4 Level Manusia menurut Tahir 17 min read
Selamat malam, Bapak-bapak, Ibu-Ibu.
Tadi di sini saya dengarkan majunya teknologi.
Ada berapa yang saya kurang setuju, tetapi saya akan sharing.
Memang benar teknologi akan mempengaruhi kehidupan manusia.
Tapi hari ini sharing saya bukan teknologi, tapi di manusia-nya.
Banyak orang mengatakan bahwa “be yourself”, “jadilah dirimu”.
Ini banyak orang merasa filosofi ini adalah benar.
Tapi hari ini saya katakan itu adalah salah.
Saya bagikan manusia pada 4 level, 4 jenjang.
1. Manusia “Be Yourself”
Manusia terendah adalah manusia be yourself.
Satu hari ada direktur perusahaan saya datang ke kamar saya, mengatakan bahwa dia ingin cuti 1 bulan.
Karena dia direktur yang berkuasa, saya tertawa-tawa dan tidak menjawabnya.
Saya ajak dia ke jendela saya, saya ajak dia lihat ke bawah.
Di bawah banyak tukang ojek, di bawah banyak manusia yang mendorong kereta, menjual barangnya.
Harus cari makan.
Saya bilang sama direktur saya, “anda cuti 1 bulan alasan anda adalah stres”.
Tetapi orang-orang di bawah itu, yang jualan itu, yang jual ojek, dia tidak pernah tahu di kamus dia ada kata-kata stres.
Yang dia tahu adalah, kalau hari ini saya tidak taruh ojek, kalau hari ini saya tidak jualan, maka anak saya tidak bisa sekolah.
2. Manusia “Somebody else” (Tanggung Jawab)
Maka manusia tingkat yang keatas lagi, adalah manusia dikontrol oleh tanggung jawab.
Bukan be your self, tapi be somebody else.
Tanggung jawab adalah jauh lebih tinggi dari kesenangan anda, dari hobi anda.
Manusia hidup bisa ? kalau kita lihat sekeliling kita.
Karena manusia selalu memutar balikkan tujuan hidup dan perasaan hidup.
Banyak orang mengatakan: menjadi presiden adalah tujuan hidup saya; menjadi orang kaya adalah tujuan hidup saya; menjadi seorang profesor adalah tujuan hidup saya; menjadi menteri adalah tujuan hidup saya. Sampai pun menjadi orang terkaya di dunia itu tujuan hidup saya.
But I’m telling you now, it’s wrong.
Itu semua bukan tujuan hidup; itu adalah prasarana hidup.
Tujuan hidup manusia, the objective of life, adalah untuk menciptakan nilai tambah, dan menciptakan kesejahteraan untuk banyak orang. Inilah real objective of life.
Kenapa manusia bisa jadi menteri korupsi, kenapa jadi pejabat dewan korupsi, menjadi bupati korupsi?
Karena mereka merasa bahwa, tujuan mereka hidup adalah menjadi bupati.
Sehingga begitu tercapai, dia kehilangan arah, dia tidak tahu lagi bagaimana menjalankan hidup, karena dia sudah sampai ke kepada peak-nya. Sehingga dia mulai memikirkan, apa yang mudah, apa yang enak menjadi seorang bupati, dia itu menjual belikan jabatannya. Maka terjadilah korupsi di sana.
Objective of life, ingatlah saudara-saudara, kita menciptakan nilai tambah, kita men-create suatu kebahagian untuk banyak orang.
Banyak orang tanya saya, anda buang uang sini, buang ke sana, sumbang sini, sumbang sana.
Tadi saya baru cerita kepada Dino, saya baru cerita sebuah rahasia, saya berikan wakaf.
Cuma cukup besar, 100 miliar. Dino kaget, apa benar? Saya bilang benar.
Kenapa tidak pernah banyak orang tahu? Saya bilang, itu adalah beban hidup saya.
Saya ke-refugee, saya dua kali ke perbatesan Irak dan Jordan.
Terakhir tahun yang lalu, saya rayakan ulang tahun di ?.
Di sana baru saya sampai, diberi tahu bahwa seminggu lalu dibom.
Orang tanya sama saya, how do you feel?
Saya bilang, to be honest, I’m very scared. Tetapi, saudara-saudara, saya selalu punya keyakinan. Bukan hanya tanggung jawab.
Kalau, satu hari saya meninggal dalam perjalanan kementerian, saya kira jauh lebih terhormat daripada saya meninggal di Alexis.
Itulah, suatu tanggung jawab yang menjadi sampai orang yang satu kelas naik, be your self.
Saya hanya kasih tahu, bapak-bapak, ibu-ibu, saudara-saudara. Be somebody else.
Tanggung jawablah yang mengontrol hidup kita.
Begitu manusia lahir, dia mendapat sebuah posisi, status, yaitu anak dari sebuah keluarga.
Ada statusnya, ada tanggung jawabnya. Tanggung jawab sebagai anak.
Besar lagi dia masuk sekolah, dia ada status tambahan, status murid dari sebuah sekolah.
Ada statusnya, ada tanggung jawabnya.
Besar lagi dia nikah. Dia dari seorang suami, seorang istri, dia dapat status baru, tapi dia juga punya tangjawab yang baru.
Dia besar lagi, dia punya anak, dia dapat status ayah atau ibu dari anak.
Dia punya status-status, punya tanggung jawab.
Maka, tanggung jawab adalah orang yang telah jauh lebih tinggi daripada kerja sesuai selera.
Saya tau teknologi memang selera, memang adalah ujian, tetapi kalau manusia yang salah, semua teknologi akan menjadi berantakan.
Hari ini saya sharing adalah: “how to become a right man”.
Ini penting bagi kita semua yang duduk di sini.
Tanggung jawab menguasai saya. Tapi ini bukan yang tertinggi.
Karena kita tanggung jawab, kita kerja keras, kita observe.
Saya kasih tau Anda, tadi ada satu kata-kata mengatakan sekarang anak muda tidak mau di batasi waktu.
Saya kasih tahu, saya umur bakal 66. Saya bukan orang disiplin, tapi saya super disiplin.
Saya tiap pagi on time, 5.30, the latest 5.45. Saya baca tujuh koran: mandarin, inggris dan koran Indonesia.
Rata-rata, seluruh kejadian di dunia ini — kenapa saham jatuh di New York, mengapa FED akan menaikkan bunga, bagaimana policy dari Paul FED yang baru — saya kuasai.
Semua kejadian — baik itu military, politik, culture — saya pelajari.
Why? Karena ada tanggung jawab pada diri saya.
Saya want to be the best. Saya tidak mau jadi orang normal. Saya ingin lebih baik daripada normal.
Maka selain itu saya masuk kantor jam 8, lebih pagi dari direksi, lebih pagi dari sekretaris.
Saya pulang jam 6, saya jarang hangout malam, hidup saya datar.
Menurut Anda mungkin a dull life. Tidak. Saya hidup saya solid.
Banyak pemikiran, banyak kerja, perlu saya selesaikan. Saya tidur jam 9 sampai 10. Saya tidak merasa down. Saya merasa saya I have a solid life. Karena begitu besar tanggung saya.
Anda perlu tahu, setiap kali ada bencana di Indonesia, saya pasti di lokasi.
Mulai dari Sinabung, gempa di Padang, gempa di Jogja, banjir jawa tengah, banjir di menado.
I’m always there. Tidak pernah canggung.
Saya bangun multi-building di Aceh. Kurang lebih makan 20 miliar.
Saya kerja sama sama Ibu Kofifah.
Saya orang Kristen.
Kalau pemikiran saya sempit, ngapain saya ke Syria? ngapain saya ke Jordan? ngapain saya ngurusi di Aceh? ngapain saya ngurusi gereja saya? It’s wrong.
Karena saya bukan hidup pada flavor. Bukan hidup pada hobby. Saya hidup karena tanggung jawab.
Dan suatu hari, tanggung jawab ini, naik ke atas, yaitu orang tingkat kedua, yaitu menjadi outstanding di bidang dia.
3. Manusia Outstanding
Pak Dino, outstanding di bidang diplomasi; dia sebuah seorang diplomatik yang sangat canggih. He’s good. Karena upayanya, karena kerja kerasnya, tidak hanya tanggung jawab.
Orang kerja 8 jam, dia kerja 8 jam lebih 5 menit.
Orang kerja 8 jam, saya kerja 8 jam lebih 10 menit.
Orang baca 5 koran, saya baca 6 koran.
Orang dia TV 1 jam, saya 1 jam 5 menit.
I always want to do the best.
Inilah, menjadi satu hari saya yakin. Anda menjadi awesome, menjadi outstanding di bidangnya.
But tonight, I’m not talking the same level. I’m talking the best level of the humanity, that is visionary.
4. Manusia Visionary
Only visionary can change the world.
Hanya orang yang punya visi yang bisa merubah dunia ini.
Rubah dunia ini bukan teknologi. Rubah ini, rubah dunia tidak cukup dengan kerja keras.
Anda harus memiliki seorang, menjadi seorang manusia yang memiliki visi.
Visi, bukan sesuatu bisikan.
Jumat Kliwon saya dengar ada bisikan.
lalu Tuhan melalui malaikat kasih tau saya: bayang-bayang, mimpi-mimpi. saya tidak percaya itu.
Visi, adalah sebuah penglihatan. Karena jerih lelah Anda, karena Anda kerja keras, sehingga Anda akan melihat sesuatu, 100 langkah lebih jauh daripada orang lain. That’s called your vision.
and this vision control your life.
Maka visi ini akan merubah, mengawasi, menguasai hidup saya.
Hidup saya adalah di bawah visi ini.
Banyak orang tanya sama saya. Ketua partai tanya sama saya, pejabat tanya saya. “What do you want from this country? There is no free lunch.”
Saya bilang, “yes, in the life, there’s no free lunch. But, in this country, I have eaten the lunch.”
Saya telah makan siang. It’s the time for me to give it back.
Dua bulan lalu, saya didampingi Pak Dino, ketemu Bu Sri Mulyani.
Saya beritahu dia, saya bilang ke bu menteri, “bagaimana kalau saya persembahkan harta saya 10 persen untuk negara? what do you think?”
Dia kaget. Dia bilang, “ini Pak main-main atau gimana?”
Kalau harta dia ada 30 triliun. Maka 3 triliun dia sumbangkan.
Tapi, saudara-saudara, saya hidup bukan karena hanya tanggung jawab. Saya hidup adalah visi.
Waktu saya ajak Bill Gates ke Jakarta, kita diwawancara oleh Desi Anwar, senior journalist, dia tanya saya satu pertanyaan: “memang Pak Tahir kalau suatu hari menjelang nafas terakhir, what do you want to be remembered?”
Saya jelaskan, I have nothing to be remembered.
Tetapi saya mau lihat 3 hal dalam hidup ini sebelum saya menghadap Gusti Allah.
Pertama, saya harus yakin ibadah saya berkenan di hadapan Dia. Saya harus yakin bahwa bekal yang saya bawa cukup untuk menghadapi sang Pencipta.
Kedua, saya ingin kehadiran saya di negeri ini bisa membawa sedikit ke perbaikan untuk kesejehateraan rakyat Indonesia.
Inilah saya ingin melihat, makin saya keliling, saya tidak pernah takut (?).
Banyak orang mengajakan sosial work itu adalah CSR. Sosial work adalah persepuluhan, sosial work ada sedekah.
Saya tidak setuju. Sosial work, filantrofi, tolong dicatat: adalah sebuah komitmen terhadap hati nurani Anda.
Apakah usaha Anda maju atau hari ini tidak untung begitu banyak? Tetap Anda komit.
Hari ini saya rugi, tetap saya komit. Tidak dipengaruh oleh mood saya.
Hari saya tidurnya enak, saya ingin membuat lebih banyak. Lalu saya hari kurang mudah, kurang bagus. Semalam baru ribut sama istri saya. Maka saya hari ini tidak mood.
It’s a commitment to your conscience. Itu sudah sebuah komitmen untuk hati nurani Anda.
Baik atau tidak baik, hujan atau tidak hujan, apakah Anda dalam keadaan senang tidak senang, selalu menjadi komitmen.
Maka itu saya ingin lihat, bahwa kehadiran saya, saya orang Indonesia, saya orang Indonesia asli, karena saya lahir di Indonesia.
Saya selalu beritahu kepada teman-teman, kata pribumi bagi saya adalah perilaku, cinta bumi Indonesia.
Itu adalah pribumi. Maka itu saya pribumi. Saya bukan orang Jawa meskipun saya lahir di Surabaya. Saya bukan keturunan.
Memang keturunan saya tidak bisa menghindar karena itu takdir. Tapi saya seorang pribumi. Pribumi yang sejati. Maka saudara-saudara saya ingin lihat, bahwa satu hari ?, ada kehidupan dari masyarakat Indonesia oleh karena saya diperbaiki.
Waktu saya kedatangan wakil dari Belgium. Di hadapan saya, saya tanya dia.
Dia bilang ada orang bule dari Amerika. Saya selalu kedatangan bule, saya (?) karena bahasa Inggris saya kurang bagus.
Maka saya ngobrol di kamar saya, saya tanya, “you ngapain sih datang sini?”
Dia bilang, saya dengar informasi, maka saya mau datang ketemu anda.
I “say what do you want?”
Dia bilang, begini: “Bill Gates mengajak, bagaimana kalau Bill Gates keluar $1, anda juga keluar $1?
Match, kalau saya tanya langsung, untuk siapa?
Dia bilang, 75% untuk Indonesia, 25% untuk polio fund di seluruh dunia.
Saya hitung-hitung, eh semi profit, karena saya keluar $1, saya dapat setengah dolar dari Bill Gates untuk Indonesia. Saya bilang, oke.
Kalau saya setuju. lalu kita cerita jumlah. bahasa inggris saya ini kurang bagus. Sebetulnya saya mau ngomong one million. Tapi saya salah ngomong.
Saya ngomong one hundred million.
Giliran orang bulenya kaget. Orang bulenya agak canggung. Dia bilang, wah saya nggak bisa ambil keputusan. Saya pulang mau kasih ke Bill Gates.
Sebulan kemudian, Bill tulis surat pribadi ke saya.
Dia bilang, mari kita sign. Very interesting. Lalu kita sign.
Waktu saya sign, dubes Indonesia untuk UAE, karena saya sign di Abu Dhabi.
Kita cari jarak yang tengah. Bill Gates terbang Abu Dhabi.
Saya Indonesia terbang Abu Dhabi. Tanda tangan di sana. Dubes ini Pak Salman.
Sekarang mau jadi dubes Afrika Selatan.
Dia kasih satu pertanyaan. “Pak Tahir, apa you nggak sayang $100 million dikeluarkan? Itu uang besar. Saya mulai mikir ya. Ini $100 million, betul-betul besar. Saya nggak pernah lihat uang besar banyak, saudara-saudara.”
But its already — apa — sudah teranjur diutarakan. Dan sudah terlanjur tanda tangan.
Tapi saya bilang sama Pak Salman.
Pak Salman. Saya lahir di Surabaya. Saya orang tidak mampu. Dari muda saya selalu berangan-angan.
One day, I will do for my country. One day, if I had money I’ll give away my money.
Dan hari ini Tuhan sangat berkati saya. He made the thing happened.
Jadi hari ini adalah hari yang paling suka cita untuk saya.
Saya bisa berbuat sesuatu atas nama saya, atau keluarga saya, for my country.
Maka saya bukan merasa sayang. Tapi saya merasa begitu joyful, overwhelming joyful.
Bahwa itu adalah kasih karunia dari sang pencipta diberikan ke saya. Visionary can change the world.
Saya harapin dari 3.000 orang ini, mungkin ada anak muda.
Suatu hari akan jadi orang yang punya visi.
Hanya visilah yang bisa merubah nasib Indonesia. Maka kita tahu bahwa pendidikan bisa merubah Indonesia, karena orang kaya menguasai teknologi.
Semua yang dibicarakan Pak Dino, itu miliknya orang kaya.
Tidak ada miliknya petani. Tidak ada miliknya buruh di Tangerang. Tapi semua miliknya orang kaya.
Anak petani. Anak buruh. Tidak mungkin ke Harvard. Tidak mungkin bisa ke Stanford.
Maka yang miskin, akan lebih miskin. Yang kaya akan lebih kaya.
Maka pendidikanlah yang bisa merubah Indonesia.
Saya kebetulan duduk di Wali Amanat UGM. Saya terus kasih tahu rektornya:
Harus ada informasi. Bentuk vokasi. Bentuk research center. Tingkatkan gajinya profesor. Pak profesor suruh bikin journal. Profesor suruh ikut conference. Maka universitas ini 20 tahun kemudian akan luar biasa.
Tidak cukup dengan 200-300 di Abu Dhabi, harus top 100.
Bukannya UGM, Airlangga, UI. Semua harus bisa masuk top 100.
Karena pendidikanlah yang bisa merubah nasib kita.
Hanya melalui pendidikan, maka orang Indonesia bisa berdiri.
Bisa menjadi top, tahun 2050 bisa top 4. Kalau tidak, itu hanya slogan.
Saya kasih tahu. Saya dulu sebagai Wali Amanat. Saya kasih tau para Wali Amanat.
Ketuanya Bapak Pratikno.
Saya bilang, saya kasih beasiswa untuk top 5% student SMA di seluruh Indonesia.
Kalau masuk UGM yang top 5% student, dan yang terima UGM, saya kasih full scholarship.
Biaya hidup, biaya sekolah.
Dan kalau lulusnya bagus, saya kirim lagi keluar negri. Full scholarship.
Kalau kita punya visi, kita melihat visi ini, dan visi ini menguasai hidup saya.
Maka saya yakin, another 20 years, bukan teknologi.
Tapi manusia Indonesia akan merubah nasib ini. akan merubah.
Maka sodara-sodara, visionary can change the world.
Tadi di dalam slide-nya, apa itu short video yang dibuat oleh Taiwan University untuk hadiah.
Waktu saya dikasih gelar doktor honoris causa, di sana saya beritahu.
Bahwa manusia di constitute dari 4 hal. 4 hal ini tidak bisa dipilah –tapi satu kesatuan, blending.
Pertama. Kita loyal terhadap religious kita.
Terhadap ibadah kita. kita loyal, kita faithful. apapun keadaannya.
Kita tidak tergantung, kalau keadaan enak kita puji syukur, kalau keadaan ga enak kita tidak.
Ibadah, adalah hubungan saya pribadi yang paling dalam dengan sang pencipta.
Bukan agama. Bukan ditonjolkan. But it’s very important for me. Untuk Ibadah saya.
Kedua. Saya faithful terhadap keluarga saya.
As a father. As a grandfather. As a children of my mother. I’m faithful to the family.
Saya berikan yang terbaik untuk keluarga saya.
Suatu hari adik saya beritahu kepada saya, bahwa dia sakit kanker. sudah sembuh.
Dia doa (usianya tinggal) 15 tahun. Sekarang sudah 13 tahun. dia mulai grogi. ini 13 tahun. gimana nanti? hampir 2 tahun lagi. apa Tuhan masih mau perpanjang?
Saya bilang sama adik saya: You relax. you will get healed.
why?
bukan suatu mujizat, but I have prayed to the God.
I give my life to my sister, I don’t mind my life change for your life.
Maka saya take care of my family. I faithful to my family.
Ketiga Saya faihtful kepada karier.
Karier bukan segera cari uang. saya selalu beritahu saudara-saudara:
Bahwa suatu kayu, kalau kayu ini anda lempar ke api, menjadi bahan bakar.
Tapi kalau kayu ini anda uki, anda taruh di dalam art shop, dia akan dibeli orang puluhan juta, ratusan (juta) rupiah.
It depends on you. Malam ini terserah kalian. Kalian pilih: apakah kalian adalah bahan bakar, atau kalian adalah suatu art. It’s up to you Semua pilihan di antara kalian sendiri. You have to make up your mind. You mau hidup.
Orang sering ngelamar kerja, cari menjadi marketing; setiap [kali] orang ini ngelamar, [dia jadi] marketing.
You itu alasan apa kok marketing?
Karena kalau kerja gak ada waktunya.
Dia bisa curi waktu, dia bisa ngobrol-ngobrol temennya, tidak usah lapor. tidak usah absensi.
But you are wrong. you tidak sengaja, you telah merusak, you punya suatu konstitusi. Bentukmu sendiri.
Bawa kita sebagai kontainer yang kosong di hidup ini, apa yang anda isi dalam hidup.
Kalau anda isi kejujuran. anda isi dengan kerja keras. anda isi dengan ketulusan. yakinlah suatu hari kontainer akan terang.
Tapi kalau anda isi dengan tipu muslihat, dendam, dengki, kemarahan. malas. Saya jamin, bahwa kontainer ini tidak mungkin bisa bersinar.
Maka hidup kita yang pilih. kita faithful terhadap karya kita. Karena karier itu bukan sekedar cari ruang, karier bisa menciptakan lapangan kerja. bisa ciptakan suatu nilai tambah untuk negeri ini.
Kita kerja karena kita perlu uang. Saya tidak seperti Jack Ma, mengatakan saya sekarang sudah kaya, saya gak perlu uang.
I need so much money. Saya perlu uang sangat bagus. Karena saya tau masih banyak begitu orang menerlukan di hidup ini. Terlalu banyak, saudara-saudara.
Tiap hari saya terima sepuluh permohonan. Kalau anda baca Medsos …
Di Makasar, 5 jam dari Makasar. Saya juga dilihat dari Medsos. Ada satu anak kecil.
Dia yang membiayain umur baru berapa? Tiga atau empat.
Membiayain ibu yang sakit dan adik-adik yang cacat.
Saya lihat itu. Saya langsung telepon pimpinan cabang saya.
Dia berangkat. Dia cari desa itu. Tertai itu 5 jam dari Makasar.
Dan sekarang kita rawat.
Maka itu saya banyak kerjanya. Bukan kerjanya hanya mikirin untung rugi. There’s a lot of thing.
Tiap hari saya baca SWA. ada yang minta bantuan, ada yang perlu, ada yang di daerah, ada yang di kota kecil yang saya tidak tahu.
Tapi syukur saya punya cabang 200 lebih. Bank Mayapada. Saya bisa suruh pimpinan cabang saya itu bergerak, mencari tahu.
Baru ini ada anak dibuang, autisme. Dibuang anak, orang tua tidak mau, dibuang saja di katedral.
Sekarang saya rawat, saya rawat di autisme, tiap bulan saya hadir. Berat sekali.
Autis anaknya cacat, tidak bisa menguasai diri. lalu saya bilang sama mantu saya, “let me build our own center.”
Sekarang kita lagi bangun Autis center, supaya anaknya saya bisa tampung.
Karena kita mayapada ada rumah sakit, kita bisa merawat mereka.
Saudara-saudara, hidup itu solid. It depends on you. Hidup tidak hampa. Karena Anda mau isi apa?
Karena isi kerja keras. Anda punya visi hidup ini.
Anda tahu bahwa, “this is my vision. and vision control my life.”
Maka hidup ini suka cita. Hidup ini tidak berat.
Saya ini di depan. Bulan depan saya akan ke Jordan, Irak lagi. Sekali ini permintaan UNHCR.
Saya harus ke Beirut untuk urusan Palestinian. Saya oke.
Dan saya datang dari UNHCR Swiss. Minta bahwa nanti repatriasi kembali yang Siria kembali negaranya.
Minta saya punya punya ?. Ada di kota Siria. Saya juga oke.
Padahal, saudara-saudara, saya bisa tidak oke.
Saya bisa simpan uang itu, untuk kenikmatan pribadi saya, untuk keniknimatan anak-anak saya, untuk kenikmatan keturunan saya.
But. Saya adalah orang yang punya visi, saya hidup bukan sekedar itu. This vision control my life.
Anda perlu tahu; there’s no Indonesia; no Tahir.
Kalau hari ini harta saya. Saya kembalikan kepada negeri ini.
Itu adalah konsekuensi dari sebuah logika.
Tidak ada hal yang aneh, tidak ada hal yang khusus, tidak ada hal yang perlu disombongkan.
Because I get it from here, I give it back to this place.
Sodara-sodara: Visionary change the world.
Saya harap di dalam 3.000 orang ini, maybe — if God give me a bit longer life — maybe 10 years later, saya ketemu Anda lagi.
You’re somebody. You are extraordinary. Your are not normal people.
Don’t be normal people. Jangan jadi orang biasa. Jadilah orang luar biasa.
This is the vision. The vision control our life.
Saya ambil conclusion. Sodara-sodara: it’s a joyful Pak Dino to share this.
Saya lihat future. Future robotics. Industrial revolution 4.0. Mungkin sekarang Jerman yang lebih paling deket dengan 4.0. Belum sampai 4.0. Mungkin 3.8. 3.9. Robotic.
Everybody talk robotic. Everybody focus on. Tetapi come back to the person.
Kalau manusia tidak benar, kalau manusia ini tidak baik, maka semua teknologi akan menjadi bencana.
Kalau kita tidak tetapkan dengan benar, objective of life, tujuan kita hidup dengan benar,
maka semua teknologi tidak banyak nilai tambahnya.
Let us be somebody else, for this country, beautiful country, let we be a future leader.
Saya berjanji. Saya akan merubah nasib negeri ini.
Kalian janji. Kalian akan merubah nasib bangsa ini.
Then, in this year, we are sure: on the 2050 — We’ve been number 4 in the world.
God bless us. Thank you.