Startup legal & documents 4 min read

legal itu mahal. orang-orang dari bidang legal bisa menghidupi keluarga mereka dari mengerjakan legal, dan sering kali, lebih dari baik.

biaya legal, adalah salah satu biaya yang bisa menguras kocek startup di awal — karena startup yang bagus seharusnya punya dokumen perjanjian yang bagus dan lengkap, baik itu perjanjian buat employment/employee, perjanjian buat investor, perjanjian buat partner, dan lain-lain.

kemudian juga masih ada dokumen-dokumen yang membutuhkan review dari team legal, seperti sistem kompensasi dan sebagainya.

Mempersiapkan dokumen legal untuk startup

prinsip saya sebagai orang yang kurang mengerti legal adalah, jangan kita membuat sebuah dokumen dari 0 atas kreativitas kita sendiri. tetapi carilah dokumen referensi yang bagus, sehingga tidak ada point-point penting yang tertinggal.

karena itu saya mencari referensi dokumen perjanjian dari internet. dan saya merasa ini adalah godsend (pertolongan TUHAN), saya menemukan website dimana tersedia dokumen-dokumen perjanjian confidential perusahaan-perusahaan besar, dari microsoft, facebook, jp morgan, spotify, chevron, mcdonald, dan lain-lain.

dan selama beberapa hari terakhir ini, kerjaanku mendownload dokumen-dokumen tersebut. btw ini aktivitas yang sepenuhnya legal ya, karena semua dokumen tersebut adalah public domain.

total ada lebih dari 10.000 dokumen yang berhasil dikumpulkan. mulai dari dokumen buat perjanjian kerja sheryl sandberg (orang nomor 2 di fb), sampai dokumen license agreement, arbitration agreement, joint venture agreement, share subscription, shareholder meeting, non disclosure agreement, dan lain-lain.

mayoritas perusahaan besar itu memiliki perjanjian yang panjangnya ajubileh. NDA (non disclosure agreement) saja panjangnya bisa 5 halaman. employment agreement 30 halaman. dan saya tinggal meng-copy-paste dokumen-dokumen ini, memodifikasi sesuai kebutuhan, dan ta-daa … jadi deh world class documents.

para professional bidang legal sifatnya hanya membantu memverifikasi dan menambahkan bagian yang kurang-kurang saja.

sehingga salah satu strength startup ku setelah ini harusnya dalam hal document, karena saya untuk 1 jenis perjanjian sudah punya ratusan referensi dokumen dari perusahaan-perusahaan besar. best practice documents. misalnya rasanya employment agreement saya panjangnya berkisar 40 halaman.

employee akan jadi ga akan berani bertindak yang aneh-aneh, karena untuk segala hal yang mungkin menyimpang sudah diberikan pagar. setiap klausul yang ada dalam employment agreement itu berarti menurunkan resiko terjadinya kasus / permasalahan dari employee / internal di masa depan — sehingga business bisa fokus pada operasional-nya.

Obsesi pada dokumen

team startup saya sempat mendelik (matanya melotot) ketika saya mengatakan: “aku mau employment agreement-nya panjangnya 40+ halaman” yang artinya dia harus menambahkan 15 halaman lagi.

menurut dia hal ini tidak mungkin. tetapi saya menjelaskan mengapa hal itu mungkin.
dan saya tidak mau menerima kata tidak mungkin.
akhirnya dia hanya bisa pasrah mengikuti permintaan saya 😄

di meeting kemarin, aku jelaskan ke team mengapa dokumen itu penting.
karena dokumen adalah sistem, dan sistem adalah dokumen.

sistem yang tidak terdokumentasikan, 3-4 tahun lagi mungkin sudah tidak akan dilaksanakan lagi.

Dokumen sebagai benchmark team startup

saya hanya menilai sebuah team dari startup tahap awal itu bekerja atau tidak, adalah dari dokumen yang mereka hasilkan — bukan dari meeting-meeting yang dilakukan.

saya mengatakan bahwa, meeting-meeting itu nilainya mendekati nol buat saya. talk doesn’t cook rice. banyak mengobrol di meeting itu ga ada gunanya, kecuali kalau bisa menghasilkan dokumen, atau hasil kerja lainnya. yang penting bukan hanya mengobrol saja.

pernah ketika saya menyampaikan hal ini di depan sebuah team, saya langsung diprotes oleh mereka. mereka berpandangan, ada orang yang bagus di belakang meja, tapi juga ada orang yang bagus di lapangan.

saya menjelaskan: harusnya team yang mengikuti standar perusahaan, bukannya perusahaan yang menurunkan standar mengikuti cara kerja team. founding team toh nantinya akan menempati posisi manajerial, dan akan susah bagi sebuah startup kalau founding team-nya tidak punya kemampuan untuk membuat dokumen.

lagipula kalau startup IT tidak berencana cuma jadi level UMKM melainkan ke level korporasi — tidaklah mungkin bisa mencapai level korporasi tanpa dokumen-dokumen yang lengkap. dokumen yang lengkap akan membuat resiko bisnis jadi menurun, membuat investor lebih mudah dan bersedia berinvestasi.

akhirnya ya, penjelasan saya bisa diterima sama team yang ada. meskipun, sebetulnya kalau mereka ga bisa menerima pun, ya tetap harus dilaksanakan 😅

entah bagaimana dengan founder yang lain, tapi kalau bagi saya, team startup tahap awal haruslah bisa membuat dokumen. ga perlu harus kelewat jago seperti orang legal, tetapi minimal bisa membuat dokumen yang bisa dibaca manusia, dengan struktur yang baik.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *