founder yang serakah akan sulit maju. 3 min read

tahukah anda, mayoritas investor profesional tidak akan mau mendanai sebuah startup yang hanya berisikan solo founder (1 founder saja)?

latar belakang

hal ini sangat wajar, karena:

kalau seorang solo founder tiba-tiba sakit, atau meninggal, lalu bagaimana dengan kelanjutan investasi besar yang dilakukan oleh para investor?

alasan kedua,

sebuah startup yang dilakukan oleh 1 founder saja sangatlah berat.

tidak ada yang tidak mungkin, tetapi si founder ini harusjadi superman, karena harus mengurusi semua: dari sisi pengembangan produk hingga marketing hingga recruitment+leadership dan pencarian dana untuk tahap berikutnya.

resiko kegagalannya menjadi sangat tinggi, apalagi kalau si founder memilih jalur fast-track: menerima pendanaan yang besar sehingga justru ada semakin banyak hal harus dikelola.

analogi

bayangkan anda adalah seorang Indiana Jones, anda mengetahui ada harta karun yang amat besar di dalam sebuah piramid.

anda punya pilihan:

  1. pergi sendirian
  2. mengajak seorang teman
  3. mengajak 5 orang teman

anda tidak tahu ada jebakan apa dalam piramid. kalau anda pergi sendirian, sekali saja salah langkah, misi harta karun berakhir.

kalau anda pergi dengan seorang teman, akan ada orang yang ikut mengawasi keadaan sekitar apakah ada jebakan atau tidak. harta karunnya harus anda bagi berdua (tidak harus 50:50) tapi kemungkinan anda selamat lebih besar.

kalau anda pergi dengan banyak teman, anda bisa membentuk team-team kecil, sehingga kalau ada yang terjebak, yang lain bisa mengirimkan misi penyelamatan.

harta karunnya harus dibagi dengan banyak orang, tapi kemungkinan anda tetap hidup sangat besar.

begitu anda pergi seorang diri, kemungkinan anda mati di tengah jalan resikonya naik secara eksponensial. semakin lama anda berada dalam piramid, kemungkinan mati semakin tinggi. belum kemungkinan tersesat.

studi kasus

skenario no 1 (solo founder) ini dialami oleh seorang founder startup indonesia yang telah mendapatkan pendanaan triliunan, yang memang pada dasarnya ia seorang superman.

ia sebetulnya tidak serakah, dan ia memang mampu mengerjakan semua sendirian, hanya butuh waktu yang lebih lama untuk membangun di awal.

tapi ia baru menyadari belakangan ketika investornya tidak berminat invest pada startup dengan solo founder — sehingga akhirnya ia harus mencari orang yang bisa menjadi co-founder.

skenario no 2 (mengajak teman) dialami oleh banyak founder startup kebanyakan.

dan skenario no 3 (mengajak team), memang dipilih oleh sebuah startup indonesia bernama Tani**b yang memang dimulai dengan 6 (co) founders.

berbagi kue

kepemilikan (equity) startup dimulai dari 100%, semuanya awalnya adalah milik anda sebagai founder. kemudian anda harus berbagi equity dengan investor, mungkin investor 15%, anda 85%.

tapi yang 85% ini, sering kali harus dibagi lagi dengan pihak-pihak lain. hampir pasti investor akan meminta si founder untuk mengalokasikan 10-20% equity yang akan diberikan sebagai bonus pegawai dalam bentuk ESOP (Employee Stock Ownership Plan).

sehingga equity founder mungkin akan tersisa 65-75%. inipun sering kali juga masih harus dibagi lagi dengan co-founder yang lainnya.

semakin equity bisa dibagi lebih merata — misalnya porsi ESOP dibuat cukup besar investor akan lebih memiliki ketenangan hati (termasuk juga investor pada tahap pendanaan berikutnya), karena masa depan startup nantinya tidak akan bergantung pada kinerja 1 orang (founder) saja.

founder yang memiliki equity kelewat besar sehingga anggota team yang lainnya hampir tidak mendapatkan apa-apa, biasanya tidak akan terlalu di-favor oleh investor.

kecuali mungkin kalau foundernya bisa mengelola startup yang perform extraordinary well seperti zuck di awal. tapi zuck adalah outlier, dan 99.9% anda bukanlah seorang zuck.

sistem startup yang baik adalah founder yang bisa berbagi dengan orang lain: kepemilikan terhadap perusahaan cenderung lebih merata.

karena itulah “perusahaan” dalam bahasa inggris disebut juga dengan “company”,
dimana “company” itu sendiri juga memiliki arti “adanya orang lain yang turut menemani”.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *