bagaimana cara membedakan founder dengan swindler? 6 min read
beberapa waktu yang lalu, saya bertemu dengan seorang swindler yang terbungkus dalam kemasan founder.
swindler: orang yang menggunakan tipu daya untuk menguasai uang/harta orang lain.
di publik ia mengaku sebagai founder, tapi kalau bagi saya dia adalah swindler1.
jadi ceritanya,
sebagaimana yang anda tahu dari isi postingan saya selama ini, saya ini orangnya suka berbagi pengetahuan seputar startup ke siapa saja, termasuk ke founder startup lain juga. mayoritas founder lain hanya berbagi kulit-kulit saja, saya sering kali membagikan teknik praktis.
semua pertanyaan di komentar selalu saya jawab, kecuali kalau ada yang secara tidak sadar terlewatkan. saya cukup sering juga ngebantu nge-evaluasi pitch deck founder lain. bagi saya aktivitas membantu orang itu menambah pengalaman dan nge-validasi pengetahuan yang saya miliki.
nah,
beberapa waktu lalu ada seorang founder di medsos, dia punya startup di sebuah negara kecil, di benua yang berbeda. account bisnisnya terlihat cukup aktif dan serius. dari postingannya terlihat ia sedang kebingungan soal penggalangan dana.
konsep startupnya cukup sosial dan bisa berdampak bagi masyarakat, jadi saya berusaha membantu dia.
setelah saya menjelaskan cukup panjang soal fundraising di public, kami lanjut ke private message karena ada hal yang tidak bisa saya sampaikan di public.
saya memberinya cukup banyak nasihat dan langkah-langkah teknis.
dia pada dasamya orangnya cukup ramah. hanya saja, ia seperti tidak ada minat menanyakan lebih jauh tentang pengetahuan yang saya bagikan.
“that” feeling
dan pertanyaan-pertanyaannya selalu to the point seputar investor: bagaimana caranya ia dapat mengakses investor yang kaya raya. dari mana saya bisa mendapatkan investor saya. di mana sumber investor yang mungkin bagi dia. dan sebagainya.
saya merasa seperti ada yang aneh, tetapi tidak sampai curiga berlebihan, karena ia kan memang mencari investor. kemudian selagi kami berbalas pesan (yang memakan waktu beberapa hari, karena saya juga sambil kerja), ia membuat postingan baru di media sosialnya.
tema postingannya tentang modal (capital) dan mentor, yang menyebutkan:
bahwa antara modal dan mentor, ia akan selalu memilih modal.
every. single. time.
red flag
saya langsung merasa ini sebagai red flag.
karena kalau buat saya pribadi, saya akan selalu memilih mentor (yang bagus, tentunya seperti founder dari startup unicorn) daripada modal.
bagi saya, uang seberapa banyakpun tidak akan bisa membantu anda dari membuat keputusan yang benar dalam memimpin perusahaan.
tapi kalau keputusan anda bijak dan benar, anda tidak akan pernah kekurangan uang.
let it go
tapi ya sudahlah, toh sudah terlanjur berkomunikasi dengan founder ini cukup lama juga, jadi seperti apa filosofi yang ia pegang bukan urusan saya, yang penting saya sudah melakukan bagian saya: berbagi pengetahuan.
sepanjang saya bisa membuat dunia lebih baik lewat produktivitas yang tercipta, maka saya merasa sudah memberikan kontribusi positif bagi dunia.
anda juga bisa cek postingan berikut untuk mengetahui dasar pemikiran saya: “mengapa menciptakan produktivitas itu hal yang positif bagi dunia”
sebelumnya di private message saya sempat bertanya kepadanya, apakah dia ada linkedin? ya karena kami selama ini berdiskusi lewat account startupnya.
saya jadi tidak ada bayangan dia cewe atau cowo, usia berapa, latar belakang pendidikan seperti apa.
dia berkata, “lho linkedin buat apa? saya mau berbagi linkedin kalau itu bisa membantu mendapatkan investasi.”
saya berkata kepadanya, “kalau saya adalah seorang investor, ini adalah negative flag. saya ini mau membantu anda, tapi kenapa anda justru mempersulit saya?”
akhirnya dia memberikan linkedin-nya.
tidak ada foto, profil minim, dan ada 2 postingan seputar mencari investor.
saya dengan sabar memberikan saran untuk memperbaiki linkedin-nya, dan tips untuk memperluas networking di linkedin.
pengetahuan
saya menceritakan kepadanya tentang struktur dokumen fundraising yang ideal, seperti presentasi milik saya sebanyak 500 slide powerpoint, atau dokumen perjanjian investasi saya dalam format ms word sepanjang 150 halaman — yang semuanya memakan waktu beberapa bulan sendiri hanya
untuk mempersiapkannya.
saya mengira ia akan ingin tahu dan bertanya tentang hal ini, kalau tidak kontennya ya minimal tanya strukturnya, karena hal ini seharusnya adalah penting.
tapi ternyata ia tak melontarkan pertanyaan satupun. jadi okelah, saya lanjut mengatakan kepadanya,
kalau dia sudah ada pitch deck, akan lebih mudah bagi saya untuk menganalisa bisnisnya, daripada dia harus menjelaskan tak tentu arah.
ternyata dia tidak (belum?) ada pitch deck.
dia menjelaskan bahwa dia butuh uang investor untuk beli peralatan kerja yang harganya mahal, ratusan juta. dan setiap kali dia ekspansi ke lokasi baru, dia harus membeli lagi peralatan kerja ini di lokasi yang berbeda.
saya mengatakan kepadanya, itu bukanlah konsep startup yang baik, karena setiap kali ekspansi butuh injeksi modal besar lagi. juga, kenapa perhitungan dia hanya menampilkan sisi profit saja, sedangkan sisi biaya disembunyikan, temasuk penyusutan peralatan.
dia berkata, “anda tampaknya tidak berminat dan tidak antusias dengan bisnis saya. tapi tak apa, saya akan bisa menemukan investor yang lain.”
dia bertanya lagi, “bisakah anda membagikan investor anda untuk saya?”
dan saya harus mengatakan tidak bisa.
it’s all about the money
ia tidak peduli soal nasihat saya untuk derisking (mengurangi resiko bagi investor), tak peduli soal pengetahuan, tidak mau mendengarkan nasihat.
ia hanya peduli soal mendapatkan uang, uang, uang,
tanpa peduli soal resiko yang ditanggung oleh investor, padahal ia belum punya kapasitas untuk mengelola uang.
setelah saya mengatakan tidak bisa membagikan investor saya, ia langsung nge-remove saya dari friend list dia di medsos, dan tidak pernah membalas pesan saya lagi.
jadi,
tidak semua swindler akan berperilaku seperti dia.
tetapi kelakuan seperti itu sudah jelas menunjukkan bahwa: tidak semua founder startup itu murni founder startup.
sebagian hanya menginginkan uang orang lain saja (swindler).
membedakannya
untuk membedakannya seharusnya cukup mudah.
1. arah pembicaraan.
real founder akan berusaha meningkatkan kapasitas diri. swindler akan condong fokus soal uang.
2. preparation
real founder akan lebih well prepared.
mungkin sudah punya pitch deck, atau kalau belum, akan tertarik untuk belajar membuat pitch deck yang baik. linkedin-nya pun seharusnya juga tak mungkin kosong.
bisnis beraroma swindler
salah seorang team member startup saya pemah bercerita, bahwa sebelumnya ia pernah bekerja di sebuah startup di Jakarta.
jumlah karyawan startupnya ada sekitar 15-20 orang (seingat saya), tapi cara kerja mereka tidak terstruktur. tak ada SOP, tak ada dokumentasi, bahkan tak ada yang namanya perjanjian kerja!
ia mengatakan, bahwa usia startupnya tidak sampai 2 tahun.
waktu tutup-pun tak ada kejelasan bagi karyawannya soal pesangon dan sebagainya, karena perjanjian kerja saja tidak ada.
kadang saya heran: bagaimana mungkin startup-startup gaya koboi seperti itu bisa sampai
mendapatkan pendanaan.
tapi ya, itulah realitanya.
investor memang harus lebih cermat untuk bisa membedakan mana yang founder, dan mana yang swindler. mana yang punya kapasitas, dan mana yang tidak.
because: you will always lose with a swindler.
they will only consume more and more money.
- istilah yang sebenarnya tidak sepenuhnya tepat untuk case ini, tetapi ini adalah istilah pertama yang langsung muncul di benak saya ketika berurusan dengannya. ↩︎