bedanya startup dengan perusahaan biasa 6 min read
kalau seseorang baru merintis bisnis dari awal, bikin perusahaan, apakah perusahaannya bisa dinamakan startup? bukannya startup itu adalah perusahaan yang baru dimulai (start)?
startup adalah jenis perusahaan spesial yang dirancang untuk pertumbuhan tinggi. startup tidak harus perusahaan IT. perusahaan seperti ninja van dari singapore (di indonesia dikenal sebagai ninja express), itu juga termasuk startup, lho.
tapi hanya karena sebuah perusahaan baru dimulai (start), ia tidak bisa serta merta dikatakan sebagai startup. jadi …
apa sebenarnya startup itu?
ini adalah foto yang pernah nongol di wikipedia pada artikel Startup, tapi saat ini udah ga
ditampilkan lagi.

6 kriteria Startup
jadi ceritanya, untuk bisa disebut dengan startup, perusahaan perlu memenuhi 6 kriteria:
- peluang market luas
- momen market yang Bagus
- ambisi pertumbuhan tinggi
- komitmen team tinggi
- kepemilikan & skill yang seimbang
- skalabilitas tinggi
biasanya proses perintisan startup itu memakan waktu lama, sering kali 3 tahun atau lebih, sehingga diperlukan upaya berkelanjutan. dengan salah satu upayanya adalah, menerima investasi.
jika semua persyaratan terpenuhi, bisnisnya punya peluang tinggi untuk bertumbuh dengan cepat, serta ada ruang bagi investor untuk bisa masuk dan dapat return (ROI) berkali-kali lipat.
tapi kalau persyaratan tidak terpenuhi, ya, artinya kurang layak dapat invesstasi, bukan jenis bisnis yang bisa jadi besar. investor bisa saja tetap bergabung, tapi returnnya tidak akan sebesar kalau semua persyaratannya bisa dipenuhi.
jadi mari kita lihat masing-masing karakteristik dengan lebih detil:
1. peluang market luas.
market yang kecil bisa saja memberikan profit bagi perusahaan, tapi mungkin hanya cukup untuk biaya operasional saja; tidak ada kelebihan profit yang bisa dibagikan pada investor.
tapi dengan market yang besar, ada cukup ruang bagi perusahaan untuk bertumbuh besar, memberikan ROI ke investor. semakin besar market, potensi ROI ke investor juga bisa makin besar.
startup IT karakteristiknya mudah dikembangkan sampai ke seluruh dunia, karena rendahnya biaya duplikasi. kehadiran global merupakan karakteristik dari startup. misalnya startup seperti NinjaVan dari singapore bisa berekspansi ke indonesia dengan relatif mudah (di Indonesia dikenal dengan nama Ninja Express).
AirBnb bisa hadir di setiap negara di dunia — kecuali hanya 4 negara yang berkonflik (Korut karena tiap lini bisnis diatur oleh pemerintah, Iran karena sanksi US & metode pembayaran yang terbatas, Siria karena konflik dan sanksi internasional, Krimea karena secara geografis dalam konflik Ukraina-Rusia). pada dasarnya, startup dapat menjangkau market apapun di seluruh dunia yang memungkinkan untuk dijangkau.
2. momen yang bagus
bagus karena ada peluang untuk mendapatkan market yang nantinya akan jadi besar di masa depan.
dan bagus karena belum ada regulasi pemerintah.
misalnya: airbnb bisa besar karena regulasi soal menyewakan ke stranger belum diregulasi. setelah airbnb besar, operasionalnya terhambat di satu/beberapa negara bagian US, karena adanya regulasi.
gojek, uber, semua bisa jadi besar karena belum ada regulasi untuk ride hailing. hampir setiap kebijakan pemerintah di seluruh dunia sifatnya selalu reaktif (bukan proaktif) terhadap startup — setelah startup hadir dan menjadi besar, barulah regulasinya disesuaikan.
Blackberry pernah membuat yang namanya App World (seperti playstore / app store), tapi momennya terlambat. jadi: momen itu penting.
3. ambisi pertumbuhan tinggi.
kalau founder mau perusahaan bertumbuh cepat, artinya dia akan melakukan apa saja untuk mencapainya. termasuk seperti menerima investasi, yang akan mengurangi porsi kepemilikan si founder di startup.
uang dari investasi dapat dipergunakan untuk operasional, untuk membuat perusahaan jauh lebih besar dari kompetitornya. siapa yang bisa menguasai market share akan bisa menghasilkan keuntungan luar biasa darinya.
ada salah 1 perusahaan hebat yang berdiri di tahun 2010an, sebenarnya dia berpeluang untuk menjadi market leader & unicorn. sayangnya perusahaan ini berpuas diri dengan pertumbuhan yang sudah ia capai, meski ia telah memimpin untuk level nasional.
tidak lama, ada perusahaan ke-2 dengan backing investor yang lebih besar, menyalipnya menjadi perusahaan unicorn. sekarang beroperasi di level asia tenggara.
perusahaan pertama yang berada di level nasional ini tetap sukses, tapi kesuksesannya berkali-kali lipat di bawah perusahaan ke-2 dengan ambisi asia tenggara. seperti kata warren buffett, complacency adalah musuh dari setiap perusahaan yang sukses.
yang namanya ambisi itu tidak pernah cukup tinggi. dan musuh ambisi, adalah complacency (rasa berpuas diri.)
4. komitmen team tinggi.
extra effort akan menentukan apakah startup akan bertumbuh x%, atau x+ 10%, atau bahkan x+20% per tahun.
team wajib bersedia melakukan apapun untuk kelangsungan hidup perusahaan, termasuk dapat gaji yang lebih kecil supaya perusahaan bisa tetap hidup.
kompensasi team haruslah lebih berdasarkan performa di masa depan, daripada kompensasi untuk effort hari ini.
5. struktur kepemilikan perusahaan yang berimbang
untuk memberikan insentif bagi team, artinya founder harus membagikan opsi saham ke team. ini artinya juga mengurangi porsi saham founder-nya. memberi return finansial yang lebih kecil bagi founder.
dengan semakin banyak saham yang diberikan ke team, semakin tinggi rasa kepemilikan team terhadap perusahaan. team akan memperjuangkannya lebih keras. opsi saham juga akan menarik talenta-talenta terbaik ke perusahaan, karena semua orang ingin sukses.
sistem stock option memberikan janji pada team bahwa mereka akan mulai mendapatkan saham perusahaan setelah lewat masa tertentu (masa cliff biasanya 1 tahun). jadi perusahaan bisa memberikan stock option ke team, melihat anggota team mana yang tidak bekerja keras, dan kalau sebelum 1 tahun hasil kerja personil tersebut tidak memuaskan, ia dapat dikeluarkan tanpa mendapatkan saham apa-apa, ditukar dengan anggota team yang baru.
kerja keras owner tipe perintis & pegawai upahan pasti beda. owner bisa bekerja di hari libur bahkan larut malam. pegawai upahan hanya pada jam kantor, itupun kalau tidak bersantai-santai. semakin porsi kepemilikan disebar ke banyak orang, kemungkinan sukses perusahaan meningkat lebih jauh — karena yang berkomitmen pada bisnis bukan hanya foundernya saja.
founder yang serakah mau punya kepemilikan perusahaan sebesar-besarnya, akan menyebabkan komitmen team jadi rendah. akhirnya perusahaan gagal. TaniH** misalnya, memiliki 6 cofounder, dengan skill yang saling melengkapi. bayangkan sebuah bisnis yang hanya dikerjakan oleh 1 owner berkomitmen, dengan bisnis yang dikerjakan oleh 10 owner yang berkomitmen — kira-kira lebih gampang sukses yang mana?
NinjaVan, founder-nya rela masing-masing cuma punya kepemilikan perusahaan 3%. tapi perusahaannya bernilai tinggi. 5% kepemilikan founder dari perusahaan yang sukses, itu lebih bernilai daripada 90% kepemilikan dari startup yang tidak sukses.
6. skalabilitas
perusahaan bisa di-skalakan dengan sangat luas. bisa ekspansi ke area-area geografis baru. bisa mengerjakan layanan-layanan bisnis baru.
tidak semua bisnis bisa melakukannya, meskipun mereka ingin sekalipun. misalnya, bisnis bertipe proyek, susah di scaling, karena:
- biaya replikasi tinggi,
- adanya kebutuhan atas keahlian spesifik tertentu.
bisnis yang bisa di-scaling adalah bisnis yang variable cost-nya rendah.
untuk fix cost yang tinggi sebetulnya tidak jadi masalah — karena fix cost ini nantinya akan menurun drastis ketika terjadi economies of scale. economies of scale itu seperti ketika volume penjualan menutupi biaya pengembangan awal (fix cost), yang hanya perlu dilakukan satu kali saja.
apabila bisnis bisa menerima sistem afiliasi atau reseller, ini akan memungkinkan untuk memperluas market secara luas. ketergantungan terhadap lokasi menjadi kecil.
contoh bisnis non-lT yang dapat di-scaling secara pesat adalah bisnis makanan dan bisnis kursusan. bisnis-bisnis yang bisa di franchise, seperti laundry. bisnis kurir, bisa juga.
penutup
jadi, hanya perusahaan-perusahaan yang memenuhi 6 karakteristik tersebut, akan bisa bertumbuh pesat sebagai startup. tidak harus startup IT, tetapi biasanya memang startup IT punya banyak keunggulannya.
sedangkan perusahaan yang tidak memiliki 6 karakteristik ini, mungkin lebih cocok jadi perusahaan biasa, bukan startup.
ke-6 karakteristik startup tersebut, dapat dilihat pada foto kubus pertama. yang memenuhi kriteria startup yang ideal, hanyalah pada bagian kotak kecil yang merah saja.
hanya perusahaan berjenis startup saja yang bisa bertumbuh dengan pesat, dan memberikan ROI luar biasa besar bagi investor tahap awal mereka.