2 dunia founder: cash poor equity rich 4 min read
seorang entrepreneur, terutama yang ambisius, sering kali hidup secara frugal dan uang yang ia kelola akan lebih dialokasikan pada bisnisnya daripada ke kehidupan pribadinya.
banyak orang kelas menengah yang memiliki rumah & mobil bagus, belum tentu kaya. bisa jadi rumah & mobil bagus itu dialokasikan dari sebagian besar hartanya dan ia tidak memiliki aset produktif.
millionaire next door
buku “the millionaire next door” menceritakan hal ini dengan baik.
bahwa mungkin tetangga kita yang hidupnya sederhana, rumah apa adanya, naik mobil second yang tidak terlampau bagus, sebenarnya adalah seseorang yang kaya raya tetapi memiliki kehidupan yang sederhana.
founder dari startup, kehidupannya umumnya akan mirip dengan entrepreneur, tapi bisa lebih ekstrim. seorang startup founder sangat mungkin memiliki kehidupan yang cash poor, equity rich.
tidak punya banyak uang cash di tangan, tetap nilai saham di perusahaan yang dimilikinya, bisa bernilai sangat tinggi. contohnya adalah Musk yang mendapatkan $180M tetapi menaruh semuanya dalam bentuk equity (saham), dan tidak punya uang cash sampai harus meminjam dari temannya.
“My proceeds from the PayPal acquisition were $180 million.
I put $100 million in SpaceX, $70m in Tesla, and $10m in Solar City.
I had to borrow money for rent.”
founders startup unicorn
atau WT yang sempat bertahun-tahun tinggal di sebuah rumah kontrakan yang harganya hanya belasan juta per tahun di jakarta dan ada bocor-bocor ketika hujan.
pernikahannya-pun dilangsungkan dengan sederhana, dan hanya honeymoon singkat ke jepang: sebuah standar yang rendah bagi seseorang yang kini memiliki harta lebih dari 1 triliun.
atau founder dari sebuah startup unicorn di hongkong (berarti nilai perusahaannya sudah di atas $1B), ia masih tinggal di sebuah apartment kontrak dan tidak punya rencana buat beli rumah, karena sayang akan uangnya dan merasa akan lebih berguna uangnya dialokasikan untuk startup.
perspektif kehidupan yang berbeda
kehidupan yang cash poor equity rich ini memberikan perspektif yang menarik.
di 1 sisi, founder yang memegang posisi pimpinan sebuah perusahaan besar harus berpikir besar dan visioner.
di sisi lain, founder juga menjalani kehidupan sebagai manusia biasa, menjejakkan kaki ke bumi. sering kali makan makanan standar orang biasa, bukan fine dining. rumah belum tentu bagus, juga belum tentu milik sendiri.
founder juga akan mendapatkan gaji dari startupnya sendiri. pemilik startup bukan hanya founder, tapi juga investor, jadi tidak bisa mengeset gaji yang tinggi untuk dinikmati buat hidup seperti entrepreneur umumnya.
gaji founder biasanya cukup hanya untuk sekedar hidup, tapi founder tidak akan bisa jadi kaya dari gaji itu sendiri. karena kekayaan founder nantinya adalah dari equity yang akan dijual belakangan.
(way of the) cash poor
tidak jarang bahwa gaji para eksekutif startup besarnya di atas gaji founder startup itu sendiri — mungkin beberapa kali lipat. sangat mungkin gaya hidup, mobil & rumah para relasi founder (yang merupakan para eksekutif perusahaan) lebih bagus & mewah dibandingkan dengan milik founder sendiri, meskipun sebenarnya si founder lebih kaya di atas kertas.
andaikata ada anggota keluarga founder yang diculik sekalipun, akan sulit bagi founder untuk bisa menebusnya, karena ya, memang founder sering kali memiliki kehidupan yang cash poor. kekayaan founder dalam bentuk lembaran-lembaran saham yang, bukan rekening di bank.
equity (saham) yang dimiliki founder di startup, yaitu perusahaan privat bukan perusahaan publik, sehingga membuat saham dari founder tidak bisa bebas dijual; tidak likuid.
equity dari founder hanya bisa dijual ketika startup mengalami M&A (diakuisisi oleh perusahaan lain) atau IPO (go public) — yang biasanya membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk terealisasi.
(way of the) equity rich
alibaba membutuhkan waktu 15 tahun sampai IPO. tokopedia sudah lebih dari 11 tahun belum juga IPO.
karena:
untuk apa beli mobil mewah yang nilainya pasti akan menyusut, atau beli rumah yang mungkin kenaikan nilainya tiap tahun sering kali tidak sampai 30-40% — apabila equity founder di startup bisa menghasilkan kenaikan 200% – 300% per tahun?
tentu tidak semua founder startup akan berlaku seperti ini. tetapi bagi founder yang ekstrim mengembangkan networth-nya (atau mengembangkan startupnya), ada sebuah kenikmatan tersendiri untuk hidup di jalan sunyi seperti ini.
delayed gratification sometimes can be very addictive.