memento senectutis 2 min read
ada istilah bahasa latin terkenal, memento mori, yang artinya “ingatlah [hari] kematianmu” / “ingatlah nanti engkau akan mati.
adajuga memento vivere: remember to live. ingatlah untuk tetap hidup.
postingan kali ini adalah tentang memento senectutis: ingatlah suatu saat nanti [kamu] akan tua.
ingatlah nanti engkau akan menjadi lanjut usia.
tentunya diasumsikan kita tidak akan mati muda/duluan.
di usia lanjut, kita akan menerima hasil dari apa yang kita tabur di masa muda. masa-masa harvest / panen.

sisi kesehatan
apabila di usia muda kita tidak pernah berolahraga, sering tidur malam / pagi, kurang tidur, makan sembarangan, mungkin di masa tua tubuh kita akan lebih merasa tidak sebugar orang yang menjaga kesehatan tubuhnya dengan baik.
sisi kejiwaan
apabila semasa muda kita jadi orang yang saklek, kaku, ga cengli sama orang, pendendam, kontak orang kalau ada perlunya saja — mungkin pada hari tua tidak akan ada yang mau bergaul dengan kita. orang akan jadi malas mendatangi kita meskipun misalnya kita perlu bantuan orang lain.
sisi keluarga & teman
ini juga mirip. apakah selama ini kita sudah punya hubungan yang baik dengan keluarga dan teman, sudahkah kita memperlakukan mereka dengan baik.
bila kita jadi orang yang menyebalkan, mungkin bahkan keluarga dan teman kita akan malas bertemu dengan kita juga.
sisi finansial
apabila semasa muda kita malas-malasan, kelewat konsumtif, tidak pernah menabung / mempersiapkan keuangan di hari tua dengan baik, maka di hari tua kita hanya akan bisa hidup dengan uang seadanya dan harus ngirit-ngirit.
apalagi kalau nanti ternyata kita sakit dan membutuhkan assistance dari suster, dan obat-obatan, tabungan bisa mengalir keluar dengan cepat seperti aliran sungai.
sisi rohani
dari sisi rohani, apabila kita semasa muda tidak pernah berusaha mencari TUHAN ketika usia lanjut mungkin mindset kita sudah akan penuh dengan pemahaman-pemahaman sendiri, dan sudah tidak bisa menerima TUHAN dalam hati lagi. meskipun secara hati ingin tetapi pikiran dan lidah menolak.
sisi pendidikan / ilmu / skill / ketergantungan
apabila selama ini kita hanya berkutat di 1 bidang, atau kita menggantungkan diri pada pasangan kita untuk hal-hal tertentu seperti, namun tidak terbatas pada, makanan di rumah, urusan pembayaran tagihan, mencari duit — apabila pasangan kita sudah tidak ada, mungkin kita akan menjadi kelimpungan kalau harus mengurus semuanya sendirian.
usia penutup
“beruntung” kalau kita hanya hidup s/d umur 75. tapi apabila kita hidup s/d umur 90 atau 100 lebih, tentunya akan membutuhkan persiapan yang lebih matang.
apalagi ya, hal yang perlu disiapkan?
sudahkah anda berpikir & mempersiapkan masa tua anda?