Founder hanya mendapatkan $0 ketika perusahaannya dijual 4 min read
bagi banyak orang, ini adalah situasi yang aneh. bukankah founder adalah pemilik perusahaan.
kok bisa dapat $0?
setelah bertahun-tahun merintis, membesarkan usaha, startup dijual, lalu Founder tidak
dapat apa-apa. kok bisa?
kalau anda pemilik bisnis (atau founder) yang akan mendapatkan investasi, maka anda wajib setidaknya mendapatkan secuil perspektif dari postingan ini.
disclaimer
postingan ini bukanlah saran legal, tetapi lebih ke pemahaman pribadi sesuai dengan pengalaman. konsultasikan dengan orang legal untuk mendapatkan pandangan professional yang akurat. DYOR.
analogi
jadi misalnya, anda punya bisnis, anda yang jadi foundemya.
anggap aja tahun 2015 nih.
anda mau membesarkan bisnis ini, jadi anda menerima investasi masuk. awalnya anda terima 1 miliar dari investor A. beberapa tahun kemudian anda terima investasi 4 miliar lagi dari investor B.
di tahun 2025, investor A & investor B memutuskan agar bisnis anda dijual.
(kepemilikan founder di perusahaan sudah menjadi minoritas, sehingga investor sebagai pemegang saham mayoritaslah yang memutuskan masa depan dari startup: dijual/tidak) maka ada 3 kemungkinan yang terjadi:
- bisnis anda dijual dengan harga lebih besar dari nilai investasi yang masuk (20 miliar)
- bisnis anda dijual sama tepat seperti nilai investasi yang masuk (5 miliar)
- bisnis anda dijual lebih rendah dari nilai investasi yang masuk (3 miliar)
apa yang akan terjadi pada masing-masing skenario?
skenario 1
hasil penjualan bisnis sebesar 20 miliar dibagi sesuai dengan proporsi saham masing-masing.
misalnya investor A punya 20%, investor B punya 40%, anda punya 40%.
maka investor A dapat 4 miliar (ROI 4x),
investor B dapat 8 miliar (ROI 2x),
founder dapat 8 miliar (dari modal awal yang biasanya kecil, jadi berkali-kali lipat).
semua senang.
skenario 2
investasi masuk 5 miliar, bisnis terjual 5 miliar. mungkin karena keadaan ekonomi memburuk. kena covid dll.
ketika investor masuk, mereka akan mendapatkan yang namanya saham preferen (diutamakan). sedangkan saham founder adalah selalu saham biasa (kalau anda jadi investor, pastikan anda dapat saham preferen).
dalam proses likuidasi (diakuisisi / IPO), pemegang saham preferen, yang diutamakan, akan menerima hasil penjualan perusahaan terlebih dahulu.
sehingga investor B akan kembali menerima 4 miliar, investor A akan menerima 1 miliar.
jadi secara finansial, investor tidak untung, tapi juga tidak rugi. kembali ke modal awal.
tapi founder, yang memegang saham biasa, tidak akan mendapatkan apa-apa, alias $0.
karena setelah hasil penjualan dibagi-bagikan ke pemegang saham preferen (investor), tak ada lagi yang tersisa pada pemegang saham biasa.
apa artinya?
artinya kalau founder mendapatkan pendanaan $X, maka perusahaan harus terjual lebih tinggi dari $X barulah founder bisa mendapatkan penghasilan.
skenario 3
masuk 5 miliar, terjual 3 miliar. founder sudah pasti dapat $0. tapi bagaimana dengan investor?
dalam hal ini bisa terjadi 2 kemungkinan:
kemungkinan #1: hasil penjualan dibagi rata sesuai proporsi kepemilikan saham preferen.
jadi investor A banding investor B = 1 banding 4. jadi investor A dapat 600jt, investor B dapat 2.4 miliar.
atau…
kemungkinan #2: hasil penjualan diberikan sesuai urutan ke pemegang saham preferen.
kalau ini yang terjadi, maka biasanya investor B yang masuk terakhir, akan dapat hasil penjualannya dulu, barulah investor A.
inilah yang biasa terjadi di startup US, terutama kalau pada saham preferen ada tambahan klausul seperti “liquidation preference”.
jadi kalau ada investor A, B, C, maka C yang akan dapat lebih dulu, baru B, lalu A.
sistem urutan
mengapa sistem urutan ini bisa terjadi?
karena sering kali investor yang terakhir kali masuk meminta bonus tambahan untuk proteksi investasinya (apalagi kalau bagi VC yang merupakan investor institusi, ini sudah suatu hal yang wajib).
maka akan timbul pertanyaan baru: kalau begitu, investor yang investasi pertama punya resiko yang besar donk?
betul, tapi juga investor pertama juga sering kali selalu punya opsi untuk menjual ke investor berikutnya (investor A ke investor B / C dst).
inilah yang terjadi pada salah satu investor pertama dari salah satu startup unicorn di indonesia: mereka jadi investor awal, tetapi kepemilikan mereka dijual ke VC pertama yang mendanai startup itu.
andaikata kepemilikan mereka tidak dijual1, mungkin sudah akan kaya raya, karena punya 80% kepemilikan awal perusahaan.
para investor awal juga punya opsi lainnya:
mereka bisa tetap keep dan membiarkan nilai investasinya bertumbuh berkali-kali lipat (untuk hal investasi ke startup).
referensi artikel:
I’m a founder who has raised $77 million over the last 10 years — here’s my best advice on how to raise startup money, even when lots of people reject you
penutup
demikianlah umumnya sistem pembagian profit dari startup ketika startup dijual.
pengingat: ini hanyalah postingan opini, bukan saran legal. setiap situasi dapat terjadi perbedaan tergantung dari klausul perjanjian dengan investor / pemegang saham. pastikan anda tetap bertanya ke orang legal anda apabila anda berurusan dengan proses-proses seperti ini.
- tapi investor VC juga belum tentu mau invest, kalau saham investor awal tidak dijual.
terkadang investor VC tertentu yang tidak ingin keribetan yang tidak perlu, mereka tidak suka melihat ada campur tangan dari investor lain, sehingga meminta saham investor awal kalau tidak dijual, ya hak suaranya ditekan (misalnya supaya pemegang saham minoritas wajib mengikuti suara pemegang saham mayoritas), sebagai persyaratan bagi VC untuk mau invest ke dalam perusahaan. ↩︎