Peran dokumen dalam bisnis 3 min read
mengerjakan startup itu bisa dimulai dari persiapan yang minimal, atau dari persiapan yang lengkap.
startup bisa dikerjakan dengan gaya umkm, seperti PT milik seorang teman, yang omzetnya sudah miliaran setiap bulan, tapi bahkan dokumen buat perjanjian pekerja saja tidak ada — terlebih lagi dokumen yang lainnya.
tetapi startup juga bisa dikerjakan dengan gaya korporasi: ada kelengkapan berbagai macam dokumen untuk kepentingan segala macam hal.
saya termasuk yang berusaha mempersiapkan startupku dengan lengkap.
dari dokumen perjanjian pegawai, perjanjian vendor, perjanjian investor, perjanjian cofounder, dokumen stock option, dokumen investor updates, sampai dokumen seperti kenaikan gaji, dokumen teknis, dan lain sebagainya.
power in agreements
sebagaimana hukum, klausul yang ditulis dalam dokumen adalah power. kekuatan.
apa yang tidak sempat terpikirkan dan tidak sempat dituangkan ke dalam dokumen, ini nantinya akan bisa jadi bom waktu.
kalau suatu hal sudah tertulis pada dokumen, maka cara penanganannya jelas. tata caranya jelas. hal apa yang dilarang, apa hak & kewajiban masing-masing pihak, siapa yang salah, dan bagaimana cara penanggulangannya. tidak akan menjadi bom waktu.
tapi bikin dokumen yang lengkap itu pusing. segala macam hal harus dipikirkan.
contoh pada dokumen perjanjian kerja
di sini saya tidak mendukung atau menolak, hanya mengemukakan topik.
dalam dokumen perjanjian kerja,
apakah boleh sesama karyawan menjalin hubungan kasih dalam 1 perusahaan?
antara manajer dengan bawahan? bagaimana kalau yang menjalin kasih ini beda divisi?
kalau si karyawan ternyata pendukung LGBTQ gimana? atau kalau karyawannya adalah LGBTQ?
kalau si karyawan memakai rok mini boleh tidak? kalau burqa? kalau tato?
kalau terjadi pelecehan seksual? kalau karyawan mengambil ijin dadakan pada hari yang penting?
kalau karyawan mengambil cuti beberapa minggu karena pasangan hidupnya sakit keras?
kalau karyawan membocorkan rahasia pada pesaing?
kalau karyawan membangkang tidak mau mengerjakan instruksi pimpinan bagaimana penanganannya?
ini baru detail perjanjian kepegawaian. belum berbagai macam hal lainnya yang pada dasarnya bukanlah bidang yang dipelajari di perkuliahan.

Founder-CEO perlu menjadi expert generalist
kalau CEO mungkin tinggal terima jadi sistem yang ada dan melanjutkannya.
tapi menjadi Founder-CEO artinya harus menguasai bagaimana cara mengelola setiap divisi: purchasing, HRD, finance, accounting, public relation, IT, dan lain sebagainya.
bukan hanya mengelola, tetapi juga merancang sistem.
KPI apa yang harus diukur?
bagaimana cara membedakan, atau bisa tahu dari mana kalau pegawai yang 1 lebih berprestasi daripada pegawai yang lainnya?
kalau pegawainya 10 orang masih bisa diawasi, kalau bertumbuh jadi 50? kalau 100?
dokumen = sistem
mau perusahaan di plan dengan baik dengan sistem dokumen yang lengkap, atau mau ditutup sebelah mata — itu semua terserah kita.
dokumen adalah medianya. pada dasarnya yang sedang berusaha dibangun adalah sistem.
sistemlah menyebabkan segala sesuatunya dapat terus berjalan dengan baik tanpa adanya kehadiran kita.
sistemlah yang akan mengamankan ketika ada hal yang melenceng dari apa yang kita harapkan.
ketika saya menekankan pentingnya dokumen, sebetulnya yang penting bukan dokumennya.
dokumen adalah alat.
keberadaan atau ketiadaan sistem-lah yang nantinya akan menentukan hidup mati perusahaan.
sulit bagi suatu perusahaan untuk bisa berkembang dengan baik apabila tidak memiliki dokumen-dokumen yang jelas, karena itu artinya perusahaan tidak punya sistem.
dokumen adalah koentji.
