the level of details 4 min read
mengerti detail yang diperlukan dalam sebuah startup / bisnis itu sangat banyak, dan sulit untuk menjadi founder / pebisnis yang bagus kalau kita tak peduli pada detail.
untuk setiap permasalahan, ada suatu kedalaman pemikiran atau reasoning yang diperlukan untuk bisa mengambil keputusan dengan benar.
misalnya saja,
- mengapa startup yang mencari pendanaan awal biasanya dengan melepas 20% equity, bukan 10% atau 30%?
kenapa rata-rata harus di 20% gitu Ioh? - berapa sebaiknya harga saham perusahaan yang baru berdiri?
apakah 100 rupiah, 10k rupiah, atau Ijt rupiah? - berapa equity yang harus dilepas untuk founding team awal?
ada yang bilang 10%, ada yang bilang 20%,
apa sebenarnya yang bisa jadi patokannya?
ada banyak pertanyaan-pertanyaan seperti ini ketika seseorang mendirikan sebuah startup.
1. mengapa pendanaan awal untuk startup rata-rata ada di 20%?
nilai pendanaan awal akan beda untuk tiap startup.
pendanaan yang terlalu besar, boros di equity, menyisakan sedikit buat founder-nya.
pendanaan kelewat kecil, artinya modal usaha menjadi terbatas. resiko kegagalan meningkat, dan kalau modal kerja anda terlalu kecil, akan lebih sulit untuk sukses, kemungkinan anda untuk berhasil menaikkan harga per lembar saham jadi lebih kecil.
artinya, kalau startup metepas equity terlalu sedikit, ROI investor lebih sulit untuk jadi tinggi juga.
2. harga saham perusahaan yang baru berdiri
harga saham perusahaan yang rendah artinya pemegang saham jadi lebih liquid. pemegang saham jadi lebih mudah untukjual beli saham mereka.
tapi harga saham perusahaan yang tinggi, artinya kurang liquid dan pemegang saham akan cenderung lebihjarang berubah, hanya mereka yang percaya pada visi perusahaan yang akan tetap stay.
di sisi lain, ini membuat perusahaan sedikit lebih sulit untuk mendapatkan pendanaan lebih lanjut, karena tidak liquid.
3. equity untuk team awal
beberapa sumber artikel yang saya baca mengatakan: alokasikan ESOP (employee stock ownership plan) sekitar 15-20%.
tapi founding team/karyawan tidak hidup dari persentase.
manusia hidup dari nominal uang. pada akhirnya yang menentukan adalah, berapa nominal uang yang bisa mereka peroleh dalam 3, 5, 10 tahun, apabila mereka bekerja keras dan perusahaannya sukses. harus lebih dari standar market.
dan — berbeda dengan US, di indonesia ini tidak semua orang percaya pada kenaikan nilai saham.
nominal pasti > harga saham
ada suatu krisis kepercayaan orang indo terhadap nilai saham. banyak orang lebih prefer mendapatkan hard cash, karena sesuatu yang bisa dipegang itu feel-nya lebih pasti daripada sesuatu yang nilainya lebih tinggi tapi tak bisa dipegang.
bagaimanapun, saham yang bernilai X itu harus dijual dulu baru bisa dapat uangnya. siapa yang mau beli? apakah nanti orang yang mau beli sahamnya akan pada harga normal, atau jangan-jangan para pembeli belinya pada harga diskon? ada lebih banyak ketidakpastian pada saham.
founder suka menghitung dalam %, tapi karyawan hanya mengerti nominal. ada sebuah reasoning di balik tiap angka.
seorang founder perlu detail di banyak area
ini masih baru dalam area finansial, belum dalam hal teknis, dalam hal HRD, hal kultur, sales, dan lain-lain.
untuk setiap hal diperlukan reasoning yang kuat.
dari 3 contoh permasalahan di atas, bagaimana kalau founder hanya berhasil mengambil keputusan yang benar pada 2 masalah saja, tapi yang 1 masalah founder-nya salah mengambil keputusan?
maka perusahaan tidak akan jadi optimal.
antara investor yang tidak puas karena ROI kurang tinggi, atau sulit mendapatkan pendanaan, atau kekacauan pada motivasi team karena mereka menilai tidak ada kepastian yang cukup pada reward-nya.
founder berwawasan luas
founder yang punya wawasan luas itu penting. ia perlu menghasilkan keputusan berkualitas pada 10 masalah dari 10 masalah mendasar.
barulah kalau masalah mendasar sudah benar, founder masih boleh salah-salah sedikit pada masalah turunan yang tidak signifikan. tapi keputusan untuk hal-hal dasarnya harus benar.
karena itu sulit bagi seseorang untuk bisa jadi founder yang baik kalau tidak punya wawasan yang cukup.
genuine curiousity
yang dibutuhkan sebenamya bukan founder generalist.
generalist adalah hasil akhirnya.
tapi yang dibutuhkan sebenarnya adalah:
- founder yang memiliki dorongan belajar tinggi. genuine curiosity.
bisa cari tahu jawaban dari setiap permasalahan. - mampu belajar sebanyak mungkin, sehingga sebelum permasalahan itu datang, ia sudah siap.