AI & Numbness 3 min read
AI bisa menghasilkan banyak hal-hal yang hebat.
masalahnya adalah, “hebat” adalah dianggap hebat karena ia tidak biasa.
karena dibandingkan dengan kemampuan manusia sebelum AI.
tapi ketika “hebat” menjadi biasa, apakah ia akan terus dianggap hebat?
numbness of great things
yang sangat mungkin terjadi adalah hebat menjadi dianggap biasa, karena adanya AI numbness (mati rasa). orang-orang jadi mati rasa melihat hal-hal yang “hebat” karena kelewat banyaknya karya AI.
padahal dari banyak hal yang hebat tersebut — bisa jadi beberapa di antaranya adalah sungguh-sungguh dari bikinan manusia tanpa AI — hebat dalam arti sebenarnya karena manusia lain tidak ada yang dapat menghasilkannya.
tetapi karena kita sudah terbiasa dengan AI,
maka hal hebat yang dilakukan oleh manusia, jadi tak terasa hebat lagi.
semakin kemampuan AI dapat digunakan oleh banyak orang,
segala sesuatu yang hebat akan semakin mudah dijumpai dalam keseharian. menjadi biasa.
does greatness need an audience?
Nike pernah bikin slogan:
“Greatness needs a lot of things,
But it doesn’t need an audience.”
but let’s face it.
benarkah kehebatan itu tidak membutuhkan penonton?
apakah anda puas kalau anda bisa melakukan sesuatu yang hebat — tapi tak ada yang tahu?
ini mirip dengan sebuah kisah humor.
seorang pendeta ini memutuskan untuk membolos gereja pada suatu minggu dan pergi bermain golf. ia bilang ke asistennya ia ga enak badan, dan pergi ke lapangan golf di kota lain, jadi ga ada yang kenal.
ia memulai pukulan pertama. angin kencang menangkap bolanya, membawanya sejauh 150m dan menjatuhkannya tepat ke dalam lubang dalam 1 kali pukulan. malaikat memandang TUHAN dan berkata, “untuk apa KAU melakukan itu?”
TUHAN tersenyum dan berkata, “siapa yang akan ia kasih tahu?”
greatness existensial crisis
sesuatu yang hebat itu paling gampang dirasakan secara visual.
para artists yang dulunya extraordinary, sekarang jadi semakin tenggelam di era AI.
kini lebih sedikit yang bisa menghargai karyanya. semua bisa dibikin dengan mudah pakai AI.
tak ada yang tahu bahwa seorang artist hebat itu benar-benar hebat.
yang akan terjadi kemudian adalah existential crisis:
benarkah ini panggilan hidupnya?
benarkah ini hal yang benar-benar mau ia lakukan?
pre-AI numbness
apa numbness yang pernah dilalui manusia sebelum AI?
menurut saya, itu adalah entertainment.
sebelum era android, terlebih lagi sebelum era komputer, orang-orang masih banyak bermain kartu. karambol. halma. bahkan uno.
setelah adanya smartphone, orang tidak pernah kekurangan game. entertainment.
kapan terakhir kali anda melihat orang-orang bermain kartu remi? kalau saya rasanya sudah lama sekali.
game/entertainment overload membuat orang menjadi numb, membunuh permainan tradisional.
the price you pay
segala sesuatu yang overload akan membuat mati rasa.
bagaimana cara membunuh sebuah hobi?
bagi kasus banyak orang: jadikanlah hobi itu sebagai kewajiban dalam pekerjaan.
kecuali anda benar-benar menyukai hobi tersebut, cepat lambat anda akan merasa datar.
saya rasa inilah trade-off dari teknologi AI.
ada harga yang harus dibayar untuk diadopsinya AI secara masal oleh manusia.
dan harga tersebut adalah: greatness numbness.