Resiko 2 min read

hal apa yang membedakan seorang startup founder dengan bawahannya?

hari ini si doi sharing ke aku:

“ini ada seorang founder startup unicorn berkata bahwa, di startup dia itu ada banyak orang pintar, tetapi tidak semuanya qualified menjadi startup founder.”

memang benar, tidak semua orang pintar bisa menjadi startup founder.

apa yang membedakannya?

👉 keberanian untuk mengambil resiko 👈

berani

ini tentu bukan berarti startup founder boleh bodoh.

startup founder, selain pintar, juga harus berani mengambil resiko.
resiko yang terukur, tentunya.

banyak orang pintar, tetapi tidak berani mengambil resiko.

atau minimal, tidak semua orang pintar bisa mengkalkulasi resiko dengan baik,
lalu punya keberanian untuk mengeksekusi ide dan rencananya.

derisking

jeff bezos mengatakan bahwa tugas startup founder adalah menghindari resiko. meminimalkan resiko.

tapi dari semua resko yang berhasil ditangani, yang berhasil di derisking (dicarikan solusi untuk menanganinya), masih akan ada hal-hal beresiko yang tersisa, yang mau tak mau tetap harus dihadapi.

  • founder level dasar: mengerti resiko
  • founder level menengah: mengambil resiko
  • founder level tertinggi: menjalani & menghidupi resiko.

apa artinya?

hard times are a revealing time

di dalam startup bisa jadi akan ada banyak orang pintar di jajaran atas.

tapi ketika startup dalam keadaan sulit, tidak semua akan mau bertahan di startup tersebut.
sebagian mungkin akan menyelamatkan dirinya sendiri.

jangankan petinggi perusahaan. apabila ada seseorang ikut bergabung jadi co-founder — untuk membantu founder pertama startup yang memiliki ide dan konsep awal startup — itupun co-founder pembantu tersebut tak akan selalu mau berjuang mati-matian.

satu-satunya orang yang bisa diharapkan untuk menyelamatkan perusahaan sering kali adalah founder pertama, yang berani mengambil resiko dan mempertaruhkan segalanya.

my baby!

startup itu seperti seorang bayi.
founder pertama seperti orang tuanya, yang akan meresikokan segalanya.

co-founder lain, mungkin ya bisa seperti orang tua asli,
tapi bisa jadi juga seperti orang tua tiri yang belum tentu peduli pada anak tirinya.

terlebih lagi orang lain, yang bukan merupakan orang tua.
sepintar apapun baby sitter, sebaik apapun baby sitter, kalau harus memilih antara hidupnya atau hidup bayinya orang lain, mereka hampir tidak mungkin akan mempertaruhkan hidupnya demi sang bayi.

the one who can risk it all, is only the real parent.

ia yang berani meresikokan segalanya,
barulah adalah orang tua yang sebenar-benarnya.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *