Efek Ghibli Style dari OpenAI: goodbye scarcity 3 min read
OpenAl baru-baru saja menawarkan kemampuan mengubah foto yang di upload menjadi seperti animasi ghibli.
di satu sisi, positifnya ini jadi promosi tidak langsung bagi Ghibli.
di sisi lain, negatifnya, ini menimbulkan brand dilution.
dulu kita hanya bisa melihat style Ghibli pada tayangan film Ghibli.
sesuatu yang langka, sesuatu yang kita hargai keindahannya.
tapi sekarang style animasi ini (akan) bisa kita jumpai di mana-mana.
jadi sesuatu yang umum & biasa. gaya animasi Ghibli tidak lagi jadi spesial.


spesial karena langka
sesuatu itu bisa menjadi spesial dan punya nilai tinggi karena ia langka.
dulu, ucapan ulang tahun yang ditulis tangan punya makna yang spesial.
tapi kini, orang tinggal kirim ucapan teks atau GIF di WhatsApp. ucapan ulang tahun tidak lagi menjadi spesial seperti dulu.
Starbucks, pemah menjadi suatu pengalaman yang spesial.
di tahun 2000an, mereka ekspansi besar-besaran. menjadikan dirinya sesuatu yang umum. di 2008 Starbucks menutup banyak cabangnya, menjadikan mereka eksklusif kembali.
ekspansi berlebihan Starbucks mendilusi merek Starbucks itu sendiri, membuatnya menjadi biasa, seperti fast-food.
Harley Davidson adalah merek yang ikonik. tapi merekajuga pernah melewati fasejadi sesuatu yang umum dengan melakukan over licensing: kaos, parfum, mainan.
persepsi tangguh & eksklusif mereka jadi lemah, karena logo Harley terlalu mudah dijumpai di mana-mana. setelah lisensi dibatasi, merek mereka kembali pulih.
the only one
sesuatu itu bisa jadi spesial karena ia bukan hanya langka, tapi mungkin juga the only one.
lukisan Mona Lisa di Louvre, membuat orang antri hanya untuk melihat lukisan yang, ternyata berukuran kecil.
bahkan lukisan yang dipajang inipun disebut-sebut juga merupakan replika.
tetapi ini the only replica dari aslinya yang dipajang.
apabila replika Mona Lisa kelewat banyak beredar, Louvre tentunya kurang lagi punya daya tarik utama untuk dikunjungi.
training
hampir pasti OpenAl melatih AI mereka menggunakan data ilustrasi Ghibli. saya tidak tahu ini disetujui Studio Ghibli atau tidak.
tapi kalau misalnya tidak dengan persetujuan, apakah Studio Ghibli bisa menuntut OpenAl?
saya rasa, kecuali Studio Ghibli mendaftarkan style mereka sebagai suatu HAKI, akan sulit untuk bisa menuntut OpenAl. terlebih lagi Ghibli berposisi di Jepang, OpenAl di US.
hukum US tidak mengakui hak cipta atas gaya secara langsung.
Ghibli harus bisa membuktikan bahwa OpenAl meniru elemen (seperti karakter) spesifik dari karya Ghibli. bukan “vibe” secara umum.
jadi selama OpenAl tidak menghasikan karakter khas seperti Totoro atau Chihiro, akan relatif sulit bagi Ghibli menuntut OpenAl.
kemungkinan terbaik adalah Ghibli menuntut OpenAl di Jepang, karena hukum hak cipta Jepang mengakui “moral rights”. jadi kalau OpenAl dianggap merendahkan visi artistik Ghibli, ini bisa dituntut — kalau …. kalau saja OpenAl ada di Jepang.
artists movement
pada dasamya komunitas artist desain grafis sudah membenci AI, karena AI dengan mudahnya “merampas” hasil kerja mereka. menjiplak.
darah dan keringat yang dituangkan selama berhari-hari, bisa cepat tercipta dalam waktu kurang dari 10 detik. ini menutup masa depan dari banyak artists, yang melakukan segalanya secara manual.
iklan FB untuk layanan penghasil foto dengan AI, kolom komentarnya banyak diisi dengan kebencian dari desainer grafis. dan dengan hadirnya layanan gaya Ghibli dari OpenAl, tidak bisa tidak, akan semakin menambah kebencian graphic artists ke AI.
survival
sebagai penggemar Ghibli saya merasa agak sedih saja.
karena bukan hanya Studio Ghibli harus bersaing dengan animator china, animator netflix, sekarang juga harus bertahan melawan gelombang AI.
apakah Ghibli bisa cukup kuat untuk bertahan hidup? ya, semoga saja.
AI is all fun unless you’re Studio Ghibli.

Ghibli memang tidak sampai benar-benar menuntut OpenAI, tapi terlihat ada cukup banyak netizen yang simpatik dengan Ghibli, which is nice.