crazy business models 5 min read

ada banyak model bisnis yang umum.

iklan, langganan, komisi transaksi — ini umum.

tapi akan ada beberapa yang kedengarannya seperti batshit crazy kalau tidak ngerti
cara kerjanya.

1. piracy as a business model

ini kelihatan gila tapi masuk akal.

pembajakan membantu membuat microsoft jadi perusahaan besar, karena ini menjadi saluran distribusi produk windows yang gratis.

ketika bill gates ditanya, apakah gpp windows dibajakin oleh orang-orang, dia hanya menjawab, “ga masalah, nanti pada suatu titik toh mereka akan jadi pelanggan kami juga”
(jawabannya kurang lebih berdasarkan ingatan).

rata-rata orang hanya punya pilihan menggunakan salah satu Operating System, dan itu lebih baik Windows daripada yang lainnya.

ini bekerja dengan sangat baik di China. begitu ekosistemnya bisa / harus membayar, Microsoft langsung kaya raya dari Windows, Office, dan segala varian produk lainnya.

dan Microsoft langsung punya komunitas setia yang terus membeli produk mereka.

2. free as a business model

pernah tahu ada perusahaan yang sudah besar banget, jadi market leader di suatu industry, kaya raya, margin-nya tinggi?

tiba-tiba ada sebuah startup baru. dia masuk pada layanan yang sama.

masalahnya, startup ini ga pernah untung. dia menggratiskan layanannya.
secara keuangan perusahaan, dia rugi terus. tapi jumlah usernya bertambah banyak.

market startup itu bisa tumbuh secara eksponensial.

karena itu zuck takut akan instagram menjadi ancaman facebook, sehingga instagram akhirnya dibeli FB senilai $1B.

bukan hanya IG yang menggunakan model bisnis ini. ada beberapa startup lain, yang tujuannya adalah rugi. startup, yang didesain untuk rugi.

karena dengan jalan menjadi rugi ini, cepat lambat market leader akan terganggu, dan akhirnya membeli startup-nya.

startup lain yang melakukan free as a business model adalah Waze, yang akhirnya dibeli google $966M.

3. giveaway as a business model

gillette bagi-bagi pisau cukur (razor) mereka untuk menjual pisaunya (blades).

perusahaan printer juga menjual printer mereka dengan sangat murah karena sumber profit mereka adalah dari tinta.

ini pertaruhan atas loyalitas customer.

model bisnis yang sudah berjalan berabad-abad, tapi masih akan berjalan untuk waktu yang sangat lama.

4. bayari orang untuk pakai produknya

biasanya digunakan oleh crypto.

tidak tepat membayar sih, tapi mereka memberikan crypto mereka untuk early adopters.

hanya dengan jalan itulah diharapkan network effect bisa cepat terbentuk, dan meningkatkan nilai crypto-nya.

5. fake it til you make it

iya, ini termasuk model bisnis juga.

yang melakukannya? theranos. ini sudah jelas.

first travel. orang bilang FT penipuan.
kalau saya bilang ini fake it till you make it — tapi dengan asumsi: pengelolaannya harus benar, tidak dipakai konsumtif, dan harus ada path to profitability.

alasannya? karena banyak startup juga melakukannya.
banyak startup itu menggunakan sistem ponzi: investor yang awal dibayar dari uang dari investor yang baru masuk.

apakah ponzi jelek?
banyak dana pensiun dikelola dengan sistem ponzi lho.

ketika ada economies of scale, volume transaksinya jadi besar, harganya jadi murah, apalagi kalau tiba-tiba ada yang bersedia invest, semua perhitungannya akan tiba-tiba jadi masuk akal, dan bisa profit.

tapi yang dilakukan FT terlalu beresiko, karena nilai yang dibayarkan pelanggannya rata-rata nilainya cukup besar. andaikata tak ada kasus, dan misalnya dikelola dengan baik, bisa saja mereka pada akhirnya profit, dan jadi perusahaan yang sangat besar.

tetapi kalau FT ternyata tidak ada pengelolaan yang benar, uang customer dipakai konsumtif berlebihan, dan tidak ada path to profitability, barulah ia memenuhi unsur penipuan.

disclaimer: saya tidak tahu & belum menyelidiki data finansial FT secara detail, ini pandangan awam saya yang hanya berdasarkan artikel di internet, mungkin saya ada informasi yang terlewat & mungkin bisa salah, jadi DYOR & feel free to disagree.

6. lose money per customer

ini mirip dengan no 5.

yang melakukan ini adalah amazon: menjual buku di bawah harga pasar untuk membangun customer base. pertaruhan amazon terbayar dengan berhasil tercapainya economies of scale.

7. sell the data as business model

ini tampak normal hari ini, tapi di hari-hari awal facebook & google, tidak banyak yang melakukannya.

data user adalah produknya: behavior user di google, di youtube, android, dll.

pembelinya adalah pengiklan. ini bergantung pada area abu-abu & pelanggaran privasi.

penghasilan FB langsung terdampak ketika apple membuat kebijakan untuk memutus tracking user. menunjukkan betapa shady-nya business model ini.

8. sabotase marketmu sendiri

ada startup tertentu yang sebetulnya bisa menarget market yang lebih besar. mengejar pertumbuhan eksponensial. tapi mereka memutuskan untuk terus jadi kecil / mengarget market spesifik.

contohnya adalah Pateron. mereka fokus menarget creator indie artists.

bahkan jika ini harus membatasi market mereka, komunitas pelanggannya semakin solid.

bayangkan anda jadi investornya Patreon: ada jalan untuk perusahaannya jadi lebih besar, tapi foundernya tidak mau. gimana perasaan investornya coba.

9. jadikan pengeluaranmu sebagai pemasukan

biasanya pengeluaran EV (electric vehicle) adalah pada biaya charging listrik, yang meskipun rendah, tapi tetap jadi pengeluaran.

BYD, menyewakan batere bis mereka ke energy grid. apa yang sebelumnya jadi pengeluaran, kini malah jadi sumber pemasukan.

10. scarcity as business model

banyak penjual produk mau memaksimalkan stok untuk pelanggan.

Supreme justru membatasi produksi, membuatnya langka. misalnya, Supreme sudah menjual jaket dengan harga $500.

Supreme bisa saja memproduksi ulang jaketnya, menghasilkan profit hampir $500 lagi. tetapi itu tidak dilakukan mereka.

Supreme membiarkan reseller mereka menjual jaketnya dengan harga $2000 di pasaran, rela rugi $500. yang dipertaruhkan adalah nilai brandingnya. Supreme hidup dari hype.

dan Supreme benar-benar menjalaninya. mereka tidak beriklan, tidak melakukan marketing. tanpa influencer.

hype membuat mereka dibicarakan oleh pelanggan & fans-nya.

vibe mereka adalah “if you know, you know.”

tempelkan logo Supreme di batu bata, jual dengan harga $30, komunitas menjualnya ulang dengan harga $150+.

ini adalah sesuatu yang gila kalau anda tidak pernah tahu Supreme sebelumnya.

barang biasa apapun yang diberi logo Supreme akan tetap dibeli komunitasnya.

orang beli karena hype, prestige, experience — apapun itu. tapi bukan karena fungsionalitas barangnya.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *