pain points 4 min read
pain point adalah:
“hal tetap atau berulang yang sering mengganggu pengguna/pelanggan, atau membuatnya tak nyaman”.
banyak startup berusaha membuat produk awesome.
tapi apabila si founder memiliki ego yang kelewat tinggi dan sombong, mungkin ia akan sulit jujur pada diri sendiri bahwa produknya memiliki sisi kekurangan.
Amazon
salah satu alasan amazon berhasil adalah karena amazon berhasil mengidentifikasi pain point apa saja yang membuat usernya tak nyaman berbelanja.
jumlah klik yang terlalu banyak dari proses pencarian produk, penambahan produk ke keranjang,
hingga proses checkout, semua berusaha dikurangi seminimal mungkin.
lain startup, lain pain points.
apa sebenarnya
seperti apa pain point itu?
apapun dari:
- “aku tidak dapat melakukan X”
- “X menggangguku dari aktivitas Y”
hingga:
- “butuh waktu terlalu lama untuk memesan pizza”
- “aku tidak dapat secara akurat memprediksi penyebab masalah pada mesin mobil”
tricky
terkadang pain points ini tricky, karena:
apa yang coba dilakukan oleh startup berbeda dengan apa yang dibutuhkan oleh user.
misalnya salah satu fitur startup adalah kompresi file.
tetapi sebetulnya yang dibutuhkan oleh user bukanlah “kompresi” — melainkan “aku perlu mengirimkan file lebih cepat” atau “aku butuh space penyimpanan yang lebih besar”
kerugian
pain point juga bisa berupa kerugian user akibat:
- kerugian “biaya tinggi” oleh solusi yang ada di pasaran
- kerugian “waktu” akibat proses yang tidak efisien, sehingga tidak produktif
- kerugian akibat ribetnya “proses”.
misalnya: sebelum ada online marketplace, mau cari rumah atau barang yang dijual dengan spesifikasi yang kita inginkan, prosesnya akan terasa sulit bahkan mungkin bisa makan biaya tinggi.
ini memang jadi keuntungan bagi seller karena mereka bisa menjual lebih mahal, tapi kerugian bagi user.
karena itu kita harus mendengarkan dan mengamati apa yang sebetulnya menjadi keluhan user dengan seksama.
mengindetifikasi
bagaimana untuk mengidentifikasi pain point?
startup harus dengan rendah hati berusaha mencari tahu dan mau untuk menerima feedback negatif dan kritik, baik dari user-nya sendiri, maupun dari orang luar.
jangan hanya fokus pada membangun sebuah produk yang hebat.
tapi juga alokasikan waktu untuk mendengar, mendengar, dan mendengar.
seperti kata Bill Gates
“Your most unhappy customers are your greatest source of learning”.
untuk bisa mendengar dengan baik, anda harus punya kerendahan hati & bisa mengesampingkan ego anda: bahwa produk/layanan startup yang anda buat, tidaklah sempurna.
yang menarik, kadang yang memiliki ego tinggi, sibuk sendiri, dan tidak mau belajar, mungkin bukanlah founder-nya sendiri, tetapi justru jajaran executive-nya.
dan hal inilah yang dikritik oleh Musk: terlalu banyak lulusan MBA yang diserahi tanggung jawab menjalankan perusahaan. orang dengan gelar MBA pintar di akademis, tapi banyak yang justru buruk di lapangan.
build a business from a pain point
keberhasilan mengidentifikasi pain point, dapat membuahkan sebuah startup sendiri.
AirBnb
AirBnb berhasil mengidentifikasi pain point dari para traveler, yaitu mereka sebetulnya tidak butuh fasilitas penginapan selengkap hotel berbintang, yang mungkin jaraknya juga jauh dari tempat si traveler hendak melakukan aktivitas, dengan cara memanfaatkan ruangan kosong tidak terpakai yang banyak tersedia oleh pemilik rumah.
Dropbox
Dropbox berhasil mengidentifikasi ribetnya melakukan proses transfer file dari berbagai komputer, smartphone/tablet, laptop, yang dimiliki oleh seseorang, dan memungkinkan pengiriman file ke rekan kerja/orang lain dengan mudah.
Gojek
Gojek berhasil meng-“optimize” proses pemesanan ojek yang tidak jarang butuh waktu lama, dan memberikan rasa aman pada pelanggan dengan sistem rating pada driver.
existing pain point
semua masalah yang ada di lapangan, adalah pain point dari existing businesses; dari bisnis atau industry yang sudah ada. hat-hal kecil yang kelihatannya sepele, namun apabila dikalikan dengan banyak populasi di dunia, ternyata bisa punya market yang besar juga, billions of USD.
dalam hal ini, seseorang harus punya sensitivitas dan bisa mengamati hal-hal kecil sederhana yang sering kali luput dari perhatian orang. baik dropbox airbnb gojek, sebetulnya sama-sama memberikan solusi terhadap masalah yang sehari-hari ada di depan mata semua orang.
tapi hanya mereka (para founder startup ini) yang menyadari dan mau melakukan sesuatu terhadapnya.
because if you want to make a billion dollars, you might to need to solve a billion people’s problem.