apa yang founder pemula sering tak tahu tentang VC 2 min read
exit
hanya ada 2 akhir (exit) yang diharapkan bagi sebuah startup apabila ia mengambil investasi VC:
- IPO
- diakuisisi (M&A)
founder startup harus tahu, bahwa ketika VC berinvestasi ke sebuah startup,
ada 3 jalan bagi si VC untuk mendapatkan uangnya kembali:
- startupnya IPO
- startupnya diakuisisi
- VC Iain yang lebih besar pada tahap pendanaan berikutnya membeli saham VC tersebut (flipping)
jadi, satu-satunya jalan bagi founder startup untuk bisa nge-keep company-nya, adalah dengan jalan IPO.
kalau startup-nya tidak bisa IPO, maka diharapkan startup-nya akan dibeli oleh perusahaan lain yang
lebih besar. perusahaan lain yang lebih besar ini sering disebut dengan Private Equity.
Private Equity membeli perusahaan yang sudah matang, sedangkan VC adalah yang berperan menumbuhkan perusahaannya sampai siap dibeli.

the return method
contohnya ketika Facebook membeli Instagram, membeli WhatsApp. FB adalah PE-nya.
kalau perusahaan tidak IPO, tidak juga diakusisi, tapi VC nunggu return dari company profit ini terlalu lama buat ngasih return ke VC-nya. karena besar penghasilan tahunan perusahaan bagi VC tidak sebanding dengan jual saham ketika IPO atau akuisisi, dimana pembeli saham baru akan berani membayarnya dengan nilai beberapa kali dari penghasilan tahunan (company multiple / Price Earning Ratio).
misalnya, profit tahunannya $100M yang bisa masuk ke kantong VC dalam bentuk dividen. kalau dijual, VC mungkin bisa langsung dapat $1B, dan $1B ini bisa langsung diinvestasikan kembali ke startup yang lain. dan harga saham, itu sering kali bisa digore … dipersepsikan sebagai premium sehingga harganya lebih mahal. maka, VC akan selalu menekan founder untuk kapan saham VC bisa dijual?
the meaning of VC investment
jadi kalau founder startup berharap mau nge-keep perusahaannya untuk dikontrol sendiri, ya sebaiknya jangan cari VC. cari aja jenis investor yang lainnya. karena dengan terima pendanaan dari VC itu artinya founder juga harus siap untuk sewaktu-waktu menjual perusahaannya bila diperlukan.
cara kerja VC itu membantu membesarkan perusahaan untuk IPO atau dijual ke PE, atau flipping. hanya dari opsi itu VC bisa mendapatkan investasinya kembali berkali-kali lipat.
tapi flipping tidak pernah dimasukkan dalam exit plan, karena pada akhirnya, VC berikutnya yang membeli, juga pada akhirnya harus menjualnya ke PE dalam titik tertentu.
karena itu juga, salah satu pertanyaan awal dari VC untuk founder startup, adalah selalu, bagaimana exit plan-nya? ini karena VC ingin tahu apakah founder mengerti cara permainan VC atau tidak. jangan-jangan si founder mau duitnya VC doank, tapi ga bersedia jual perusahannya.