Berhati-hati dalam menerapkan sistem punishment 3 min read
banyak orang mengira membangun perusahaan itu semudah merancang sistem reward & punishment.
sistem reward & punishment memang membangun budaya berdasarkan kinerja. ada akuntabilitas, KPI, disiplin, kinerja.
tapi realitanya di lapangan adalah sistem punishment yang maksudnya baik, untuk menjaga performa, terkadang bisa justru membuat situasi bertambah parah.
ada sebagian sistem punishment justru menimbulkan ketakutan dan membuat orang mengambil jalan pintas.
Kereta Api Jepang
di tahun 2005 di perusahaan kereta api Jepang bernama JR West, ada seorang masinis 23 tahun bernama Ryujiro Takami terlambat sekitar 90 detik. bagi banyak perusahaan, ini hanya keterlambatan kecil dan bisa dimaafkan. tapi di perusahaannya, terlambat bisa berarti “dayshift education”:
sebagai hukuman, Takami diminta untuk membersihkan toilet, memotong rumput, menyalin buku aturan dengan tangan, menerima teguran dan tekanan selama 13 hari.
10 bulan kemudian di pagi hari 25 April 2005, ia kembali terlambat.
ia panik.ia tidak mau kembali menjalani hukuman yang sama, yang sepertinya membuatnya cukup trauma.
ia mencoba mengejar waktu. ia membuat kereta api masuk ke tikungan dengan kecepatan jauh di atas batas aman, seharusnya tikungan hanya bisa menerima 70km/jam, ia memasukinya dengan kecepatan 115km/jam.
beberapa detik kemudian, kereta tergelincir dan menghantam bangunan apartemen di Amagasaki.
107 orang meninggal. 562 orang terluka.
hasil penyelidikan akhirnya menyebut budaya punishment perusahaan sebagai salah satu faktor yang berkontribusi terhadap tragedi tersebut.
moral of the story
Jepang dikenal sebagai bangsa dengan disiplin yang tinggi. founder startup juga banyak yang ingin team-nya punya disiplin yang tinggi, dan menerapkan aturan ketat yang bisa menggunakan sistem hukuman.
ketika resiko mendapatkan hukuman terlalu berat, orang yang terdesak bisa melakukan jalan pintas.
dalam konteks startup itu bisa berarti: manipulasi angka, laporan palsu, program yang sepertinya terlihat berjalan namun sebenarnya banyak bug yang tertinggal, shortcut operasional, burnout, dan keputusan-keputusan panik lainnya.
startup yang dibangun di atas dasar budaya hukuman akan menciptakan budaya ketakutan. dan semakin orang terdesak dalam ketakutan, potensi orang melakukan jalan pintas hanya untuk bertahan hidup menjadi semakin besar.
berhati-hati menerapkan punishment
budaya kerja adalah sesuatu yang seakan tak terlihat, dan sering kali disepelekan oleh investor ketika mereka berinvestasi ke startup. tetapi membentuk budaya yang baik tidaklah mudah, padahal budaya punya peran yang sangat besar dalam membentuk masa depan perusahaan.
punishment yang baik seharusnya:
- memperbaiki perilaku (konstruktif) bukan mempermalukan
- menciptakan pembelajaran, bukan ketakutan
budaya perusahaan yang baik adalah yang bisa membuat orang bisa mengakui kesalahan lebih cepat sebelum berubah menjadi bencana.
untuk mencapainya: kurangilah perilaku marah-marah, suka menghukum, melempar kesalahan, dan mempermalukan bawahan.
dan ini berlaku dari pimpinan tertinggi (CEO/Founder) hingga leader siapapun di perusahaan. meskipun anda sendiri sebagai pimpinan mungkin tidak melakukannya, apabila hal ini dilakukan juga oleh orang lain maka anda juga harus menegur / memperbaikinya.