Life start at 50 3 min read
beberapa minggu yang lalu, istri sempat menyelutuk:
“ngapain kok kamu ini harus susah-susah membangun startup. membangun startup artinya nanti tiap hari harus bekerja keras, waktu buat istirahat kurang, memegang tanggung jawab yang besar dan ga bisa bersantai-santai. kita dengan bisnis yang ada saat ini saja sudah cukup kok, sudah berjalan autopilot, bisa rileks dan menikmati hidup bersama.”
saya mengerti kenapa istri mengatakan demikian,
karena sebelumnya kita baru saja membahas tentang beberapa relasi yang pensiun di usia 55 tahun.
banyak orang setelah pensiun, akan mencari aktivitas pekerjaan lanjutan, dan mereka paling-paling akan berkarya sampai dengan usia 60-65an. lagipula kita pernah bercakap-cakap dan bagi doi meninggal usia 80-100an itu terlalu tua.
The stretch of life
saya menjawabnya, “karena bayanganku kita mungkin bisa saja meninggal usia 80-100 tahun. syukur-syukur kalau kita meninggal umur 60-70 tahun. tapi kalau kita meninggal usia 80-100 tahun? aku ingin kita masih bisa menikmati hidup selama setidaknya 30-50 tahun ke depan.”
saya memberi analogi, Mahatir Mohamad, beliau masih mencalonkan diri jadi perdana menteri di usia 97 tahun.
istri membalas, “benar juga ya, Lord Lxxxx, usianya 75 tahun dan beliau juga masih aktif berkarya.”
saya berkata ke istri, iya, banyak orang punya standar 55-60 tahun sebagai tahun akhir mereka berkarya, karena itu memang standar usia pensiun pada umumnya.
Expectation, expectation
jadi dalam hal pekerjaan, ada perbedaan pandangan antara saya dan istri:
saya sendiri merasa setelah usia 50 sekalipun saya masih berharap bisa terus bekerja. kalau bisa sampai 70-75 ya bagus juga, karena rekreasi dan hal yang membuat saya rileks justru saya temukan dalam pekerjaan 🤣
mungkin ini termasuk aktualisasi diri ya. seperti Mahatir 😅 passion-nya ada dalam bekerj … berkarya.

sedangkan istri, sepertinya lebih berpandangan: untuk menikmati hidup butuh uang, dan pekerjaan adalah cara untuk mendapatkan uang. maksudnya ya kalau ada kecukupan uang, ya menikmati hidup, hidup itu dinikmati, ngapain justru pusing dengan pekerjaan.
bagi istri pekerjaan bukanlah termasuk salah satu aktivitas dalam kategori menikmati hidup 🤣
jadi harapan saya & istri di usia 50 itu agak berbeda:
saya berharap punya banyak duit dan bisa terus bekerja,
sedangkan istri merasa duit ga perlu kelewat banyak itu gpp, yang penting bisa lepas dari pekerjaan, dan punya lebih banyak waktu untuk dihabiskan berdua.
What would you do after 50?
bagi kebanyakan orang, umumnya akan bekerja produktif pada usia 20 s/d 50 tahun. jadi biasanya pada usia 50 mereka dapat menikmati hasil kerja keras mereka. terlebih bagi mereka yang memiliki anak di usia 20an, usia 50 biasanya anak-anak sudah bisa dilepas, dan bisa kembali lebih fokus ke diri sendiri.
meskipun ya hal ini tidak selalu berlaku bagi semua orang juga, karena yang namanya hidup ini sering kali penuh dengan twist dan unexpected events.
tapi menurut saya, apabila all the life puzzle pieces fell on the right spots, maka seharusnya life will start at 50.
dan setiap orang (yang masih jauh dari usia 50) akan memiliki harapan yang berbeda, seperti apa mereka nantinya di usia 50 — sebagaimana saya dan istri yang memiliki harapan berbeda tentang usia 50 kami.
pada usia ini tentunya masih akan ada masalah dan tantangan kehidupan. tetapi bayangan saya seharusnya juga akan ada banyak harapan hidup akan bisa terealisasi di usia 50, dan mungkin akan menjadi usia paling ideal untuk memenuhi bucket list.
bagaimana dengan anda? life start at usia berapa? 😁
