Do the work 3 min read
12 tahun yang lalu saya pernah mencoba mengerjakan startup. mencoba merekrut orang untuk bekerja bersama, pernah juga.
dalam berbagai pengalaman business venture (kerjasama dengan orang lain), saya melihat ada hal yang sama yang sering kali terulang. dan saya menyebutnya ini sebagai sebuah penyakit — karena ini adalah istilah yang lebih tepat. penyakit ini dapat menyebabkan kegagalan bisnis tersebut.
apa nama penyakitnya?
this is the one:
“everybody wants to get rich;
but nobody wants to do the [dirty] work.”
the minimum work required
semua orang ingin jadi kaya & sukses. tetapi banyak yang berusaha mengerjakan pekerjaannya dengan usaha seminimal mungkin.
banyak orang akan datang ke meeting, menghabiskan waktu di meeting, tetapi ketika sampai pada bagian mengerjakan tugasnya, hasilnya minimal. bisa menghasilkan pekerjaan dengan hasil yang standar sudah bagus. ini hampir tidak ada bedanya quiet quitting.
mayoritas ingin menjadi bos. tidak selalu harus bos pada posisi puncak, namun setidaknya bisa jadi manager yang cukup menyuruh-nyuruh orang lain yang kerja.
kalau ini terjadi pada startup yang sudah mapan, ya mungkin masih bisa terjadi dan tidak kentara.
tapi kalau untuk startup yang masih tahap awal perintisan dimana dibutuhkan banyak persiapan dan pekerjaan, it’s a big NO NO. major red flag.

saya pernah juga mendapati ini pada interview founding team startup beberapa waktu yang lalu. ada kandidat berkata kemampuannya bagus dalam mengorganisir team. kemudian ia berkata bahwa harus ada orang lain yang mengerjakan bagian dokumennya, karena ia sendiri tidak mampu membuat dokumen, bahkan yang sesederhana apapun.
prinsipku di startup yang saya kerjakan, sebagai startup IT, kemampuan untuk membuat dokumen bukan lagi menjadi penting, tetapi merupakan suatu keharusan — karena sebagian besar komunikasi akan terjadi secara digital. dan tentu saja orang-orang tersebut tidak saya terima.
karena jika apabila seseorang bahkan tidak punya kemampuan membuat dokumen, maka ia tidak seharusnya bekerja di startup IT. tak ada tempat bagi orang dengan bossy attitude di early stage startup. everyone should do the dirty work.

selain itu dari kandidat yang lain, ada juga yang bilang kalau dia bisa kerja semangat kalau ada temannya (artinya: kalau tanpa team, dia ga terlalu bisa kerja).
ada yang bilang dia bisa kerja bagus kalau ada bawahan yang bantu eksekusi pemikirannya (artinya: dia mau jadi bos).
ada yang hanya mau bergabung kalau dia menduduki posisi VP (vice president).
ada yang tidak mau bersusah payah mempelajari pengetahuan yang diperlukan, tapi mau langsung dapat hasil besar.
ada yang ngasih syarat dia buat bergabung adalah, kalau dia ga bisa meeting di atas jam 9 malam karena dia disuruh orang tuanya tidur tepat waktu, dan ga mau lembur (kita ga bakal ngajak meeting di atas 9 malam juga sih, tapi ya ga perlu menyampaikan seperti itu juga kale).
ada juga lainnya yang memberi tanda ga mau kerja extra mile dengan mengatakan, di dunia ini ga ada orang yang mau bekerja lebih tanpa bayaran.
saya rasa saya sudah cukup melihat banyak kandidat sampai bisa menarik benang merah yang hampir selalu sama.
“everybody wants to get rich (like every single one);
but nobody wants to do the [dirty] work.”
kerja gampang banyak duit.
emang nikmat.