VC adalah lembaga investasi yang didesain supaya sulit kalah 5 min read

sebagian orang heran kenapa VC berinvestasi ke startup yang punya ambisi tinggi, tetapi resikonya juga tinggi.

ini semua kembali ke ingenious design dari perjanjian investasi VC.

VC memang memberikan dana investasi yang besar; namun ada beberapa klausul perjanjian VC, yang kalau founder startup berkeberatan dengan klausul tersebut, VC tidak akan berinvestasi.

dan salah satu klausul kuncinya, adalah di klausul anti-dilusi, yang menjadikan resiko tinggi itu menjadi rendah, bahkan mendekati no-risk.

apa itu anti dilusi?

misalnya sebuah VC berinvestasi ke startup dengan kepemilikan 20% senilai 2 miliar.

kemudian kinerja perusahaan tidak terlalu baik. nilai sahamnya menurun.
ketika ada pendanaan berikutnya, kepemilikan 20% tersebut nilainya menjadi turun di angka 1,5 miliar.

nah, klausul anti-dilusi, adalah klausul yang mempertahankan nilai investasi dari VC, sehingga:
kalaupun pada pendanaan berikutnya nilai perusahaan tersebut turun, maka nilai investasi VC harus tetap seperti awal. tidak berkurang. tidak rugi.

jadi nilai investasi VC akan selalu tetap minimal 2 miliar.

kalau nilai perusahaan turun?

maka bukan nilai investasi VC yang dikurangi jadi 1,5 miliar, tapi perusahaan yang harus memberikan saham lebih banyak ke VC tersebut, sehingga nilai investasi VC tetap di angka 2 miliar.

jadi kalau awalnya si VC punya 2 juta lembar saham senilai 2 miliar, lalu 2 juta lembar saham ini nilainyajadi 1,5 miliar, maka VC akan dapat 666.667 lembar saham lagi, sehingga nilai kepemilikan VC tetap 2 miliar.

apa artinya?

ketika nilai perusahaan naik, VC akan untung.
ketika nilai perusahaan turun, VC ga akan rugi.

yang terjadi adalah justru — VC akan memiliki porsi kepemilikan perusahaan lebih banyak.
it’s a system designed to win, right from the beginning.

semua resiko kalau bisnis jelek ditanggung oleh founder.

satu-satunya kemungkinan VC rugi? kalau startup-nya tutup.
tapi biasanya portfolio startup lainnya milik si VC, startup-startup tersebut akan tetap jalan, dan justru nilainya naik.

bukan duit sendiri

selain itu, VC tidak menggunakan uang pribadi.

sumber uang VC adalah dari uang orang lain, setidaknya 90-98%, yaitu dari “client” VC yang sering kali disebut dengan LP (Limited Partner).

management fee

dan dari dana (fund) yang dikelola VC ini, VC biasanya mendapatkan biaya manajemen 2% per tahun,
ini sudah jadi standar di industri VC.

jadi kalau VC mengelola dana 100 miliar, tiap tahun VC akan dapat uang manajemen 2 miliar.

kalau dana dikelola selama 10 tahun? 20 miliar masuk ke VC untuk biaya manajemen.

tidak semua VC itu top tier. ada juga beberapa VC yang masih baru.
dan mereka — hanya dengan mendapatkan management fee tiap tahun saja, sudah bisa hidup cukup enak. karena itu sering kali management fee adalah hal yang akan dikejar oleh VC baru.

VC yang mengelola dana belasan atau puluhan miliar itu hanya VC yang masih baru saja. jangan tanya seberapa besar dana yang dikelola top tier VC.

sulit rugi

jadi investasi VC ke startup sebetulnya kemungkinan kecil akan rugi.
semua downside (sisi jelek) ditanggung sendiri oleh si founder/perusahaan.

kalau kinerja perusahaan jelek?
tak menutup kemungkinan founder akan kehilangan seluruh sahamnya (tergantung sistem perjanjiannya), dan mendapatkan $0 dari startup yang telah dirintisnya bertahun-tahun.

yes, ini sudah pernah terjadi,
dan bukan hanya 1-2 kejadian saja founder tak menghasilkan apa-apa dari perusahaannya. $0 dari perusahaan yang dirintisnya.

di event covid lalu ekonomi tidak bagus; startup jadi sulit cari pendanaan, investor baru minta investasi dengan syarat yang kurang bagus, sedangkan cash perusahaan hampir habis (karena banyak startup terlanjur bakar uang).

ada founder yang lebih memilih untuk menutup perusahaan — dan memulai startup baru – daripada mereka harus mendapatkan pendanaan lanjutan, tapi menyaksikan kepemilikannya tergerus habis karena down-round (event pendanaan di mana nilai perusahaannya jadi lebih rendah).

karena setidaknya di startup yang baru, founder masih punya potensi kepemilikan yang lebih besar ketika mereka berhasil, dan toh mereka tidak mulai dari nol lagi.

apa persyaratan untuk bikin VC?

untuk saat ini modal minimum yang diperlukan untuk bikin perusahaan VC di Indonesia, adalah 50 miliar.

beberapa tahun lalu sebenarnya masih 5 miliar saja, sehingga orang-orang dengan modal cukup saja sudah bisa menjadi VC.

tapi ya, namanya di industri sarat uang, banyak hal bisa terjadi *cough*.

mungkin ya (mungkin doank) ada pihak-pihak yang menginginkan supaya kepentingannya terlindungi.

apa efek samping dari sistem milik VC ini?

tidak semua VC itu baik. ada juga yang kurang baik.
goal dari VC adalah exit dengan ROI yang bagus, yaitu lewat meningkatkan nilai perusahaan.

meningkatkan nilai perusahaan ini mirip dengan kesuksesan perusahaan, tapi secara jangka panjang sebenarnya berbeda.

VC sebenarnya tidak butuh perusahaan harus sukses hanya supaya mereka bisa exit dengan baik.
VC hanya perlu perusahaannya untuk bertumbuh makin besar, dan menjualnya ke pihak berikutnya yang mau membelinya dengan harga lebih tinggi.

entah itu investor VC berikutnya, perusahaan yang mau mengakuisisi, atau masyarakat awam setelah IPO.

kepentingan VC sekilas memang benar selaras dengan kepentingan founder, tetapi sebetulnya itu hanya sampai pada titik tertentu saja, yaitu pada titik exitnya VC.

founder yang baik akan bisa lebih berhati-hati

founder yang baik akan dapat mempersiapkan mekanisme pertahanan perusahaannya terhadap investor yang punya motivasi melakukan short-term gain, yang sebenarnya tindakan short term gain ini akan melukai kepentingan founder dan investor jangka panjang yang menginginkan kesuksesan jangka
panjang perusahaan.

tindakan taking short term gain ini bisa lebih diminimalkan dengan sistem perjanjian yang bagus.

dan bagaimana dengan founder yang kurang bagus?
mereka akan dengan serta merta menerima proposal perjanjian VC apa adanya; tanpa negosiasi at all.

as a founder: you have to know the rules of your game to not to lose.

anda tak harus jadi VC untuk bermain seperti VC.

beberapa waktu lalu, sekitar 20% portfolio investasi Berkshire Hathaway juga dilakukan lewat jalur privat, bukan lewat beli saham public sama seperti masyarakat awam.

meski bukan VC, investasi lewat jalur privat memungkinkan Warren Buffett untuk menetapkan klausul-klausul perlindungan investasi seperti anti-dilusi dan klausul istimewa lainnya. sehingga hal ini memberi akses kemewahan yang tak akan bisa didapatkan oleh investor saham awam.

investor saham publik / umum tidak memiliki mekanisme perlindungan investasi.
tapi investor saham privat bisa punya berlapis-lapis klausul untuk mempertahankan nilai investasi mereka.

karena itulah dikatakan bahwa dalam dunia investasi Buffett is playing to win, and not to lose.
never lose your money, he said.

so, to be effective: you will have to know your game.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *