Mengevaluasi kinerja team tahap awal 3 min read

salah satu hal yang paling menantang dalam startup adalah, bagaimana mengetahui orang mana yang performanya bagus dalam team, dan mana yang tidak. baik itu employee, maupun rekan cofounder lain.

siapa yang benar-benar memberikan dampak, siapa yang berkembang, dan siapa yang ternyata justru menjadi beban? yang berbicara belum tentu berkontribusi. yang diam belum tentu tidak berkontribusi.

menjadi founder startup itu punya tekanan untuk mencari pendanaan. punya tekanan untuk mengerjakan task pribadi. dan tetap harus bisa mengukur performa setiap anggota team.

hal pengukuran performa ini akan mudah dilakukan kalau task yang dilakukan adalah task yang dapat diukur berdasarkan KPI tertentu. tapi banyak kali task itu belum tentu bisa diukur dengan adil.

misalnya, kalau sales, bisa langsung kelihatan dari berapa jumlah revenue yang masuk. tapi beberapa hal lain akan bersifat research, pembelajaran, dan pembuatan dokumen, mungkin akan jadi lebih sulit.

hal-hal yang intangible seperti brainstorming, validasi ide, membangun pondasi teknis — ini semua tidak langsung terlihat. kalau yang diukur dan diberi reward hanya berdasarkan hasilnya saja, semua hal intangible ini akan mati. padahal ini semua juga diperlukan.

apalagi pekerjaan programmer, menilai programmer itu sulit dilakukan dengan tepat. hasil source code yang lebih pendek belum tentu si programmer tidak bekerja, karena bisa jadi source code pendek itu justru lebih efisien. ini bukannya pertanda malas, tapi bisa jadi justru hasil efisiensi selama berminggu-minggu.

team riset bisa butuh waktu berhari-hari untuk menghasilkan satu keputusan penting yang menentukan arah produk. dokumentasi yang sepele bisa menjadi pondasi penyelamat dari kekacauan di masa depan. hasil code programmer bisa membawa stabilitas dari sistem. kalau yang dinilai hanya output saja, kontribusi-kontribusi dari hal yang terlihat sepele seperti ini bisa tidak dianggap masuk ke dalam hitungan.

Kompensasi

tidak mungkin juga kita selamanya jadi polisi buat team, yang mengecek setiap detailnya, karena kita juga ada pekerjaan sendiri. masalahnya kalau kita memberikan kompensasi yang lebih besar pada anggota team yang ternyata kerjanya kurang, tentu anggota team yang lain tidak akan puas.

karena kalau mau jadi polisi buat karyawan, berapa banyak energi yang siap anda habiskan? belum lagi ketidakpercayaan yang akan terbentuk di mata karyawan.

awal-awal mungkin masih mudah untuk adil, kalau ada 10-20 orang.
tapi begitu perusahaan berkembang ke 50 orang, akan mulai pusing.
100 orang, apalagi.

mau kompensasi setiap anggota team diset sama rata — juga bukan hal yang ideal. manusia itu makhluk yang mudah iri hati. kalau ia melihat orang lain bisa bekerja ringan dan mendapatkan kompensasi yang sama, ia tidak akan termotivasi untuk bekerja keras.

satu-satunya jalan yang mungkin, ya, cuma bisa berusaha melakukan sebaik-baiknya, selebihnya, separuh tutup mata. tutup mata bukan karena menyerah, tapi karena memang tidak mungkin mengontrol segala sesuatunya sekaligus. sambil berusaha dari waktu ke waktu mencari metric untuk mengukur kinerja yang pas.

pada akhirnya yang harus diterima adalah, kemungkinan bahwa ketidakadilan itu pasti akan terjadi. tidak semua kontribusi akan bisa dinilai dengan akurat.

bagaimanapun semua kepusingan itu harus dilalui, semua itu adalah bagian dari membangun perusahaan tahap awal. karena kalau tidak melewati tahap ini, tidak mungkin startup selanjutnya akan bisa berkembang dengan pesat.

ketidaksempurnaan yang menyakitkan ini, mau tidak mau akan menjadi bagian dari pekerjaan founder.

“but he who dares not grasp the thorn
should never crave the rose.”



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *