kepemilikan saham founder 5 min read
kepemilikan perusahaan biasanya ditandai istilah saham dalam unit lembar saham, atau istilah equity (english) / ekuitas (bahasa) dalam unit persentase.
misalnya, founder yang punya 80% equity dari perusahaan bernilai 1 miliar, kepemilikan dia bernilai 800 juta.
nah, berapa % biasanya kepemilikan seorang founder dalam sebuah perusahaan?
ini semua tergantung negosiasi & preferensi.
berikut yang saya pernah tahu:
founder marketplace
salah satu online marketplace terbesar di Indonesia didirikan di 2009 dengan modal 2,4 miliar.
pemodal pegang equity 80%, dan 2 cofounder pegang 20% (asumsi saya masing-masing 10%, tapi bisa saja beda tergantung nego).
si founder utama yang jadi CEO, jadi company face, punya persentase yang sedikit di awal.
tapi sebagai CEO dia mendapatkan bonus saham atas kinerjanya.
equity yang dimiliki founder utama di 2018 adalah 5.6%, seingat saya ini bemilai di atas 7 triliun.
founder dari online marketplace nasional lainnya, menurut saya lebih menarik.
ia menjual perusahaannya ke investor korporasi sebagai pengontrol utama. equity yang dimilikinya — berdasarkan ingatan saya — tidak lebih dari 1-2%.
meskipun terlihat kecil, ia aktif menjadi top management dari berbagai perusahaan startup lainnya, memiliki peran besar dalam pengambilan keputusan di berbagai perusahaan.
steve jobs
stevejobs ketika meninggal, ia punya 0.59% equity apple senilai $2.1 b dan 7.7% equity di disney, senilai $4.2b.
steve jobs adalah pemegang saham individual terbesar di disney, yang didapatkannya dari menjual Pixar ke disney.
ia meninggal dengan nilai saham $6.3b (kurang lebih Rp. 100 triliun), tidak termasuk aset lain seperti properti dan investasi lainnya.
bill gates
bill gates punya 45% microsoft ketika microsoft IPO, bernilai $233 juta di hari pertama.
paul allen, cofounder microsoft satunya, punya 25%.
sebelum bill gates menjual sahamnya dan beralih ke filantropi, ia punya 22.9% equity, bernilai $66b s/d $77b, menjadikannya orang terkaya di dunia.
di 2004 gates masih punya 10%,
2014 gates punya 3%an,
dan di 2025, kurang dari 1%.
bertahap
menjual saham dengan nilai besar tidak bisa dilakukan sekaligus, karena ini akan membuat goyah nilai perusahaannya, menggoncangkan pemegang saham lainnya.
semua founder harus melakukannya secara bertahap, supaya tidak mengejutkan publik dan mengganggu nilai perusahaan.
larry ellison, founder oracle, menjual saham yang dimilikinya setiap hari, bernilai jutaan usd.
banyak founder lain juga melakukan hal yang sama.
Jensen Huang, misalnya, menjual saham bernilai $14m per hari.
musk
elon musk masuk ke pendanaan series A ke tesla di feb 2004 senilai $6.35m dari total pendanaan $7.5m (sekita 85% dari porsi pendanaan).
tesla bernilai post money sekitar $14.5m s/d $15m.
persentase musk sulit diketahui karena tesla perusahaan privat, tapi diestimasi antara 42-45% dari tesla di 2004. musk terus berinvestasi ke tesla pada ronde pendanaan berikutnya (series B, C), dan uang pribadinya di 2008 waktu krisis perusahaan.
dari biografi musk tulisan ashlee vance, musk dikatakan punya antara 50%-60% di 2008.
musk memiliki 29.3% saham tesla ketika tesla IPO di 2010, bemilai $467.5m.
nilai saham $6.35m di 2004 jadi $657m di 2010. dalam 6 tahun nilai saham Musk naik lebih dari 100x lipat.
ninja van
ninja van, perusahaan logistik asal singapore, dan dikenal di indonesia sebagai ninja Xpress, didirikan oleh 3 founder.
di 2014 mereka punya antara 60-80%, dengan masing-masing founder antara 20%-30%.
dari salah satu artikel startup yang saya baca, akhirnya tiap founder memiliki sekitar 3% equity. valuasi ninja van terakhir adalah sekitar $2b (32 triliun rupiah) di 2021.
startup saya
startup pertama saya, di sekitar 2008-2009.
masa itu masih sangat sulit untuk membangun website lengkap dari 0.
berisi 10 orang partner semi investor dari teman saya sendiri dengan masing-masing equity 5%, dan saya 50%.
tak berjalan dengan baik (tutup) ada banyak penyebab. selain tiap orang ada porsi kesalahannya sendiri, juga konsep kurang kuat, dan manajemen yang sedang belajar mengelola perusahaan pertamanya — kurang profesional.
saya belajar jauh lebih banyak, sedikit trauma, tak ingin mengulangi kesalahan yang sama.
beruntung, startup saya yang lain, dapat pendanaan awal untuk 1.5 tahun operasional dengan equity investor 2.5% dan saya 97.5%.
startup relasi
di 2018-2019an, saya sempat diajak gabung ke sebuah startup (tetapi tidak sampai bergabung) di bidang tour & travel dari seorang relasi.
startupnya dapat investasi 3 miliar.
3 investor & 1 founder.
masing-masing 25%.
foundernya bukan dari background teknis. dia kontak saya karena saya sering membuat tulisan perjalanan startup di medsos & saya sering kasih free advice (teknis/startup) ke dia.
masalahnya, spendingnya agak ngeri kalau menurut saya.
websitenya belum jadi, orang belum bisa register, tapi sekali ngiklan habis 10 juta, voucher nginap gratis di hard rock hotel. dan banyak hal-hal lain.
dari ngobrol-ngobrol di meet-up, si founder bilang bahwa kunci keberhasilan startup itu lebih pada who-you-know. mungkin dia punya relasi yang kuat.
ia bilang, mereka sedang dalam proses pembicaraan dengan CEO startup unicorn, untuk kemungkinan investasi ke startup mereka.
tapi dalam hati saya merasa ini bertentangan dengan filosofi saya: proses itu lebih penting.
ya mungkin karena background saya dari teknis.
akhirnya saya memutuskan, tak bergabung dengan startup tersebut, meskipun saya ditawari saham dengan nilai yang separuh bebas saya tentukan sekalipun.
di 2020 terjadi pandemi. industri maskapai drop, hotel drop. seluruh tour berhenti beroperasi, tanpa ada kejelasan kapan akan mulai beroperasi lagi.
dan startup dari relasi saya inipun akhirnya tutup.
persentase ideal
berapa persentase equity founder yang ideal?
ya kalau di indonesia mungkin bisa suka-suka.
tapi di industri startup luar, VC biasanya tak berminat investasi ke founder yang punya equity kurang dari
50%, apalagi di bawah 40%.
salah satu alasannya adalah ketika perusahaan besar, equity yang kecil tak cukup memikat bagi si founder dibandingkan dengan skala perusahaannya.
equity yang sudah kecil ini akan jadi makin kecil karena startup hampir pasti akan terima seri-seri investasi berikutnya.
lalu kalau dibayangkan di masa depan, ketika skala perusahaan sudah besar, founder hampir pasti akan punya banyak koneksi kuat, dimana ini lebih memungkinkan founder hengkang dari startup awal, dan membuat founder lebih tertarik membangun startup-startup baru berikutnya.
founder yang bisa membesarkan perusahaan sampai skala besar, juga akan punya kualitas untuk mengulanginya kembali, dan ini merugikan para investor.
selain itu, persentase equity founder yang kecil di awal akan menimbulkan yellow flag bahwa founder mungkin tak punya kemampuan negosiasi yang baik dengan investor awal.