MVP is for the weak 5 min read
dalam teori startup 10 tahun terakhir, dikatakan bahwa founder startup dapat melakukan validasi ide dengan jalan membuat prototype (disebut dengan MVP, produk minimum yang bisa digunakan).
teori ini populer karena memberikan kenyamanan bagi industri startup.
tetapi yang terjadi di lapangan adalah:
mayoritas startup tersukses di dunia diluncurkan tanpa yang namanya validasi ide atau bahkan MVP.
inilah bedanya teori dan praktek.
bukti
butuh bukti (bukan janji) bahwa startup sukses diluncurkan tanpa MVP?
ini dia:
1. Apple
tidak dilakukan riset pasar, duo Steve hanya ingin komputer pribadi yang bisa dipakai di rumah. hanya mengandalkan logika dan intuisi, tapi mereka menjadi salah satu tonggak industri PC terpenting.
2. Facebook
zuck tidak pernah melakukan riset pasar, atau validasi ide. zuck hanya membuat ulang ide yang ia dapatkan dari si kembar Winklevoss. nama startup-nya saja TheFacebook, sebelum diubah menjadi Facebook
3. Airbnb
tanpa MVP, tanpa riset. chesky & gebbia hanya hanya bikin website sederhana untuk menyewakan air matress di apartemen mereka.
4. Twitter
ini proyek sampingan dari startup gagal. tak ada validasi, hanya diluncurkan untuk team intemal
5. Instagram
berawal dari app bernama Burbn yang terlalu kompleks dan tidak divalidasi. Foundernya langsung cut semua fitur, dan luncurkan ulang IG tanpa tes pasar.
6. Tesla
musk tidak pakai bikin MVP yang bisa dites user. Tesla langsung bikin roadster. tak ada MVP, langsung gas ke visi maksimum.
7. Snapchat
Spiegel tidak melakukan validasi bikin app dengan foto yang menghilang, bahkan hampir semua orang bilang ini ide buruk. tidak pakai MVP, langsung dilempar ke pasar.
8. Paypal
awalnya dibuat untuk mengirim uang lewat PalmPilot bukan lewat e-mail apalagi e-commerce. PayPal pivot (ganti strategi bisnis) dua kali sebelum menemukan bentuk yang paling masuk akal.
9. Netflix
Hastings meluncurkan penyewaan DVD lewat pos. tak ada MVP tak ada survei. hanya percaya logika kalau orang akan lebih suka menyewa DVD tanpa denda keterlambatan.
10. Uber
tak ada survei atau MVP. Garrett & Kalanick langsung bikin iPhone app untuk memesan mobil mewah di San Fransisco.
11. Youtube
3 mantan karyawan paypal kesal karena sulit kirim video lewat email. no riset no validasi. versi pertama langsung diluncurkan ke publik.
12. WhatsApp
Koum membangun app dengan fungsi penuh yang menunjukkan status user (busy/available), baru kemudian jadi app untuk pesan instan. tanpa riset.
tidak pakai MVP
Pinterest, Spotify, TikTok, SpaceX, Palantir, Zoom, Stripe dan berbagai startup lainnya — semua tidak menggunakan validasi ide atau MVP.
mengapa mereka bisa berhasil?
- faktor founder yang kuat
- keberanian melompati MVP
- kualitas produk bagus
- lebih percaya pada visi besar akan mengalahkan validasi
MVP adalah jebakan.
banyak praktisi startup yang merasa konsep MVP ini juga kurang pas.
googling saja: “minimum sellable product”, “minimum lovable product”, dan “minimum xxx product” lagi yang lainnya.
praktisi startup diarahkan untuk membuat produk minimum, dan meminta mereka mengetesnya di pasar apakah ini bisajalan atau tidak.
let’s say, pasar butuh kualitas 6/10 baru mereka mau beli. tapi praktisi startup membuatnya dengan kualitas 4/10.
apakah bisa diminati pasar?
tentu tidak!


jadi terkadang anda akan butuh diving all in untuk tahu ide anda jalan atau tidak. the leap of faith.
MVP justru menyebabkan orang membuat prototype separuh jadi, dan, ketika MVP tersebut tidak mendapatkan respon pasar, lalu praktisi startup tersebut menyerah.
kalau MVP berhasil mungkin bisnisnya bisa jalan. kalau MVP tidak berhasil, bukan berarti bisnisnya tidak jalan.
apa artinya?
penawaran dari MVP ini lemah sekali.
mungkin hanya berguna untuk startup-startup yang tidak punya visi.
saya rasa lebih baik sebuah startup / perusahaan punya visi yang jelas, yang besar, masuk akal di logika, dan hal tersebut dieksekusi.
masalah temyata nantinya tidak diterima pasar, tinggal disesuaikan lagi untuk hal-hal yang memang perlu disesuaikan. dan founder & team yang hebat, akan mampu menyesuaikan diri.
resep startup yang sukses
sehingga menurut saya, resep dari startup yang sukses bukanlah MVP, melainkan:
- founder yang bagus/capable
- obsesi / dorongan sukses yang kuat; dan
- visi yang besar.
sebagaimana anda akan dapati semua karakteristik ini pada founder seperti Steve Jobs, Zuckerberg, Gates, Musk, atau Chesky.
ketika anda punya founder seperti itu, saya percaya apapun masalah yang mereka hadapi, semuanya akan bisa ditemukan solusinya. tak peduli apapun bidangnya.
apakah steve jobs membangun MVP sebelum meluncurkan iPhone?
founder tidak menunggu validasi,
karena mereka sudah punya yang namanya conviction. keyakinan.
apa yang tidak jelas bagi orang lain, terlihat jelas bagi mereka.
keyakinan yang terbentuk dari pengalaman dan jam terbang.
visi vs MVP
MVP berguna buat orang yang belum yakin.
tapi buat orang yang yakin, ini justru akan memperlambat.
visi yang kuat tak berguna bila divalidasi dengan eksperimen kecil.
respon pasar terhadap versi terbaik bisa jadi 180 derajat dengan versi teraman.
MVP tidaklah seberguna itu.
kalau MVP jadi syarat dari sebuah startup:
maka hari ini tidak akan ada Tesla, tidak ada SpaceX maupun Palantir, yang semuanya punya kompleksitas tinggi sehingga keberadaan dan persyaratan MVP justru akan menggagalkan mereka.
versi kecil dari ide besar tidak pernah cukup kuat untuk membuktikan kekuatan idenya.
anda mungkin bisa pakai MVP untuk startup dengan ide kecil.
tapi anda tidak mungkin pakai MVP untuk startup kompleks, yang justru disitulah terdapat banyak potensi uangnya.
startup besar tidak lahir dari MVP.
mereka lahir dari maximum conviction.
kesimpulan akhir
sehingga, pada akhirnya, kalau anda sudah mengikuti semua penalaran saya pada ini, ini semuanya menyebabkan pandangan saya pribadi untuk MVP menjadi sedikit ekstrim:
MVP is for the weak!
😁