corporate atmosphere at your home 2 min read

linkedin ini memang social network buat kerjaan.

baru juga connect dengan network baru, yang diomongin udah langsung kerjaan terus ๐Ÿ˜ no basa-basi.

entah sekedar orang yang menawarkan jasa mereka, atau orang yang memang cari kita buat partnership, yang pasti ngeliat orang-orang begitu antusias bekerja mau ga mau jadi ikut termotivasi untuk jadi lebih baik.

kalau FB beda, isinya kebanyakan nyantai & ga penting, haha.

perfect professionals

profil anggota linkedin ga sedikit yang tampil profesional.

perfect headshot, perfect work experience, perfect introductory message. entah memang mereka pada hebat-hebat atau hanya polesan fake it till you make it — marketing gimmick semata.

yang pasti saya bisa belajar banyak dari mereka.

misalnya introductory message seperti ini, menurut saya sih bagus amat kata-katanya.

jadi pengen diadopsi buat jadi introductory message sendiri ๐Ÿ˜…

bukan cuma sekedar di introductory message saja, tapi vibe-nya juga berasa waktu lagi komunikasi dengan mereka.

3 wajah

jadi ingat tentang teori 3 wajah: tiap orang punya 3 wajah.

wajah pertama adalah yang kita tampilkan ke dunia.

wajah ke-2 adalah yang kita tampilkan ke keluarga & teman.

dan wajah ke-3 adalah yang kita simpan sendiri.

linkedin mungkin termasuk di wajah yang pertama.

sebagus-bagusnya apa yang kita lihat di linkedin, it’s all doctored. direkayasa, dalam artian sudah disiapkan terlebih dahulu sebelumnya.

FB, kalau kita membatasi pertemanan hanya keluarga dan teman dekat, mungkin termasuk wajah yang ke-2.

di linkedin mungkin semuanya tampil serba bagus. tapi kita tahu banyak orang-orang tidak menunjukkan jati diri mereka yang sebenarnya.

well maybe you are. but not the other people.
ada insentif sosial bagi kita untuk menjadi sebuah sosok yang lebih sempuma.

wajah sebenarnya

jadi secara keaslian, ketulusan — mungkin masih akan lebih baik di FB.

penggunaan emoji ๐Ÿ˜‚ dan ๐Ÿคฃ di lingkungan linkedin?
akan dipersepsikan sebagai kurang professional.

somehow di dunia professional kita seakan dituntut untuk lebih dapat mengontrol emosi.
control, control, control.

ada sebuah invisible manner yang diharapkan oleh komunitas untuk dilakukan.
kalau di FB, rasanya sih bisa lebih bebas menjadi diri kita apa adanya.

bagaimana pandangan anda?

punya perspektif yang berbeda?



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *