Korban Bakar Uang 3 min read
malam ini selagi ngobrol dengan istri,
kita teringat dengan salah satu relasi kami, dia pengusaha tour & travel di kota kami.
prolog relasi
dia lulusan dari universitas cukup bergengsi di luar negri,
punya pegawai belasan orang, dan selain down-to-earth juga humble.
2 tahun lalu aku sempat meetup dengannya di restoran tengah kota sekitar 1.5 jam’an.
dia termasuk sering bagi-bagi ilmu di talk show & website-nya.
dia cerita bahwa dia sebelumnya juga seperti aku: antusias dengan startup industry.
dia sempat coba merilis online marketplace untuk tour & ticket, tapi berhenti di tengah jalan.
masalah bakar uang ๐ฅ๐ต
salah satu alasannya, yang dia tidak menemukan jalan keluarnya, adalah:
di bisnis tour & travel, andaikata sebagai startup tahap awal sekalipun bisa dapat pendanaan tahap awal, misalnya 5 miliar.
lalu dana tersebut akan “dibakar” buat promo tiket pesawat, maka dia bilang,
“dana tersebut bisa cukup untuk berapa lama?”
karena startup seperti travel***, yang juga jualan tiket pesawat, mereka itu bakar duit 5 miliar cuma budget buat 1 hari saja — demikian sih katanya.
jadi (kata dia) mau menyamai gaya promosi travel? hanya bisa bertahan 1 hari saja ๐
burn rate ๐ฅ๐ต
ya, memang benar.
misalnya terakhir si startup ini dapat pendanaan $250M (3,5 triliun IDR).
di 2017 juga mendapat pendanaan $500M (7 triliun).
artinya kalau dana 3,5 triliun dibakar untuk periode 1 tahun saja, tiap hari mereka bakar duit sekitar 10 miliar.
atau kalau 3,5 triliun dibakar untuk periode 2 tahun, berarti tiap hari mereka bakar duit sekitar 5 miliar.
menyadari fakta seperti ini, akhirnya dia memutuskan untuk meneruskan bisnis travel-nya apa adanya, tanpa berusaha membangun startup tour & travel.
pembicaraan lain
sebaliknya, dengan pengetahuan startup-nya yang dia “terlanjur” punya, dia berencana untuk membuat “startup incubator” (semacam kursus / training / edukasi buat orang-orang yang baru memulai startup).
dia termasuk network aku di FB, dan sering lihat postinganku jadi dia ajak aku untuk menjadi mentor di incubator yang ia mau kerjakan. sayangnya pandemi keburu terjadi, incubator tidak sampai jadi dibentuk.
entry barrier
bakar duit oleh startup besar ini memang merupakan sebuah bad news, tapi sekaligus good news.
bad karena memang menciptakan entry barrier yang tinggi buat startup baru masuk.
good karena berarti tidak banyak startup kecil yang akan menjadi competitor, kalau anda berhasil masuk.
lihat saja ekosistem startup indonesia, misalnya, pada travel industry, yang besar ya hanya startup itu-itu saja. yang lainnya? kecil-kecil semua. yang menengah sangatlah jarang, mungkin hanya 1-2 saja; hampir tidak ada.
bakar duit yang dilakukan startup besar menjadi threat kalau anda tidak bisa mengatasinya, tetapi sebaliknya akan jadi opportunity kalau anda berhasil menemukan cara buat mengatasinya.
kalau anda jadi startup kecil, apa yang akan anda lakukan untuk mengatasi strategi bakar duitnya startup besar? pasrah saja? ๐