sini SEO terpakai banget, bahkan essential. tapi, untuk website tas fashion brandless, yang sudah punya traffic & pelanggan dari socmed, dan cuma mengandalkan foto saja, SEO tidak sepenuhnya berguna.

behavior orang yang mau beli tas fashion brandless hampir tak ada yang akan cari lewat google. so, kembali lagi pada use casesnya.

nah artikel “SEO is dead” kalau di luar negri itu tanggapannya sering biasa / dingin-dingin saja.

tapi saya sempat lihat ada orang indo yang posting “SEO is dead” di socmed, tanggapannya bervariasi.
dan tanggapan yang tidak setuju sekilas terlihat lebih emosional, seperti kena trigger.

mungkin banyak orang indo yang mengerjakan SEO? entahlah.

take it slow

padahal kalau mau take it slow, kita itu sebenarnya bisa belajar dari pandangan orang lain.
kenapa sih orang itu bisa sampai punya pandangan seperti itu? oh karena A, B, C.

belum tentu pandangan kita yang paling benar juga.

ya sudah, let’s agree to disagree.
tinggal berpisah jalan. beres.

mengapa “agree to disagree” ini penting?

karena orang yang bisa “agree to disagree” itu bukan hanya orang yang sekedar bisa menerima perbedaan, tapi orang tersebut juga adalah:

  1. tipe orang yang bisa mencoba memahami perspektif orang lain,
  2. melepas ego-nya, mampu menerima kritik,
  3. dan tidak merasa dirinya hanya pihak satu-satunya yang palinq benar

gampangannya, orang yang bisa “agree to disagree” adalah:
orang yang mau mengosongkan gelasnya, dan tidak membiarkan gelasnya selalu terisi penuh.

dia adalah orang yang bisa unleam to relearn.

bagaimana sebaiknya cara untuk menanggapi orang yang berbeda pandangan

cukup katakan kalau kita memiliki pandangan yang berbeda.
pandangan kita adalah seperti ini. dan alasannya karena ini.

kalau bisa diterima, bagus.
kalaupun tidak diterima, ya tidak usah diambil pusing.

you have done your part.

done.

penutup

anda punya pandangan lain?



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *