Menentukan valuasi dari startup penjiplak 3 min read

ada banyak startup yang melakukan vertical race: mengejar status unicorn atau jadi nomor
1 di bidangnya. misalnya, dulu belum pernah ada startup di bidang ojek online seperti gojek.
hal ini menimbulkan kesulitan bagi investor untuk menentukan nilai perusahaan startup yang pantas bagi gojek.

tapi tidak jarang juga ada startup yang menjiplak startup yang sudah eksis di pasaran. misalnya, di china sudah ada yang namanya alibaba, yang bergerak di B2B. di indonesia, juga ada beberapa online marketplace yang juga bergerak di B2B, seperti ralali, atau indonetwork.

karena sudah ada company yang menjadi acuan, maka untuk menentukan nilai perusahaan dari yang bergerak di bidang yang sama, apalagi kalau si startup melakukan imitasi penuh, hal ini akan menyebabkan pekerjaan investor menjadi sedikit lebih mudah untuk melakukan proses company valuation.

ada setidaknya 3 cara yang biasanya bisa dilakukan investor untuk memperkirakan nilai dari suatu startup yang melakukan imitasi terhadap perusahaan yang sudah ada, dan dari 3 metode ini akan menghasilkan informasi, yang kemudian bisa disimpulkan, berapa nilai valuation yang pantas bagi startup tersebut:

1. Cost to Duplicate

misalnya sudah ada perusahaan bernama JNE. kemudian ada startup X yang berusaha menduplikasi JNE.

maka investor bisa mencoba menilai, kira-kira startup X sudah sampai tahap mana, dibandingkan dengan JNE. kalau 1/10 JNE, maka mungkin nilai startup tersebut ya bisa 1/10-nya JNE.

yang jadi masalah, cara ini biasanya sering memperhitungkan aset fisik. sedangkan banyak startup yang bergerak di industri digital, sehingga sulit menjadikan metode ini sebagai acuan.

2. market multiple

investor menyukai metode ini. dan day trader tentu tidak asing dengan hal ini.
ada metrik yang namanya P/E Ratio, atau Price to Earnings Ratio.

analoginya misalnya, kalau perusahaan alibaba, misalnya harga sahamnya adalah 75 kali dari earning-nya, maka mungkin marketplace seperti tokopedia (tidak tepat sama karena membandingkan B2B dengan C2C) seharusnya bisa punya harga saham 75x dari earning-nya.

P/E ratio ini juga berhubungan erat dengan istilah “market multiple” (seperti nilai 75x earning tadi).
dan market multiple ini bisa dibandingkan dari berbagai metric. ada yang membandingkan dari sales, ada yang dari revenue, ada yang dari EBITDA.

3. discounted cash flow (DCF)

investor bisa memperkirakan, kedepannya si perusahaan punya cash flow berapa. jadi kemudian bisa dihitung ROI yang diharapkan.

setelah itu, diasumsikan perusahaan akan gagal menghasilkan cashflow yang diharapkan. sehingga, nilai perusahaan hari ini, masih harus didiskon lagi (atau dikurangi lagi) dari ekspektasi cashflow di masa depan.

misalnya cashflow setiap tahun dikurangi seitar 20%, atau sesuai dengan tingkat confidence dari investor. jadi diperkirakan startup mungkin hanya bisa mencapai 80% dari penghasilan optimalnya, dan ditarik sampai dengan sekian tahun ke depan, barulah didapatkan valuasi yang pantas.

penutup

dengan mengetahui bagaimana investor ingin menilai valuation sebuah startup company — apabila sebuah startup memang benar menjiplak satu startup lain yang sudah berjalan di pasaran — maka si founder dapat menyiapkan data yang ada ketika maju proposal ke investor.

sehingga founder tidak perlu bengong atau tidak mengatakan belum tahu datanya ketika diminta data oleh investor, dan menjadi tampak tidak profesional.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *